Menuju Masjid Di Bawah Guyuran Hujan

0
24

Ujian Iman: Menakar Kesalehan Muslim Dibalik Guyuran Hujan Menuju Masjid

Oleh: Suf Kasman

Januari 2026 telah mendarat, beriringan landingnya musim penghujan.

Kini, setiap relung hati ditantang menatap sebuah ujian nyata: “Malas ke Masjid Kala Hujan.” Di titik inilah, kualitas iman benar-benar dipertaruhkan.

Sebab iman bukanlah baja antikarat. Ia kerap menyerupai es krim vanila: tampak manis di mangkuk amal, memesona di etalase kesalehan. Namun begitu tersentuh rintik hujan, ia lekas lumer—becek, kehilangan rupa—sekaligus menelanjangi rapuhnya hati saat ujian datang menyapa.

Hingga saat ini, ketika hujan masih memamerkan tarian di atas genteng, sebuah alat ukur batin pun bekerja: Siapa teguh menjemput ridha menuju rumah-Nya, dan siapa membiarkan imannya menguap begitu saja—memilih absen dari undangan Ilahi, di masjid.

Shalat berjamaah di masjid bukan sekadar rutinitas belaka. Ia perisai jiwa, sekaligus tanda keberanian lelaki Muslim menembus badai hujan.

Ajaibnya, gerimis receh kerap menjelma dinding penghalang, menyulap sebagian pria perkasa terserang penyakit kronis bernama malas.

Lucunya, badan sanggup melangkah ke Warkop, organ tubuh pun kuat diajak main domino. Namun, langkah ke masjid mendadak loyo, seolah tenaga ditarik paksa.

Ketika langit menggelap, tembang klasik pun terdengar: “tik tik tik hujan turun di atas genteng.”

Seketika itu pula kaki terasa lumpuh, lutut pun terbelenggu. Jarak sepelemparan batu mendadak terasa membentang—bak perjalanan antargalaksi. Padahal hujan belum seberapa mempertontonkan tariannya, namun malas telah lebih dulu datang melumpuhkan iman.

Di balik kelembutan air langit, tersimpan ujian—halus, senyap, menghantam tepat di jantung kejujuran batin.

Anehnya, bila sosok itu kebetulan berada di masjid, usai salam ia mendadak menjelma pelari nasional profesional. Wuss! Hujan diterjang tanpa gentar basah. Air langit terasa menakutkan kala menuntun langkah menuju masjid-Nya, namun mendadak menjelma tenaga ekstra saat raga bergegas pulang menuju kediaman.

Syukur, di negeri ini hujan turun air biasa.

Bayangkan bila rahmat berganti murka—menjadi hujan es sebesar jeruk. Seperti melanda Australia, Brasil, atau Italia: kaca pecah, genteng roboh, nyawa melayang di tepi ajal.

Bagaimana jika negeri ini diguyur hujan batu, sebagaimana azab kaum Luth AS—bangunan hancur, bumi ditimbun murka langit (QS. Asy-Syu‘ara: 173). Belum lagi jika Janabijana ini diguyur hujN darah pernah menimpa kaum Musa AS, (QS. Al-A‘raf: 133).

Alhamdulillah ,Zamrud Khatulistiwa ini aman dari segala badai hujan menakutkan itu.

Namun, di situlah persoalan bermula: saat hujan tiada berhenti menyemprotkan presipitasinya. Kaki terpaku, dada bimbang saat azan berkumandang di Menara masjid.

Inilah alarm paling jujur perihal rapuhnya iman; keengganan ke masjid bukanlah perkara cuaca, melainkan isyarat hati tengah terbebani daki duniawi.

Jika hujan—pembawa berkah—saja mampu melunturkan iman hingga malas ke masjid. bagaimana berharap tegar menghadapi badai ujian lebih besar?

Allah menandai malas beribadah sebagai ciri kemunafikan; gerimis pun menjelma cermin, menampakkan ringkihnya iman pada janji dan ancaman-Nya.

Shalat berjamaah bukan sekadar kalkulasi angka pahala, melainkan martabat ukhuwah.

Sejarah mencatat, sahabat Nabi berlomba meminta izin pindah lebih jauh dari masjid demi memanen pahala di setiap langkah.

Ada pula sosok pucat pasi karena rumah terlampau dekat—merasa rugi jejak kaki tercatat sedikit oleh malaikat. Konon, demi tak kehilangan denyut gumpalan amal, sebelum masuk masjid ia terpaksa berjalan di tempat lebih dulu.

Lalu muncul tanya jenaka: Bagaimana jika ke masjid naik motor? Apakah berpahala?

Tentu, banyak pundi-pundi amal bro!

Setiap jengkal aspal menjadi saksi; setiap putaran roda tercatat denyut amal di langit. Semakin sering berputar, semakin tebal catatan amal sang malaikat. Maka, bagi pemilik motor berban besar, pergilah ke bengkel—ganti dengan ban sepatu roda. Agar putarannya liar, pahalanya besar.

‘Ala Kulli Hal,

Shalat fardhu lelaki beriman berada di masjid: tegap menjemput ridha-Nya, bukan tumbang diterjang hujan.

Hujan hanyalah medium; langkah kaki menuju masjid menjadi timbangannya. Selebihnya, langit tinggal membukukan—siapa hamba sejati.

Selasa, 6 Januari 2026.

ddi abrad 1