Tuhan Saja Tak Ditakuti, Apalagi Cuma Aturan

0
26

Tuhan Saja Tak Ditakuti, Apalagi Cuma Aturan

Oleh: Suf Kasman

Mari kita bicara jujur—atau setidaknya, jujur sambil tertawa getir. Saya sering bertanya: apa bumbu rahasia yang membuat Singapura, Jepang, Dubai, dan Tiongkok melesat seperti roket, sementara di negeri ini energi publik justru habis untuk polemik yang tak berkesudahan—bahkan isu ijazah palsu terus melebar ke sana kemari, seolah mencari tumbal baru—satu demi satu dari deretan tokoh nasional.

Jawabannya, barangkali sederhana: rasa takut.

Negara-negara maju itu hidup dalam tekanan eksistensial. Mereka tidak punya kemewahan untuk lengah. Singapura selalu dibayangi kecemasan menjadi tak relevan di tengah kepungan negara besar. Jepang ditempa trauma bencana dan keterbatasan sumber daya. Dubai berpacu dengan waktu sebelum keran minyak mengering. Sementara Tiongkok, sejak lama dihantui bayang-bayang disintegrasi dan ancaman perut kosong bagi miliaran warganya.

Mereka maju karena takut: takut mati, takut tertinggal, dan takut kehilangan kedaulatan.

Lalu bagaimana dengan negeri ini?

Di sini saya melihat ironi nyaris paradoksal. Negeri ini dihuni manusia-manusia yang terlalu berani. Tuhan saja tidak ditakuti, apalagi sekadar aturan bisa ditawar bahkan diakali.

Tentu tidak semua demikian, tetapi gejala ini cukup terasa.

Buktinya kasatmata. Tuhan disembah di setiap sudut jalan, tetapi kerap “diparkir” rapi saat keputusan mulai diperdagangkan.

Tengok saja mereka yang pernah bersumpah di bawah berbagai kitab suci—Al-Qur’an, Alkitab, Weda, Tripitaka—lalu pada suatu hari tampil dengan rompi oranye, seolah menghadiri babak lanjutan dari janji yang mereka khianati sendiri.

Kitabnya beragam, sumpahnya khidmat, tetapi maknanya kerap menguap di ruang-ruang kekuasaan—seolah Tuhan hanya dihadirkan saat pelantikan, lalu dilupakan begitu kepentingan mulai diperjualbelikan.

Sumpah yang seharusnya sakral itu, di tangan sebagian oknum, menyusut menjadi sekadar seremoni: khidmat di bibir, kosong di nurani—bahkan kadang hanya menjadi tiket masuk menuju pengkhianatan yang lebih rapi.

Para pencuri uang rakyat tampaknya tidak gentar pada kutukan Tuhan; mereka lebih takut pada operasi tangkap tangan.

Bahkan ketika tertangkap, tak sedikit yang masih mampu tersenyum di depan kamera, seolah sedang menjalani sesi pemotretan, bukan mempertanggungjawabkan pengkhianatan.

Seakan-akan penjara hanyalah jeda—semacam “ruang tunggu”—sebelum kembali ke panggung dengan cerita baru.

Saya kadang membayangkan: andai setiap pelanggaran sumpah benar-benar dibalas seketika—nyawa melayang—barangkali banyak kursi kekuasaan yang kosong lebih cepat daripada proses pelantikannya dulu.

Masalahnya bukan sekadar pelanggaran, melainkan hilangnya rasa gentar. Padahal, bagi sebuah bangsa, rasa takut itu ibarat rem. Sehebat apa pun laju mesin ekonomi dipacu, tanpa rem yang berfungsi, kita sejatinya hanya mempercepat waktu menuju kecelakaan.

Di sini, justru ada yang bangga memutus kabel rem itu. Setelah itu, tak heran jika mereka melaju tanpa kendali—menerobos setiap “lampu merah” aturan Tuhan, dengan keyakinan bahwa “asuransi” pengampunan selalu tersedia: cukup dengan ritual, donasi, atau perjalanan spiritual umrah.

Seolah-olah Tuhan bisa “ditenangkan”, sementara hak rakyat tetap dirampas tanpa ragu—khusyuk dalam ibadah, tetapi longgar dalam amanah.

Jika bangsa lain maju karena takut pada ancaman nyata, kita justru tersandera oleh ketiadaan rasa takut itu sendiri. Hukum dinegosiasikan, saksi diatur, dan Tuhan diposisikan terlalu Maha Pengampun—seakan-akan tidak pernah ada batas yang benar-benar harus dipatuhi.

Maka, jangan lagi bertanya kapan bangsa ini maju. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: kapan manusia di dalamnya kembali memiliki rasa gentar—bukan yang melemahkan, melainkan yang menuntun; bukan yang membuat lari, melainkan yang menahan diri saat godaan datang.

Ironinya, ada yang tak takut neraka, tetapi gemetar saat saldo menipis. Neraka akhirat terasa jauh, sementara “neraka dunia” bernama kehilangan materi justru terasa dekat.

Seorang teman pernah berseloroh, “Tidak apa-apa saya digelandang ke neraka, yang penting di kotanya.” Eh, sontoloyo juga kawan ini!

Ia membayangkan neraka seperti kota metropolitan—lampu gemerlap, hiruk-pikuk, bahkan dihiasi bayangan panggung hiburan dengan dandanan mencolok bak artis-artis ibu kota. Tentu saja, itu keliru—seribu persen.

Di sana bukan kota lagi. Yang terbayang justru semacam lanskap liar: seperti rawa berlumpur api dengan “oven raksasa” di mana-mana—panasnya tak butuh listrik, apalagi tenaga nuklir Iran.

Cara berpikir seperti ini mengingatkan saya pada hal lain. Seorang teman lain pernah dengan enteng berkata tak takut Tuhan karena yakin Tuhan Maha Pengampun.

Bagi saya, logika itu seperti menerobos lampu merah hanya karena tahu rumah sakit ada di depan: obat memang tersedia, tetapi apakah harus mencelakakan diri lebih dulu untuk membuktikannya?

Di situlah satirnya—ketika pengampunan dijadikan alasan untuk berani melanggar, bukan untuk belajar menahan diri.

Ketika rasa takut kehilangan arah, keberanian berubah menjadi kesombongan. Dan ketika kesombongan menjadi kebiasaan, kehancuran tinggal menunggu waktu.

Saya kira, kita perlu berhenti sejenak—merenung sebelum rasa gentar itu benar-benar lenyap, dan bangsa ini tersesat dalam keberanian yang keliru.

Jum’at, 17 April 2026

SK

ddi abrad 1