Sikap Mukmin Seusai Ramadhan

0
53

MUTIARA HIKMAH

ANRE GURUTTA MANGKOSO

by Muh. Aydi Syam

SIKAP PENTING DIMILIKI OLEH ORANG BERIMAN SEUSAI MENUNAIKAN PUASA RAMADAN SELAKU IBADAH BESAR

بِسْمِ اللّٰهِ الرٌَحْمٰنِ الرٌَحِيْمِ

01. Targetnya ibadah puasa adalah mencapai derajat taqwa dalam arti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Kendati definisi itu sesungguhnya adalah implementasi dari makna taqwa.

02. Ketika berbicara tentang taqwa, Nabi Saw. menepuk dadanya sesuai hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا (وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ) بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ” (رواه مسلم: ٢٥٦٤).

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kalian saling hasad, jangan melakukan najasy (menaikkan harga secara tipu), jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan tidak boleh sebagian dari kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain.

Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Dia tidak boleh menzaliminya, tidak pula membiarkannya, dan juga tidak boleh merendahkannya.

Taqwa itu di sini (sambil menunjuk dadanya tiga kali). Cukuplah seseorang dianggap buruk jika ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya” (HR Muslim: 2564).

03. Seseorang belum dianggap bertaqwa sebelum meninggalkan segala hal yang tidak apa-apa baginya demi untuk menghindari segala hal yang mendatangkan apa-apa. Berikut penjelasan Rasulullah Saw.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال النبي ﷺ: لَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ” (رواه الترمذي: ٢٤٥١).

Artinya:

“Seorang hamba tidak akan termasuk orang-orang yang bertakwa hingga ia meninggalkan sesuatu yang tidak mengapa (hal yang mubah) karena khawatir terhadap sesuatu yang mengandung larangan” (HR al-Tirmiziy: 2451).

04. Di antara hal-hal yang halal dan haram, ada hal yang samar. Bagi orang yang bertaqwa, jangankan yang jelas haramnya, yang samar haramnya pun sudah dihindari. Ini ditandaskan pada hadis Nabi Saw. berikut ini:

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ، أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ” رواه البخاري: ٥٣ ومسلم: ١٥٩٩).

Artinya:

Dari Nu’man bin Basyir r.a., ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar (syubhat) yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barang siapa menjaga dirinya dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh dalam perkara syubhat, maka ia terjatuh dalam hal yang haram. Seperti seorang penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, hampir saja ia masuk ke dalamnya.

Ketahuilah, setiap raja memiliki wilayah larangan, dan wilayah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika daging itu baik, maka seluruh tubuh baik, dan jika daging itu rusak maka seluruh tubuh rusak. Ketahuilah, daging itu adalah hati” (HR al-Bukhariy: 52 dan Muslim: 1599).

05. Ada cerita tentang sikap wara’ (sikap hati-hati) dari al-Maghfuru lah AG Daud Ismail Soppeng.

Pada tahun 1925-1929 M, beliau belajar di Lapasu, Soppeng Riaja, kab. Barru [sekitar 3 KM dari Mangkoso ke arah Makassar]. AG Daud Ismail berguru kepada AG Haji Daeng [nama aslinya AG. Usman] di sana.

Suatu hari AG H. Daeng diantarkan kepiting bertelur oleh seseorang. Beliau bertanya, “apakah engkau sudah melakukan shalatmu?” Katanya, “belum Puang [wahai Tuan Guru].” AG H. Daeng mengatakan kepadanya, “Ambillah dulu kepitingmu! Nanti setelah engkau lakukan shalatmu lalu antar kepitingmu ke sini!”

06. Itulah potret sikap wara’ seorang ulama, tegas menghindari sesuatu yang pada dasarnya boleh diterima karena tidak ada larangan syari’at yang jelas. Namun beliau berfikir, bila seseorang belum shalat, maka dia mengkhianati Tuhannya. Kalau saja Tuhannya berani dikhianati, maka pasti lebih berani lagi mengkhianati sesamanya. Dengan demikian, hal-hal yang diharamkan masih rawan dilakukannya.

07. Ada tiga sifat yang mesti dimiliki oleh orang yang bertaqwa, yaitu: a. wara’, b. zuhud (tidak tergiur oleh dunia), dan c. istiqamah (konsisten). Ketiga sifat itu akan mengantarkan seorang hamba untuk sampai pada derajat “waliyullah” (hamba yang dekat kepada Tuhannya).

08. Seorang sahabat pernah meminta nasihat kepada Rasulullah Saw. tentang sesuatu yang beliau tidak menanyakannya kecuali hanya kepadanya. Rasulullah Saw. mengatakan kepadanya, “Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah.” Kemudian istiqamahlah engkau!” Berikut kutipan hadisnya:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ، قَالَ: قُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ” (رواه مسلم: ٣٨).

Artinya:

Dari Sufyan bin Abdullah al-Tsaqafiy, r.a., beliau bercerita, “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam ini tentang suatu perkataan yang aku tidak perlu bertanya lagi kepada siapa pun setelah engkau!” Beliau bersabda, “Ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah!” (HR Muslim: 38).

