Adab Candaan; Dari Sunnah Ke To Lise

0
11

Adab Candaan: Dari Sunnah Ke To Lise

Oleh: Suf Kasman

LEBARAN boleh berlalu, tetapi panggung candaan belum benar-benar usai.

Di pertemuan keluarga, teman sejawat, hingga handai taulan, candaan terus beredar. Ruang tamu penuh tawa—kelakar, lelucon, senda gurau, hingga banyolan ringan.

Saya melihat fenomena ini sebagai ekspresi kegembiraan dalam silaturahmi. Dalam perspektif Islam, candaan dibolehkan selama tetap berkata benar. Rasulullah ﷺ pun sesekali bercanda dengan sangat elegan. Salah satunya kisah seorang nenek meminta doa agar masuk surga.

Beliau ﷺ bersabda bahwa nenek-nenek tidak masuk surga. Ia pun menangis. Rasulullah ﷺ lalu menjelaskan: ia akan masuk surga dalam keadaan muda kembali. Candaan beliau selalu berpijak pada kebenaran.

Gambaran ini memberi isyarat: di surga, kesempurnaan bukan lagi angan.

Super sekali—di surga semua wajah “cakep”, sementara di dunia banyak “cakeppo”.

Masya Allah, semua kembali muda—malolo pulana—di Jannah Firdaus.

Di dunia, orang rela membayar mahal demi tampak cantik dan gagah. Ada pula memasang lensa kontak “pembesar”, hingga ikan mero terlihat seperti paus orca.

Bulu mata “anti badai” super tebal ala tedong bonga, bermaksud mempercantik, justru mengundang badai tawa karena berlebihan dipinset.

Pendeknya, candaan boleh—selama tidak melukai.

Pernah pula Rasulullah ﷺ makan kurma bersama Ali bin Abi Thalib. Beliau diam-diam meletakkan biji kurma di depan Ali, lalu pura-pura menuduhnya paling lapar. Padahal itu milik beliau sendiri.

Ada lagi kisah seseorang meminta tunggangan. Rasulullah ﷺ menyuruhnya menaiki anak unta. Lelaki itu bingung, karena tampak unta dewasa. Rasulullah ﷺ menjawab ringan: bukankah setiap unta berasal dari anak unta?

Dari sini terlihat satu garis penting: candaan boleh, tetapi tidak boleh keluar dari kebenaran.

Saat memberi kuliah, saya hampir selalu menyelipkan candaan—agar suasana tetap hidup.

Suatu kali saya berkata:

“Anak-anak sekalian, HP Bapak ini dibeli di Arab. Kalau saya lemparkan, tidak akan pecah.”

Hampir serentak mereka menyahut, “Coba dilihat, Pak!”

Saya jawab santai, “Tidak akan pecah kalau saya lemparkan… nanti sampai.”

Seketika kelas pecah oleh tawa. Ada langsung paham, ada juga baru tersenyum beberapa detik kemudian.

Candaan sederhana, tetap jujur, dan menyegarkan suasana.

Lantas, bagaimana corak candaan orang To Lise’ (Sidrap) dalam kehidupan sehari-hari?

Melalui seni lecco-lecco adanna, masyarakat Lise’ gemar bercanda, namun tetap berpijak pada kebenaran—ada tongeng.

Simak kisah saat camat memerintahkan mengumpulkan sapi di lapangan untuk keperluan cap dan administrasi.

Ada sapi Bali, sapi Anggolo’, sapi Mattanru’, sapi birang, dan sapi Pakiddang-kiddang.

Orang-orang Lise’ mematuhi secara harfiah. Mereka menggiring sapi ke lapangan, lalu pulang begitu saja.

Petugas kebingungan. Tak satu pun tahu pemiliknya.

Saat ditanya, mereka menjawab polos: perintah hanya menyebut kumpulkan sapi, tidak termasuk pemiliknya.

Ini mi namanya “satu kosong!”

Perintah dipahami tanpa konteks. Program cap sapi pun ambyar seketika.

Ada lagi kisah penumpang To Lise’ bertanya tarif dari Pangkajene ke Makassar. Sopir menjawab, “Lima puluh ribu, Pak.”

Naiklah To Lise’ itu.

Setiba di tempat tujuan, penumpang itu turun tanpa membayar. Alasannya sederhana: selama perjalanan ia tidak duduk karena mobilnya truk fuso.

Pakalasi To Lise’e!

Untungnya, sopir tidak sakit gigi mangngittu’-ngittu’.

Inilah candaan: sederhana, nyata, tanpa manipulasi.

Bagi To Lise’, ada kekeliruan saat orang memanggil penjual di pinggir jalan. Teriakan “Es!” atau “Bakso!” dianggap kurang tepat. Dalam logika mereka, panggillah orangnya: “Hei pabbalu es” atau “Hoeee pabbalu bakso”.

Fragmen ini mengajarkan pentingnya akurasi diksi.

Namun, dari semua kisah itu, ada batas tegas dalam bercanda.

Candaan ibarat garam: pas terasa nikmat, berlebih justru merusak.

Dalam Islam, ada tiga perkara tidak boleh dijadikan candaan: nikah, talak, dan rujuk. Jika terucap, hukumnya tetap berlaku.

Jangan bermain api pada perkara sakral. Ini bukan lagi humor, melainkan kecerobohan berakibat fatal.

Rasulullah ﷺ mengingatkan: celakalah orang berbicara (bercanda) lalu berdusta demi membuat orang lain tertawa.

Kebohongan tetaplah kebohongan, meski dibungkus candaan.

Selain itu, banyak candaan gagal karena tidak membaca situasi—kapan harus bicara, kapan harus diam.

Candaan menghina fisik, ras, atau profesi bukan lagi lucu, tetapi perundungan.

Jangan berlindung di balik kalimat, “Begitu saja baper!” Masalahnya bukan pada kepekaan orang lain, melainkan pada rendahnya empati.

Menakut-nakuti, mengejutkan, atau menjadikan agama sebagai olokan juga melampaui batas adab.

Hindari bercanda di tengah suasana duka. Orang berduka butuh empati, bukan tawa.

Akhirnya, candaan bukan sekadar soal lucu atau tidak. Ia adalah cermin adab.

Jika tawa lahir tanpa melukai, di situlah candaan menjadi ibadah.

Jadi, silakan tertawa—jangan melukai.

Ahad, 10 Syawal 1447 H/ 29 Maret 2026

SK

ddi abrad 1