Pertemuan Dua Takdir

0
58

Pertemuan Dua Takdir: Antara Kepergian yang Kembali, dan Keberangkatan yang Menanti

Kehidupan sering kali melukis ceritanya dalam bentangan rasa yang amat kontras.

Dalam hitungan hari yang berdekatan, rumah kami dilingkupi dua gelombang rasa yang sama-sama menguras air mata, namun berbeda muara: sebuah kehilangan atas kepulangan abadi, dan sebuah kesepian atas keberangkatan suci.

Pada hari Ahad, 25 Oktober 2026, kami melepas kepulangan guru, teladan, dan ayahanda tercinta, Ust. H. Mukhtar Genda, BA (Usia 85 Tahun). Beliau adalah lentera ilmu dari As’adiyah dan pilar pengabdian di DDI Pattojo Soppeng.

Tangan dinginnya telah mencetak generasi, dan kini ia kembali ke haribaan Ilahi dengan husnul khatimah. Kepergiannya meninggalkan lubang besar di hati kami—sebuah kehilangan atas figur pelindung yang takkan tergantikan.

Belum kering air mata takziah, pada hari Selasa, 27 Oktober 2026, ruang tengah kami kembali terasa senyap. Putri tercinta kami, Andi Ahla Naylah, melangkahkan kaki meninggalkan pelukan hangat rumah untuk berlayar menuntut ilmu ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Sebagai alumni Mangkoso dan MAN PK Makassar, ia kini merajut mimpi di bumi para nabi, mengikuti jejak ibundanya. Keberangkatannya membawa separuh jiwa kami pergi, menyisakan ruang sepi yang mengetuk-ngetuk dinding hati.

Sebagai anak, menantu, dan orang tua, kami berada di persimpangan rasa yang syahdu.

Ada duka yang mendalam untuk sebuah akhir yang indah (wafatnya Ayahanda), dan ada rindu yang mulai tumbuh untuk sebuah awal yang cerah (keberangkatan Putri kami).

Namun di balik sunyinya rumah saat ini, kami menemukan hikmah yang agung: Ilmu tidak pernah mati. Estafet perjuangan itu sedang berputar.

Ketika satu pelita di tanah Bugis telah merampungkan tugasnya dan kembali kepada Pemiliknya, Allah melahirkan tunas baru dari rahim yang sama untuk menjemput cahaya ilmu di negeri yang jauh.

Air mata kehilangan ini adalah tanda cinta, dan sepi ini adalah ruang bagi doa-doa yang akan terus terbang membumbung ke langit.

Selamat jalan Ayahanda tercinta menuju keabadian. Selamat berjuang Putriku sayang menuju masa depan. Doa kami melangit, menyertai setiap langkahmu di bumi Kairo.

 

Dua Gerbang Takdir

Karya: Dr. H. Andi Muhammad Akmal & Dr. Hj. Haniah Mukhtar

 

Dalam tiga lingkar matahari yang berjalan sunyi,

Tuhan menggelar dua tabir di rumah kami.

Satu pintu tertutup menuju keabadian yang suci,

Satu pintu terbuka menuju bumi para nabi.

 

Ahad yang luruh membawa duka yang mendalam,

Saat lentera itu kembali ke pelukan malam.

Ayahanda tercinta, Ust. H. Mukhtar Genda, telah berpulang,

Menuntaskan 85 tahun pengabdian yang gemilang.

Purna sudah tugasmu, wahai guru dan teladan DDI Pattojo,

Kau tinggalkan dunia dengan husnul khatimah yang syahdu.

 

Belum kering air mata yang jatuh di sajadah,

Selasa tiba membawa rindu yang mulai merekah.

Andi Ahla Naylah, putri kecil yang kini telah tumbuh,

Melangkah pergi, membawa doa kami yang luruh.

Menyeberangi samudra menuju Al-Azhar di Kairo,

Melanjutkan estafet ilmu, mengikuti jejak sang ibu.

 

Rumah ini seketika menjelma menjadi ruang yang sepi,

Kehilangan orang tua, dan ditinggal putri kembaran hati.

Sebagai anak, menantu, dan orang tua yang menatap jalan,

Dada kami sesak oleh campur aduknya rasa kehilangan.

 

Namun di balik sunyi yang mengetuk dinding dada,

Kami melihat hikmah Allah yang begitu indah terbaca.

Ketika satu pelita perjuangan di tanah Bugis telah purna,

Satu tunas baru dilahirkan untuk menjemput cahaya.

 

Ilmu itu tidak pernah mati, ia hanya berpindah tangan,

Dari kakek yang berpulang, kepada cucu yang meneruskan.

Selamat jalan Ayahanda, berbahagialah di surga hakiki,

Selamat berjuang Putriku, raihlah berkah di bumi nabi.

 

Di antara duka dan harapan yang kami dekap erat,

Doa-doa kami akan terus terbang, melampaui sekat.

ddi abrad 1