09. Terkait dengan sikap istiqamah, Rasulullah Saw. juga berpesan untuk mendawamkan/merutinkan amalan karena itulah karakter amal yang lebih disenangi oleh Allah Swt. Kendati amal itu sedikit tapi rutin, maka masih lebih disenangi oleh Allah dari pada amal yang banyak tapi tidak rutin. Berikut kutipan hadisnya:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ” (رواه البخاري: ٦٤٦٤ ومسلم: ٧٨٣) وفي رواية: “كَانَ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ” (رواه مسلم: ٧٨٢).

Artinya:

Dari Aisyah r.a., beliau berkata, “Rasulullah Saw. ditanya, “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Amalan yang paling rutin dilakukan meskipun sedikit” (HR al-Bukhary: 6464 dan Muslim: 783). Dalam riwayat lain:

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah “Azza Wajalla adalah yang dilakukan secara terus-menerus oleh pelakunya” (HR Muslim: 782/nomor hadisinya tergantung cetakan kitabnya).

10. Seorang hamba bisa atau tidak bisanya istiqamah dalam beramal sangat tergantung pada niatnya. Niat itu menjadi panduan seorang hamba dalam beramal. Niat itu tidak ada batasnya sementara amal itu ada batasnya. Itulah sehingga dalam riwayat disebutkan:

عن أنس بن مالك، “نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ” (رواه البيهقي).

Artinya:

Dari Anas bin Malik r.a., “Niatnya orang beriman lebih mulia dari pada amalnya” (HR al-Baehaqy).

11. Nabi Saw. juga berpesan supaya seorang hamba jangan terbawa arus oleh keadaan sehingga tidak punya pendirian yang menentu. Berikut kutipan hadisnya:

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا” (رواه الترمذي: ٢٩٧).

Artinya:

Dari Hudzaifah r.a., ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kalian menjadi orang yang ikut-ikutan (tanpa prinsip) yang berkata, “Jika manusia berbuat baik, maka kami ikut berbuat baik dan jika mereka berbuat zalim, maka kami pun ikut berbuat zalim”, melainkan mantapkanlah diri kalian! Jika manusia berbuat baik, maka berbuat baiklah dan jika mereka berbuat buruk, maka janganlah kalian berbuat zalim!” (HR al-Tirmidzy: 2007).

12. Berikut beberapa ayat al-Qur’an yang berbicara tentang istiqamah dan Fadilahnya:

a. QS al-Jinn: 16

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا ۝١٦

Terjemahnya:

“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu, niscaya Kami akan memberi mereka air yang melimpah.”

b.QS Fussilat: 30

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ ۝٣٠

Terjemahnya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih hati dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepada kalian!”

c. QS Ali Imran: 08

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ۝٨

Terjemahnya:

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia).”

13. Kemuliaan bagi orang yang istiqamah dengan amalannya saat dia belum uzur. Pada saat nanti uzur, maka dia tetap mendapatkan pahalanya kendati dia tidak lagi menunaikannya karena uzur. Hal ini disebutkan oleh Rasulullah Saw. pada riwayat berikut:

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ صَحِيحًا مُقِيمًا ‘(رواه البخاري: ٢٩٩٦).

Artinya:

Dari Abu Musa Al-Asy‘ari r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau musafir, maka dicatat baginya pahala seperti apa yang biasa dia lakukan ketika sehat dan muqim” (HR al-Bukhary: 2996).

14. Berikut salah satu hadis yang terkait dengan kemuliaan orang-orang yang istiqamah dengan imannya hingga akhir hayatnya:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ. قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ الْمَوْتَ، فَقَالَ: لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ، وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ “(رواه البخاري: ٦٥٠٧ ومسلم: ٢٦٨٣).

Artinya:

Dari Ubadah bin Shamit r.a., Nabi Saw. bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah mencintai pertemuan dengannya.” Aisyah r.a. berkata, “Kami semua tidak menyukai kematian.” Beliau menjawab, “Bukan itu maksudnya. Seorang mukmin ketika datang kematian kepadanya, ia diberi kabar gembira dengan ridha dan kemuliaan dari Allah sehingga tidak ada yang lebih ia sukai dari pada apa yang ada di hadapannya (Akhirat), maka ia pun mencintai pertemuan dengan Allah” (HR al-Bukhariy: 6507 dan Muslim: 2683).

15. Dari hadis di atas sehingga disandarkan suatu ungkapan yang masyhur di kalangan ulama sebagai berikut:

“لا يموت المؤمن حتى يرى مقامه”

Artinya:

“Tidak akan meninggal seorang beriman hingga ia melihat tempatnya (di alam sana).”

16. Ramadhan adalah madrasah untuk umat. Para alumni Ramadhan telah dibekali dengan 3 sifat di atas yakni wara’, zuhud, dan istiqamah berkat puasa dan sejumlah ibadah lainnya dalam bulan Ramadhan sehingga mereka terarah untuk sampai pada predikat taqwa yang selanjutnya bisa berproses menuju tingkat “waliyullah”, insya Allah.

17. Mari kita mengamalkan do’a berikut untuk mendapatkan penghujung usia yang baik:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ.

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu penghujung usia yang baik dan aku berlindung kepada-Mu dari penghujung usia yang buruk”.

Mangkoso, 13 Syawal 1447 H

02 April 2026

ddi abrad 1