MUTIARA HIKMAH
ANRE GURUTTA MANGKOSO
Editor: Muh. Aydi Syam
بِسْمِ اللّٰهِ الرٌَحْمٰنِ الرٌَحِيْمِ
KAEFIAT DAN DO’A MINTA HUJAN
A. Do’a meminta hujan (istisqa’) dapat dilakukan dengan 3 tahapan:
1. Ketika musim hujan sudah tiba, namun hujan belum turun, maka meminta hujan dapat dilakukan dengan cara memperbanyak do’a istisqa’.
Waktu dan caranya tidak terikat, dapat dilakukan sebagaimana kaefiat dan adab berdo’a pada umumnya. Tahapan pertama ini diperkirakan terjadi pada bulan Oktober.
2. Ketika sudah mendesak, namun hujan belum turun juga, maka meminta hujan dapat dilakukan dengan cara qunut nazilah pada raka’at terakhir setiap shalat fardhu.
Tahapan kedua ini diperkirakan terjadi pada bulan November.
3. Ketika sudah sangat mendesak, hujan belum turun juga, maka diadakanlah shalat khusus untuk meminta hujan (shalat istisqa’).
Tahapan ketiga ini diperkirakan terjadi pada bulan Desember.
B. Anjuran Sebelum Menunaikan Shalat Istisqa’:
1. Berpuasa selama 4 hari berturut-turut;
2. Memperbanyak taubat dan istighfar;
3. Memperbanyak sedekah kepada fakir-miskin;
4. Memperbaiki silaturrahim;
5. Menghentikan segala perbuatan zhalim;
6. Pada hari keempat, semua keluar menuju lapangan dalam keadaan puasa dengan pakaian lusuh, tidak boleh berhias dan tidak boleh mengenakan kosmetik bagi perempuan;
7. Mengikutkan hewan ternak seperti sapi atau kambing bagi yg punya.
C. Waktu Shalat Istisqa’
Tidak diharuskan memilih waktu khusus atau hari tertentu. Shalat ini dapat dilakukan kapan saja bila tiba saatnya.
D. Kaefiat Shalat Istisqa’
1. Dilakukan dengan 2 rakaat seperti shalat ‘ied hanya dibedakan dengan niat;
2. Selesai shalat langsung diikuti oleh 2 khutbah seperti khutbah ‘ied;
3. Khutbah pertama diawali dengan 9 kali istighfar, dan khutbah kedua diawali dengan 7 kali istighfar;
4. Materi khutbah, disamping menyeru untuk bertaqwa, juga perbanyak taubat dan istighfar dengan tetap memenuhi rukun-rukun 2 khutbah;
5. Pada khutbah kedua, ketika tiba saatnya membaca do’a, maka khatib menghadap kiblat sambil membalik sorbannya yang kanan ke kiri dan yang atas ke bawah diikuti oleh jama’ah yang memakai sorban;
6. Pada saat membaca do’a, khatib mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi;
7. Doa dibaca berganti antara suara keras dan suara lembut;
8. Intinya do’a adalah meminta ampunan kepada Allah Swt. atas segala dosa dan kekhilafan yang dilakukan serta memohon kiranya hujan segera diturunkan;
9. Giliran khatib berdo’a dengan suara keras, maka jamaah turut mengaminkan. Namun giliran khatib berdo’a dengan suara lembut, maka jamaah diminta berdo’a masing-masing;
10. Setelah itu, khatib berbalik menghadap jama’ah seraya berpesan lagi dan berdo’a meminta ampun, membaca salawat dan ayat;
11. Khatib menutup khutbahnya dengan istighfar untuk dirinya dan untuk semua;
12. Selanjutnya turun dari mimbar;
13. Rangkaian shalat istisqa’ dinyatakan selesai.[]
وبالله التوفيق والدعوة والإرشاد
Makkah al-Mukarramah, 05 Jum.Ula 1448 H/16 Oktober 2026 M








