AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.
Membaca Al-Qur’an menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Arbain, bukan sekadar melafazkan huruf, melainkan ibadah batin untuk memahami, merenungi (tadabbur), dan menghadirkan hati (hudhurul qalb) agar terpengaruh oleh ayat yang dibaca.
Beliau menekankan adab zahir (suci, menghadap kiblat, tartil) dan adab batin (menghayati keagungan kalam Allah) untuk mencapai hakikat:
Berikut adalah poin-poin penting membaca Al-Qur’an menurut Imam Al-Ghazali:
Adab Zahir (Fisik):
Bersuci dan Sopan:
Membaca dalam keadaan suci (berwudhu), duduk sopan menghadap kiblat, dan berpakaian rapi.
Tartil:
Membaca dengan pelan dan jelas (tidak terburu-buru) untuk membantu perenungan makna.
Waktu Utama:
Disunnahkan membaca di malam hari, terutama sepertiga malam terakhir, karena lebih khusyuk dan mustajab.
Khatam:
Imam Al-Ghazali tidak menyarankan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari 3 hari agar bisa memahami isinya.
Adab Batin (Hati dan Jiwa):
Menghadirkan Hati (Hudhurul Qalb):
Merasakan bahwa ayat yang dibaca adalah sapaan langsung dari Allah kepada jiwa pembacanya.
Tadabbur dan Tafahhum:
Merenungkan makna ayat per ayat, bukan sekadar mengejar target jumlah bacaan.
At-Taatstsur (Terpengaruh):
Hati tergerak sesuai ayat. Takut saat membaca ayat ancaman, berharap saat ayat rahmat, dan agung saat membaca ayat sifat Allah.
Menangis (Tabaaki):
Memaksa diri untuk menangis atau setidaknya sedih karena merenungkan kelalaian diri dan janji/ancaman Allah.
10 Adab Batin Menurut Imam Al-Ghazali:
Memahami keagungan kalam Allah.
Mengagungkan Allah yang berfirman.
Menghadirkan hati (fokus).
Tadabbur (merenungkan makna).
Tafahhum (berusaha memahami).
Tafahhum (melepaskan penghalang pemahaman).
Takhshish (merasa ayat ditujukan untuk diri sendiri).
At-Taatstsur (hati terpengaruh ayat).
Taraqqi (merasa diangkat derajatnya).
Tabarri (melepas diri dari daya upaya sendiri, bersandar pada Allah).








