Diplomasi Mundur

0
14

Diplomasi Mundur

Oleh: Suf Kasman

ADA waktunya mundur itu justru istimewa. Dalam keadaan tertentu, orang yang berani mundur selangkah bisa lebih hebat daripada orang yang maju sepuluh langkah, tetapi justru semakin dekat ke jurang.

Saya belajar arti mundur bukan dari buku filsafat tebal, melainkan dari Salo’ Karaja’e, sungai di depan rumah masa kecil saya di Puncak Bila, Sidrap.

Waktu kecil, saya mengejar kepiting yang bergerak menyamping, sesekali mundur, mirip senam poco-poco: ke kiri-ke kiri, ke kanan-ke kanan, lari titti’ cêddê’ tabbaliang.

Dulu saya kira dia penakut. Belakangan saya sadar, kepiting saja tahu cara menyelamatkan diri. Manusia kadang sudah melihat jurang di depan mata, tetapi tetap maju sambil berpidato bahwa mundur adalah tanda kekalahan.

Yang berbahaya bukan kepiting yang pintar mundur, melainkan punggawa yang gengsi meski kapal sudah oleng di tangannya. Kapal sudah menabrak karang dan haluannya bengkok, tetapi nakhodanya masih sempat menggelar konferensi pers untuk menyalahkan karang yang menghalangi jalur perjuangannya.

Bukan karangnya yang keras kepala, melainkan nakhodanya yang tetap merasa paling benar, meski kapal sudah salah haluan!

Pelajaran berlanjut dari udang di empang.

Saya sendiri sering mendapat panggilan makan ikan dan udang di Langnga, Pinrang. Kalau undangan sudah menyebut ikan dan udang, rasanya sulit bagi saya untuk mundur. Dari tingkah udang di empang, saya justru menemukan pelajaran tentang strategi mundur.

Dicolek sedikit, wusss! Udang menghentak ekor, lalu melesat mundur secepat kilat. Tidak pakai klarifikasi, konferensi pers, apalagi membentuk tim pencari fakta untuk menyelidiki siapa yang mulai mencolek.

Udang rupanya lebih cekatan menyelamatkan diri daripada manusia menyelamatkan muka. Di empang, udang berjuang menyelamatkan diri; di meja makan, saya justru berjuang menyelamatkan hidangan dari ancaman kelaparan!

Beda lagi dengan kambing jantan milik Pak Poleang di belakang rumah saya. Kalau mau duel, keduanya mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang, mengatur napas untuk membangun ruang gerak, lalu duk! Adu tanduk sippanrasa!

Kambing saja tahu strategi. Manusia? Baru disuruh mundur karena ketahuan super licik, harga dirinya langsung merasa masuk ICU.

Kambing memang tidak punya gelar akademik, tetapi tidak perlu mengundang konsultan komunikasi untuk menjelaskan mengapa dia mundur.

Jangan-jangan, kambing lebih cepat belajar strategi daripada manusia belajar mengakui kesalahan!

Tarik tambang saat perayaan tujuhbelasan juga mengajarkan bahwa untuk menang, kadang kita harus menarik sekuat tenaga ke belakang (mundur).

Kalau semua menarik ke depan, bukan tarik tambang namanya, melainkan dorong tambang.

Penonton pun berteriak, “Mundur! Mundur! Teruuuss!”
Tak ada yang berteriak, “Maju terus, tabrak panitia!” Anehnya, dalam politik, orang yang perlu mengoreksi arah malah disuruh maju terus.

Rupanya ada yang menganggap mundur selangkah bisa membuat jabatan kehilangan tanda tangan!

Benda-benda di sekitar pun mengajari hal yang sama. Waktu kecil, saya membuat ketapel dari ranting aju jampu. Teorinya, semakin jauh karet ditarik ke belakang, semakin kencang batu melesat.

Targetnya dongi’ (burung padi) yang bertengger di pohon coppeng. Saya membawa batu banyak-banyak, yakin selusin burung bakal sempung (jatuh).

Namun, hasilnya nihil (de’ga ukenna). Burung tetap berkarier di udara, pohon coppeng pusing melihat batu wara-wiri, saya pulang gagal membawa dongi’.

Hidup yang menarik kita ke belakang melalui kesulitan belum tentu sedang menghukum. Bisa jadi, hidup sedang menyiapkan lesatan. Lihat saja ekskavator di lokasi proyek.

Ketika menggali tanah, lengannya bergerak maju-mundur, mengangkat dan menekan tanah, lalu kembali mengambil posisi. Kalau ekskavator gengsi bergerak mundur karena takut dianggap tidak berani maju, alamat tanah cuma ditatap, bukan digali!

Masa alatnya berat saja tahu cara mundur, manusia yang merasa paling berat jabatannya malah tidak mau mengalah?

Lihat juga pemain yang hendak mengeksekusi penalti. Lionel Messi, misalnya, mengambil ancang-ancang beberapa langkah ke belakang untuk mengatur tenaga dan ketepatan.

Penonton awam mungkin mengira ia sedang menjauh dari gawang, padahal justru sedang menyiapkan peluang mencetak gol.

Bayangkan kalau wasit melarang pemain mundur karena dianggap tidak punya mental maju! Sepak bola bisa berubah menjadi lomba menendang bola sambil berdiri kaku.

Lalu saya teringat teka-teki: kendaraan apa yang paling sulit dimundurkan? Kapal laut! Memundurkan kapal memang perlu perhitungan matang, bukan sekadar berteriak, “Mundur! Mundur!”

Namun, di situlah pentingnya diplomasi mundur: tahu kapan harus menarik diri, mengubah arah, dan menghindari tabrakan.

Sebab, kapten yang memilih mengubah arah demi keselamatan penumpang jauh lebih bijak daripada kapten yang membiarkan kapal karam hanya karena gengsi.

Ombak Losari pun mengajarkan hal serupa. Air laut mengalami pasang dan surut tanpa perlu membuat klarifikasi, “Ini strategi sebelum maju!” Alam saja tahu kapan harus surut (mundur), masa manusia gengsi mengakui salah langkah?

Lihatlah tukang sapu. Untuk membersihkan halaman, ia harus menggerakkan sapunya maju-mundur. Sesekali sapu ditarik ke belakang agar sampah terkumpul dan kotoran tersingkir.

Sapu saja paham bahwa mundur adalah bagian dari pekerjaan; masa manusia bergelar dan berpangkat kalah bijak dari sebatang lidi?

Terakhir, belajarlah dari tukang parkir. Ia sering berteriak, “Mundur… mundur… terrruus!” Anehnya, tak ada sopir yang tersinggung lalu turun sambil protes, “Pak, harga diri saya sebagai pengemudi sedang Anda injak!”

Semua patuh, sebab mereka tahu satu hal: lebih baik mundur mengikuti arahan tukang parkir daripada maju mempertahankan gengsi, lalu bemper mencium tembok!

Dalam Islam, mundur pada saat yang tepat bukan kekalahan, melainkan kebijaksanaan. Mengakui kesalahan bukan kehinaan, dan mengubah arah bukan kehilangan wibawa.

Lebih baik mundur selangkah demi mencegah mudarat daripada maju demi gengsi, tetapi menyeret banyak orang ke dalam kesulitan. Yang utama bukan selalu maju, melainkan memilih jalan yang diridai Allah dan membawa maslahat bagi sesama.

Wallahu a’lam.

16 Oktober 2026 (SK)

ddi abrad 1