Wiper Persaudaraan Di Meja Warkop
Oleh: Suf Kasman
MALAM ke-18 Ramadan telah berlalu.
Tiga rakaat witir baru saja tertunaikan sempurna. Saya beranjak pulang dari Masjid A. Oddang, membelah kepadatan Jalan Pelita Raya menuju Bukit Baruga.
Hujan mengguyur Makassar. Kendaraan mulai padat merayap mirip Kalapua na Desa Mojong. Siraman air langit membasahi aspal yang sudah jenuh oleh lalu lintas malam.
Sebelum roda kendaraan menyentuh aspal A.P. Pettarani, ponselku berdering. Suara Prof. Marjuni terdengar renyah di balik bising hujan. Beliau melihat kendaraan saya lewat, lalu mengajak singgah ngopi bareng di Warkop Pelita.
Saya heran, koleksi warkop Prof. Marjuni sepertinya banyak sekali.
Dulu beliau mengajak saya pertama kali ke Warkop Daeng Anas di Jalan Faisal. Malam ini lokasinya berpindah lagi. Nisseng maneng. Saya tidak tahu warkop apa lagi yang akan dimasuki besok.
Di sana, Pak Rektor UIM bersama kawan-kawan sudah duduk melingkar. Formasi duduk mirip gaya ‘maddomeng’.
Saya melihat wajah-wajah penuh gurat kelelahan menggantung di bawah mata. Bak mesin mobil Panther penumpang dipaksa menanjak jalan terjal berkelok di Camba tanpa henti, suhu pemikiran mereka sepertinya sudah masuk zona merah demi memburu amal jariyah di Syahrul Mubarak ini.
Sekali-kali saya perlu ikut nimbrung. Perlu mendinginkan piston dan suspensi pikiran. Selama Ramadan ini pikiran dipaksa berakselerasi penuh memperbarui hafalan dalil.
Saya memesan kopi susu “Maccandu na Massaddu” racikan wanita muda belia. Ia melayani sambil membungkuk sopan, menunjukkan ekspresi siap mendengar setiap permintaan tamu datang.
Itulah keunggulan warkop: harga terjangkau, suasana santai-kekeluargaan, menu merakyat, dan pelayanan ramah dari para pelayan yang cekatan.
Tak lama, pesanan datang: secangkir kecil kopi mirip minuman satu shot—“Sissemmi lai-smackdown cappu’ni—membuat saya tak tidur sampai esok hari.
Usai itu muncullah aneka kue: dadara’ hijau mirip kasur gulung kapuk, ada pula kue menyerupai ban motor Vespa berlubang tengahnya, serta risol mayo super lembek tak bertenaga alias loyonisasi. Namun suasana terasa syahdu saat tawa lepas pecah.
Kami duduk santai mirip gaya “mendiskusikan rudal balistik mau dikirim ke Tel Aviv”; asyik maccorita dr ga sipalabe’ tanpa judul jelas. Inilah momen mahal yang sering terkubur di bawah tumpukan jadwal.
Di sini saya merasakan teman berasa seperti saudara. Silaturahmi di warkop menjadi pelumas ukhuwah paling orisinal.
Seorang teman sejati adalah dia memberi nasihat ketika melihat kesalahanmu.
Saya pernah mempraktikkan wejangan Imam Ali kepada seorang teman. Saya mengingatkan kesalahan tajwidnya dengan niat tulus, karena pelafalannya terdengar kurang tepat.
Namun ia justru meledak marah. Hingga detik ini ia selalu menjaga jarak. Hati saya hanya bergumam: “Kasihan sekali dia. Anda memang siapa!”
Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berpesan: “Janganlah engkau mengharapkan persahabatan dari orang yang tidak menginginkanmu sebagai sahabat.”
Orang bersedia mengkritikmu dengan jujur berarti peduli pada persahabatanmu. Sementara mereka yang menutup-nutupi kesalahanmu, sesungguhnya tidak benar-benar peduli padamu.
Warkop malam itu bekerja layaknya 𝘸𝘪𝘯𝘥𝘴𝘩𝘪𝘦𝘭𝘥 𝘸𝘪𝘱𝘦𝘳. Sapuan kaca ini menyapu sisa kabut kelelahan dan debu residu negatif di kaca depan pemikiran saya. Pandangan kembali jernih.
Mendinginkan mesin sejenak justru memanaskan kembali semangat pengabdian. Lelah ini juga bagian dari ibadah.
Ngopi dulu agar terhindar dari golongan orang merugi. Kopi tak pernah dusta atas nama rasa: hitam tak selalu kotor, pahit tak harus sedih.
Sesekali kita memang perlu jeda—mengunjungi diri sendiri, jangan cuma mengunjungi utang. Kalau mata selalu mengantuk saat pengajian, coba pikirkan cicilan. Pasti langsung terbuka lebar tanpa perlu ganjal korek api.
Malam itu saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana: kadang persaudaraan tidak lahir dari ruang rapat atau mimbar ceramah. Ia justru tumbuh diam-diam di meja warkop—di antara uap kopi panas dan tawa yang tidak dibuat-buat.
Ahad, 18 Ramadhan 1447 H / 8 Maret 2026 M
SK















