Islam Dan Kesehatan Serta Relevansinya Dengan Puasa

0
159

Islam dan Kesehatan serta Relevansinya dengan Puasa

Dr. H. Andi Muhammad Akmal, S.Ag, M.HI* (Ketua IADI Kab.Soppeng)

Islam merupakan agama yang secara integral menyatukan aspek spiritual, moral, sosial, dan kesehatan dalam kehidupan manusia. Syariat tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga memelihara keberlangsungan tubuh dan kesejahteraan fisik manusia.

Kesehatan dalam Islam merupakan bagian dari nikmat Allah yang harus dijaga. Oleh karena itu, berbagai ibadah dalam Islam memiliki dimensi kesehatan yang jelas, salah satunya adalah puasa.

Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan mekanisme pembinaan diri yang berpengaruh pada tubuh, pikiran, dan jiwa.

Relevansi antara Islam dan kesehatan tampak jelas dalam cara puasa meningkatkan keseimbangan metabolisme, menstabilkan emosi, dan menyehatkan sistem saraf serta organ tubuh.

Allah Swt. berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan makanlah serta minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A‘rāf [7]: 31).

Ayat ini merupakan dasar etika konsumsi dalam Islam. Tafsir al-Qurṭubī menegaskan bahwa syariat melarang pola makan yang berlebihan karena ia merusak kesehatan tubuh dan mengganggu keseimbangan organ.

Imam Ibn al-Qayyim dalam Zād al-Ma‘ād menjelaskan bahwa salah satu sumber utama penyakit adalah kelebihan makan yang menghasilkan penumpukan zat, melemahkan fungsi organ, dan menurunkan vitalitas.

Puasa hadir sebagai mekanisme yang mengembalikan keseimbangan tersebut. Dengan menahan makan dan minum dalam rentang waktu tertentu, tubuh diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, mencerna cadangan energi, serta membersihkan sistem metabolisme.

Allah Swt. juga berfirman mengenai puasa:

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan berpuasa itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 184).

Dalam tafsir al-Ṭabarī, frasa khayrun lakum tidak hanya bermakna kebaikan spiritual, tetapi juga kemaslahatan fisik dan mental.

Dalam bahasa syariat, kebaikan adalah sesuatu yang memberikan manfaat menyeluruh bagi manusia. Artinya, puasa membawa kebaikan pada tubuh, akal, jiwa, dan hubungan sosial.

Rasulullah Saw. bersabda:

«صُومُوا تَصِحُّوا»

“Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.” (HR. Ṭabarānī).

Walaupun sebagian ulama menilai kualitas sanad hadis ini memiliki kelemahan, namun maknanya sejalan dengan realitas empiris yang dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern.

Imam al-Suyūṭī menyatakan bahwa makna hadis tersebut bersifat tajribī (terverifikasi oleh pengalaman dan fatwa ilmiah): puasa merupakan sarana pembersihan tubuh dan penataan ulang metabolisme.

Dari sudut pandang kesehatan modern, puasa (khususnya pola intermittent fasting) diketahui memicu mekanisme autophagy, yaitu proses biologis ketika sel-sel tubuh membersihkan komponen rusak dan memperbarui jaringan.

Penemuan fenomena ini mendapat pengakuan ilmiah internasional ketika Yoshinori Ohsumi dianugerahi Nobel Kedokteran pada tahun 2016 untuk penelitiannya tentang autophagy. Dengan demikian, syariat puasa berhubungan langsung dengan mekanisme penyembuhan internal tubuh.

Selain itu, puasa dapat menurunkan kadar insulin, meningkatkan sensitivitas insulin, dan membantu mengontrol diabetes tipe 2 pada pasien yang terpantau dengan baik.

Penelitian medis juga menunjukkan bahwa puasa mengurangi kadar trigliserida dan kolesterol LDL, sehingga mencegah penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah. Dengan kata lain, puasa adalah intervensi preventif dan terapeutik yang bersifat alami.

Dari perspektif neurologi, puasa meningkatkan produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yakni protein penting yang menjaga kesehatan neuron, meningkatkan kemampuan memori, serta melindungi otak dari risiko Alzheimer dan Parkinson.

Peningkatan BDNF juga membantu regulasi mood, sehingga puasa berperan dalam stabilitas emosional dan pencegahan depresi. Emosi yang lebih stabil mempermudah seseorang untuk berpikir jernih, berperilaku rasional, dan menghindari tindakan reaktif. Dengan demikian, puasa tidak hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga menyehatkan pikiran.

Dimensi psikologis puasa juga sangat kuat. Puasa melatih kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification), sebuah mekanisme kognitif yang sangat penting dalam pembentukan kedewasaan emosional.

Orang yang mampu menunda keinginan sesaat untuk tujuan yang lebih baik memiliki potensi lebih besar untuk memiliki kontrol diri, kesabaran, dan ketangguhan mental.

Dalam pandangan psikologi modern, kemampuan ini disebut executive control, yaitu kemampuan otak bagian prefrontal untuk mengendalikan dorongan amygdala. Puasa, dengan latihannya yang teratur, memperkuat struktur mental ini.

Dalam ranah spiritual, kesehatan juga memiliki makna yang lebih luas. Islam melihat manusia sebagai kesatuan tubuh dan jiwa. Keduanya saling mempengaruhi dan saling membutuhkan.

Dengan puasa, tubuh disucikan dari toksin, jiwa dibersihkan dari egoisme dan kelalaian, dan akal dibebaskan dari kabut syahwat yang membebani pemikiran. Puasa juga memberi waktu kepada manusia untuk merenung, mengevaluasi diri, dan memperkuat hubungan dengan Allah.

Allah Swt. berfirman:

يُرِيدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Ayat ini menunjukkan bahwa syariat puasa tidak dimaksudkan untuk menyiksa tubuh, tetapi untuk memperbaikinya. Karena itu, Islam memberikan keringanan bagi orang yang sedang sakit, hamil, menyusui, atau dalam perjalanan. Keringanan ini adalah bukti bahwa tujuan puasa adalah kemaslahatan, bukan pembebanan.

Dari perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, puasa mendukung penjagaan kesehatan (ḥifẓ al-nafs) dan penjagaan akal (ḥifẓ al-‘aql).

Syariah datang untuk memelihara keselamatan tubuh dan kejernihan pikiran. Oleh sebab itu, puasa mengandung hikmah yang menyentuh seluruh aspek keberadaan manusia.

Dengan demikian, relevansi Islam dan kesehatan melalui puasa adalah nyata dan mendalam. Puasa menyembuhkan fisik, menenangkan jiwa, memperkuat struktur kognitif, meneguhkan spiritualitas, dan membangun moralitas.

Ia adalah terapi menyeluruh yang memulihkan keseimbangan diri manusia sebagai makhluk spiritual-biologis yang utuh.

Ketika puasa dijalankan dengan penuh kesadaran, bukan karena rutinitas, ia menjadi jalan menuju kesehatan lahir dan batin.

Puasa adalah rahmat yang hidup—rahmat yang dapat dirasakan detak demi detak dalam tubuh dan jiwa.

ddi abrad 1