Humor yang Mencerdaskan

0
115

 

Humor dapat bermakna sesuatu yang mengandung kelucuan atau kejenakaan, atau menggelikan hati. Islam sama sekali tidak melarang orang untuk melucu. Orang yang suka melucu itu berarti memiliki selera humor yang tinggi. Orang dapat saja terhibur karena gurauannya yang membuat orang tersenyum hingga tertawa. Humor menjadi sarana mengurangi perasaan gundah, mengatasi ketakutan, bahkan meredakan kemarahan. Dengan begitu, humor mengandung nilai positif untuk seseorang, karena dianggap sebagai salah satu mekanisme pertahanan diri yang baik merespons permasalahan.

Konten dan gaya penyampaian juga menentukan baik buruknya humor itu pada diri dan orang lain. Orang pintar pasti lebih senang mendengarkan atau menyaksikan humor yang mengusung ide cerdas, merukunkan kebersamaan, atau memunculkan kelucuan dari sesuatu yang bernilai filosofis. Konten seperti ini tentu merangsang pikiran orang lain yang bermuara pada senyuman ataupun tawa. Sebaliknya, konten yang bernada permusuhan, merendahkan martabat orang lain, atau yang tidak senonoh hanya akan melahirkan efek buruk, meski orang tertawa hingga terpingkal-pingkal. Kadang juga efek negatif bisa muncul jika melontarkan humor tidak pada tempatnya. Jangan pernah menjadikan keterbatasan fisik seseorang sebagai bahan candaan, hindari melecehkan simbol-simbol agama mana pun, dan jangan pernah menghina profesi orang lain. Jadi, pandai-pandai dalam melucu karena boleh jadi tujuan kita menghibur, tetapi hanya berujung ketersinggungan, pelecehan, atau semacamnya.

Rasulullah SAW adalah pribadi yang humoris. Beliau pernah berkelakar kepada seorang perempuan tua bahwa penghuni surga kelak tidak ada perempuan tua. Tentu saja maksudnya adalah perempuan yang sudah tua akan kembali muda di surga kelak. Rasulullah SAW juga bercanda kepada cucunya al-Husain yang masih kecil dengan menjulurkan lidahnya, hingga terlihat merahnya lidah beliau. Rasulullah SAW juga sering “dikerjai” oleh sahabat yang bernama Nu’aiman ibn ‘Amr al-Anshari dan selalu membuat beliau tertawa. Rasulullah SAW juga lihai membalas candaan dengan candaan serupa seperti ketika Ali ibn Abi Thalib meletakkan biji-biji kurma yang telah dilahapnya di hadapan Rasulullah SAW agar terkesan yang menghabiskannya adalah beliau. Namun, respons beliau menyatakan bahwa justru Ali ibn Abi Thalib yang lebih rakus karena biji-bijinya pun tidak disisakan.

Dapat kita pahami bahwa humor yang dilontarkan oleh Rasulullah SAW ini meniscayakan kecerdasan dan jauh dari kebohongan. Humornya menghibur tanpa merendahkan, merangsang kreativitas berpikir tanpa membodohi, dan tetap mengusung kejujuran. Bercanda jangan juga berlebihan hingga tarap “ngerjain” orang lain di luar kewajaran, karena hanya akan berakhir buruk. Belakangan ini muncul istilah “prank” yang terkadang kelewat batas. Suami “ngeprank” kepada istrinya yang berujung cekcok, orang tua “ngeprank” pada anaknya yang masih kecil yang berujung trauma dan sulit mempercayai orang lain, dan semacamnya.

Banyak ulama yang menulis buku yang berbau humoris. Banyak ulama juga yang piawai menyelingi pembicaraannya dengan cerita lucu, baik saat mengajar maupun berkomunikasi biasa. Menyelingi pembicaraan dengan humor itu baik, karena humor itu memang menguntungkan, mencerdaskan, dan menyehatkan. Intinya, agama memandang positif orang yang punya selera humor, selama disampaikan secara proporsional.