Nuansa Dibalik Polesan Cat Ramadhan

0
21

Nuansa Dibalik Polesan Cat Ramadhan

Oleh: Suf Kasman

Dosen Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

RAMADHAN telah memasuki tahap akhir—hari ke-24. Di sela perjalanan tausiah keliling, batin terasa semakin merunduk. Dalam keadaan itu, pikiran saya melayang pada hal-hal sederhana—termasuk rumah yang setiap hari menjadi tempat pulang.

Menjelang Lebaran, segala hal yang tampak kusam terasa layak dipoles kembali. Jangan hanya hati diperbarui oleh iman, tetapi juga ruang tempat kembali.
Rumah, seperti jiwa, kadang perlu disentuh ulang agar terasa hidup.

Maka diputuskan memanggil dua tukang cat profesional untuk memperbarui suasana rumah di Bukit Baruga.

Dari sudut pandang saya, gerak jemari Daeng Lewa dan Andre begitu telaten mendempul bagian dinding yang retak. Proses tambal sulam sederhana itu terasa simbolik—seperti usaha memperbaiki retakan amal selama sebulan Ramadhan.

Saya turun tangan memilih warna sendiri, bolak-balik ke toko cat di Rappocini untuk menentukan cat mix dengan bantuan mesin Mowilex Emulsion. Pilihan warna sekitar 2.500 varian, menyadarkan betapa luas spektrum keindahan Allah di bumi ini.

Setelah menimbang cukup lama, jatuhlah pilihan pada Mowilex Silky Cream—warna ketenangan, cermin kesederhanaan batin yang coba diraih melalui lapar dan dahaga.

Di sela deru mesin pencampur warna, muncul renungan: hidup memang harus berwarna. Hidup adalah seni, dan kitalah yang memegang kuas di atas kanvas takdir. Pikiran itu kembali terlintas ketika melihat mereka mulai mengecat dinding rumah.

Kehidupan para tukang cat terasa berwarna. Mereka bekerja serius tetapi santai. Kerja tak harus di kantor; terpenting hasilnya nyata di depan mata.

Namun, bicara soal warna, ingatan kembali pada sebuah candaan sederhana dari seorang kawan—membuat senyum tak sengaja tersungging.

Suatu ketika seseorang bertanya kepada temannya,
“Menurutmu, angin itu warnanya apa?”

Temannya menjawab dengan yakin,
“Angin tidak punya warna. Transparan.”

Orang pertama tertawa kecil lalu berkata,
“Ah, kamu keliru. Angin itu warnanya merah. Coba saja kerokan setelah masuk angin—punggungmu pasti langsung merah menyala, mirip habis digebukin. Kadang-kadang, pengkeroknya suka memberi motif ‘Baliho’ kampanye, lho!”

Candaan itu sederhana, bahkan terdengar konyol. Namun justru di situlah letak senyumnya. Kadang kita terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hanya dari apa tampak di permukaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal semacam itu sering terjadi. Ada orang pandai berkata-kata; kalimatnya berwarna-warni seperti balon di langit, tetapi isinya hanya angin. Ada pula yang tampak biasa saja, namun diam-diam menyimpan ketulusan mampu menyelamatkan banyak orang.

Di bulan Ramadhan seperti sekarang, candaan kecil itu terasa seperti sentilan halus. Ia mengingatkan bahwa tidak semua tampak indah benar-benar berisi, dan tidak semua tampak sederhana kehilangan makna.

Hidup ini tidak hanya hitam dan putih. Ia penuh warna-warni.

Sambil memperhatikan semangat mereka tetap stabil melumuri dinding rumah—meski sedang berpuasa—teringat sebuah kisah lama yang selalu indah direnungkan kembali.

Alkisah, seorang pria diminta mengecat sebuah perahu. Saat kuas menyapu lambung kapal, ia menemukan sebuah lubang kecil tersembunyi. Tanpa diminta, ia menambalnya dengan rapi.

Pekerjaan selesai. Ia menerima upah sepantasnya, lalu pergi.

Tak lama berselang, pemilik perahu kembali menemui si tukang cat dan memberinya cek bernilai fantastis.

“Anda sudah membayar upah saya, Tuan,” ujar si tukang cat terkejut.

“Ini bukan upah mengecat,” jawab pemilik perahu.
“Ini karena Anda telah menambal lubang di lambung perahu saya.”

Ternyata, tanpa sepengetahuan pemiliknya, anak-anaknya telah pergi memancing menggunakan perahu itu. Sang ayah sempat panik luar biasa karena ia tahu perahu tersebut bocor. Namun mereka pulang dengan selamat—berkat tambalan kecil dilakukan secara diam-diam.

Di situ terlihat bagaimana Allah menyelamatkan nyawa melalui ketulusan tangan seorang tukang cat.

Di penghujung Ramadhan ini, kisah itu menjadi cermin bagi kita.

Hidup penuh warna bukan hanya tentang kegembiraan, tetapi juga kesedihan, perjuangan, dan harapan. Keanekaragaman emosi—semangat (merah), keceriaan (kuning), dan ketenangan (biru)—memberi makna bagi setiap sujud.

Dinding rumah mulai mengering setelah dikerjakan Daeng Lewa dan Andre dengan sabar. Hidup memang seperti warna di atas kanvas—tidak selalu indah di mata manusia, tetapi tetap bermakna bila dilandasi keikhlasan.

Di penghujung Ramadhan ini, tersadar akan makna di balik polesan cat. Setiap warna yang Allah goreskan dalam hidup menjadi pelajaran berharga, menjadikan perjalanan menuju hari fitri terasa utuh dan bermakna.

Sabtu, 24 Ramadhan 1447 H/14 Maret 2026
SK

ddi abrad 1