Hukum Rimba Modern

0
30

Hukum Rimba Modern

Oleh: Suf Kasman

HUKUM rimba sering kita artikan sebagai situasi anarki: si kuat memegang kendali, si perkasa berkuasa penuh.

Saya teringat filosofi jenaka tentang keadilan di tengah hutan. Seekor singa berkata penuh wibawa, “Di hutan ini ada keadilan.”

Saat aneka binatang heran dan bertanya keadilan seperti apa, sang singa menjawab santai, “Semua makhluk punya hak yang sama… untuk dimakan, sesuai giliran!”

Begitulah potret peradaban global saat ini. Dalam pengamatan saya, dunia kian liar. Kita terseret ke dalam arus Neo-Jahiliyah.

Situasi ketika hukum dan norma sosial tidak lagi melindungi kaum lemah. Pihak berkuasa merasa memiliki hak istimewa untuk bertindak semena-mena.

Seolah peradaban kembali ke masa kegelapan dengan kemasan modern. Amerika Serikat tampil sebagai aktor utama pemamer arogansi adidaya.

Sebagai pemegang takhta, AS kerap bertindak sepihak tanpa mempertimbangkan negara lain. Mereka merasa paling benar, paling suci, dan paling berkuasa.

Dunia diperlakukan layaknya tanah tak bertuan—bebas dijarah, bahkan narasinya. Lucunya, di balik kesombongan itu, Amerika punya “hobi” kurang jantan: main keroyokan.

Mereka gemar menghimpun koalisi hanya untuk melumat satu negara kecil bernama Iran yang tak sejalan.

Saya teringat kisah masa kecil kami bersama Logé. Saat pelajaran sekolah berlangsung, ia diam-diam bolos menonton judi sabung ayam di pinggir Sungai Salo Karajae. Kala itu, saya tidak ikut; ceritanya baru saya dengar setelah kejadian.

Menurut kisah lucunya, di sana ada aturan main ksatria: satu lawan satu, sippanrasa-rasa. Adu taji sampai tuntas di tengah gelanggang, tanpa bantuan rombongan.

Asyik-asyiknya menonton, tiba-tiba datang Polisi membunyikan tembakan peringatan. Temanku bernama Logé langsung lari kocar-kacir melompati pagar.

Polisi terus mengejar sambil menembak. Salah satu tembakan mengenai dahan pohon; patah, lalu jatuh tepat di punggung Logé. Ia pun spontan berteriak, “Mate na’ Ndo’!”

Logé sempat berhenti di bawah pohon jambu, mengusap punggungnya karena mengira terkena peluru AK-47. Ternyata hanya dahan kering, bukan timah panas.

Tak lama setelah kejadian itu, saya bertemu Logé yang masih ngos-ngosan sepulang dari lokasi bencana. Wajahnya masih panik, napasnya tersengal sisa 5 watt—persis ayam kalkun Malasa Kadua Melo’ Maté. Saya pun tak kuasa menahan tawa. Dalam hati bergumam, “Melo’ Mopo!”

Nah, jika Amerika yang besar dan bersenjata canggih masih mengajak koalisi untuk menindas satu pihak, mentalitasnya tak lebih baik dari si Logé.

Bedanya, Logé lari karena takut polisi, sedangkan Amerika justru ciut saat sendiri, namun mendadak berani ketika bersama Israel. Itu namanya maborro!

Mana ada mentalitas jawara jika yang besar saja masih butuh ramai-ramai untuk menghadapi satu lawan?

Wahai negara-negara boneka, sadarlah.

Lebih baik menjadi singa kesepian daripada domba populer yang mengekor pada majikan. Ingatlah hukum alam sesungguhnya:

Saat banjir, ikan memakan semut. Ketika banjir surut, semut berganti memakan ikan. Semua orang—bahkan negara adidaya—punya giliran dan waktunya. Jangan sombong!

Fenomena “merimba” ini ternyata tidak hanya terjadi di level global. Ia juga menjangkiti Negeri Konoha. Penegak hukum justru menjadi pelanggar.

Tebang pilih dalam menangani perkara telah menjadi rahasia umum. Keadilan seolah bisa ditawar di balik meja, sesuai pesanan politik dan isi kantong.

Semboyannya pun berubah drastis: bukan membela yang benar, melainkan “maju tak gentar membela yang bayar.”

Yang besar dikecilkan, yang kecil dibesarkan. Sisélé’ ota’ loppo na!

Jika “wartawan burung” bertanya kepada penguasa rimba tentang keadilan, ia mungkin menjawab tenang, “Itu hoaks. Di sini sangat adil.”

Saat diminta bukti, ia tersenyum lebar, “Semua saya mangsa… dipilih tanpa diskriminasi!” Dahulu, rantai makanan berjalan alamiah, menjaga keseimbangan.

Kini, para penguasa ingin menjadi predator tunggal, pelahap segalanya. Hukum dunia seolah pergi ke rimba mencari keadilan, tetapi justru bertemu taring.

Sejarah punya caranya sendiri untuk mencatat. Macan paling buas sekalipun, suatu saat bisa mati dililit borgol ciptaannya sendiri.

Keadilan mungkin bisa ditunda oleh kekuatan. Namun, ia tak akan pernah bisa dimatikan.

Jum’at, 7 Syawal 1447 H / 27 Maret 2026

SK

ddi abrad 1