Share :
TOKOH  DARUD DA'WAH WAL-IRSYAD

AG.KH Sanusi Baco Lc

AG.KH Sanusi Baco Lc

AG.KH Sanusi Baco Lc, yang akrab disapah Anregurutta Sanusi, lahir di Maros, tanggal 04 April 1937, kini memasuki usia 80 tahun. Ulama kharismatik dan Rais Syuriah NU Sulawesi Selatan ini, putra kedua dari enam bersaudara, ibunya bernama Bacce daeng Ratu dan ayahnya bernama Baco daeng Naba seorang agamawan, yang memiliki pengaruh di zaman “Nippon”, atau zaman Jepang. Ayahnya saat itu dipercaya sebagai mandor kuda tentara jepang di Maros dan anregurutta Sanusi di masa kecilnya menjadi perawat kuda di sabang hari, pada malam harinya mengaji dan belajar mengaji pada ayahnya, seorang agamawan. Pilihan mengaji di hadapan ayahnya sendiri sebagai kemestian, karena memang ayahnya seorang guru mengaji dan tokoh agama, yang saat itu dikenal dengan sebutan katte’, masyarakatnya mengenal dengan nama katte’ Baco.

Anregurutta Sanusi saat diajar oleh ayahnya mengaji, bermula dari sistem mengeja huruf hijaiyah (mangijjang), kemudian membaca langsung (mabbaca lalo) dan selanjutnya memperbaiki nacaan dengan tajwid (massarak baca). Karena ayahnya seorang disiplin dan keras dalam mendidik anaknya, maka Anregurutta Sanusi sejak kecilnya sudah menanamkan sikap kedisiplinan dalam belajar secara rutin setiap malam setelah magrib di hadapan ayahnya, demikian seterus-nya dan sejak dini hari setelah salat subuh, bergegas mengurus kuda-kuda ayahnya.

Setelah mengajinya lancar dan tuntas 30 juz semasa kecilnya, pengetahuan tentang dasar-dasar agama pun sudah cukup dipelajarinya dari ayahnya, maka Anregurutta mendapat izin untuk sekolah secara formal, yakni di SR 3 tahun 1945-1948 dan VVS Sekolah Belanda tahun 1948-1950. Setelah tamat dari sekolah ini dan sudah memiliki bekal terhadap ilmu-ilmu lain, termasuk ilmu-ilmu umum yang dipelajari melalui hasil bacaannya saat sambil mengurus kuda-kuda, memotivasi dirinya untuk lebih memperdalam ilmu keagamaan melalui pendidikan formal yang lebih tinggi. Dari sinilah, sehingga Anregurutta Sanusi dimasa kanak-kanak dan masa remaja sampai memasuki masa pemuda, memfokuskan dirinya pada dunia pendidikan agama, berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya, dari kampung halamannya ke daerah lain sampai ke luar negeri, yang kemudian mengantarkan dirinya menjadi ulama.

Mangkoso adalah daerah pertama yang menjadi pilihan Anregurutta Sanusi untuk memperdalam ilmu agama. Di daerah ini, berdiri sebuah lembaga pendidikan formal berbasis Ahlus Sunnah wal Jamaah, yakni al-Madrasah al-Arabiyah Al-Islamiyah (MAI) yang sekarang dikenal dengan Pondok Pesantren DDI Mangkoso, didirikan oleh AG.KH. Abdurrahman Ambo Dalle. Di pesantren ini, Anregurutta nyantri dan belajar dengan sistem halaqah (mangaji tudang duduk bersilah) di hadapan AG.KH. Abdurrahman Ambo Dalle selama delapan tahun lamanya, waktu yang begitu lama digunakan menimbah ilmu dari gurunya dan ulama yang masyhur itu. AG.KH. Abdurrahman Ambo Dalle, hampir setiap saat menguji secara lisan seluruh santri-santrinya termasuk Anregurutta Sanusi dinilai sebagai santri yang pintar dan cerdas, memiliki jawaban yang paling tepat dan benar atas ujian itu sehingga diangkat menjadi asisten.

Dari Mangkoso, Anregurutta Sanusi pindah ke Makassar meng-ajar di beberapa sekolah DDI, selanjutnya di tahun 1958 mendapat jatah beasiswa untuk kuliah di Universitas al-Azhar Kairo, Mesir. Di negeri piramid itu, Anregurutta Sanusi mulai akrab bersahabat dengan Gusdur, KH. Abdurrahman Wahid (alm), presiden RI ke-4. Setelah tamat di al-Azhar tahun 1967, Anregurutta Sanusi berniat melanjutkan kuliah S2 di sana, namun karena ketahuan mendaftar sebagai tentara sukarela untuk berperang melawan Israil, maka pihak keluarga mengharapkannya pulang dan sesampainya di Makassar tahun 1968, menikah dengan Hj. Aminah dan dikarunia delapan orang anak.

Tahun 1970, Anregurutta Sanusi mendapat kepercayaan untuk menjadi Ketua DDI Cabang Makassar, sekaligus menjadi pengurus Nahdlatul Ulama, dan ditawar untuk mengabdikan diri di UMI, yang selanjutnya diangkat menjadi PNS, dosen tetap pada Fakultas Syariah IAIN Alauddin. Selain itu, Anregurutta Sanusi dipercaya mengasuh mata kuliah tafsir dan ushul fikih di berbagai perguruan Tinggi Islam Swasta seperti STAI As’adiyah dan STAI DDI yang tersebar di Indonesia Timur, juga pada PTAIS di lingkungan Kopertais Wilayah VIII.

Anregurutta Sanusi dalam berbagai kesibukan dan aktivitasnya yang padat seperti yang telah disebutkan tadi, di sisi lain ternyata tidak pernah meninggalkan rutinitas kegiatan dakwahnya sampai saat ini. Pada tahun 1970-an rutinitas tersebut dilalui bersama Haji Kalla (ayah Jusuf Kalla). Saat itu, Anregurutta Sanusi bersama keluarga mengisi hari-harinya di Kompleks Masjid Raya Makassar, dan bersama Haji Kalla mendirikan Yayasan Masjid Raya yang salah satu kegiatannya melakukan pengkaderan ulama.

Share :