Transmisi Keilmuan Haramain ke Sulawesi Selatan

0
15

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Syekh Alawi bin Abbas al-Maliki: Tiang Penyangga Turats Haramain

Syekh Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani lahir di Makkah pada tahun 1328 H (1910 M).

Beliau tumbuh di bawah bimbingan langsung ayahnya, Syekh Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki, yang merupakan qadhi (hakim) tertinggi dan mufti terpandang di kota Makkah.

Sejak usia muda, Syekh Alawi telah menghafal Al-Qur’an dan menguasai berbagai matan kitab dasar lintas madzhab.

Beliau menempuh pendidikan formal di Madrasah al-Falah, Makkah, dan lulus dengan predikat terbaik.

Setelah itu, beliau mendedikasikan hidupnya mengajar di Masjidil Haram tepat di dekat Bab al-Salam.

Selama hampir 40 tahun, halakahnya menjadi magnet bagi penuntut ilmu internasional, termasuk dari dunia Melayu (Ashhab al-Jawi).

Beliau dikenal memiliki ingatan yang luar biasa dalam bidang hadis riwayah dan dirayah, serta
memegang teguh identitas Ahlussunnah wal Jama’ah.

Beliau wafat pada tahun 1971 M, dan tongkat estafet keilmuannya dilanjutkan oleh putranya, Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.

AGH Abdurrahman Ambo Dalle: Pelopor Pencerahan Islam Nusantara Timur

Anregurutta Haji (AGH) Abdurrahman Ambo Dalle lahir di loloang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan pada tahun 1900 M.

Sejak masa kanak-kanak, beliau memperlihatkan kecerdasan di atas rata-rata dengan kemampuan menghafal teks-teks Arab secara cepat.

Titik balik intelektualnya dimulai saat beliau berguru pada Syekh Muhammad As’ad al-Bugisi, ulama besar Bugis kelahiran Makkah yang mendirikan Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Sengkang.

Di bawah asuhan AGH Muhammad As’ad, Ambo Dalle ditempa menjadi seorang ulama yang menguasai
gramatika bahasa Arab dan fikih Syafii.

Kematangan keilmuan ini mengantarkannya berlayar ke Makkah pada tahun 1935.

Di tanah suci, ia menjelma menjadi murid kesayangan para pembesar klan al-Maliki. Kealiman, ketawaduan, dan kemampuan manajerialnya membuat beliau dihormati baik di Makkah maupun sekembalinya di tanah air.

Beliau mendedikasikan sisa hidupnya untuk membangun peradaban pendidikan di Indonesia
Timur hingga wafat pada 29 November 1996.

Jaringan ilmu antara klan al-Maliki dan AGH Ambo Dalle tidak hanya bersifat emosional, melainkan terikat dalam jaringan transmisi formal (isnad) yang sangat ketat.

Struktur sanad ini menghubungkan AGH Ambo Dalle dengan poros keilmuan Islam dunia, dari Makkah hingga bermuara pada Rasulullah SAW melalui jalur para Imam Madzhab.

MANHAJ KEILMUAN DAN TRANSMISI KITAB KUNING

Substansi dari jaringan intelektual ini terletak pada korpus literatur klasik (turats) yang ditransmisikan melalui pembacaan mendalam dan ijazah khusus.

Bidang-bidang keilmuan dan kitab utamanya meliputi:
• Ilmu Hadis Tekstual:

Kitab Bulughul Maram min Adillat al-Ahkam karya Ibnu Hajar al-Asqalani.

Pemahaman ini menginspirasi AGH Ambo Dalle menyusun kitab hadis mandiri Al-Nukhbah al-Mardhiyyah.

• Fikih Perbandingan::

Kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, melatih sikap bijak dalam melihat perbedaan pendapat (ikhtilaf).

• Tafsir Al-Qur’an:

Kitab Tafsir al-Jalalain diajarkan dengan metode talaqqi ketat untuk presisi makna.

• Spiritualitas & Akhlak:

Kitab Al-Adzkar An-Nawawiyah serta kitab spiritual esoterik Khazinatul Asrar al-Kubra.

Jaringan ilmu antara Syekh Alawi al-Maliki dengan AGH Abdurrahman Ambo Dalle membuktikan adanya rantai transmisi keilmuan Islam transnasional yang valid, kokoh, dan terdokumentasi (isnad).

Hubungan ini memindahkan spirit keagamaan yang ramah dan bermazhab dari pusat peradaban Islam sedunia ke Indonesia Timur, terinstitusionalisasi lewat eksistensi Pondok Pesantren DDI Mangkoso.

ddi abrad 1