Hakikat Ibadah Qurban

0
24

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc , MA.

Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan simbolis penyembelihan sifat-sifat kebinatangan (egoisme, hawa nafsu, rakus) dalam diri manusia.

Kurban adalah bentuk makrifat (mengenal Allah) dan pendekatan diri (taqarrub) tertinggi dengan mengorbankan ego demi ketaatan.

Berikut adalah poin-poin penting pandangan Imam Al-Ghazali mengenai kurban:

A) Penyembelihan Sifat Kebinatangan:

Imam Ghazali menjelaskan manusia memiliki empat karakter dasar:

1) Rububiyah (ketuhanan),

2) Syaithaniyah (setan),

3) Bahimiyah (binatang ternak/rakus), dan

4) Sabu’iyah (binatang buas/ganas).

Kurban bertujuan menyembelih sifat Bahimiyah dan Sabu’iyah yang merusak pola hubungan harmonis manusia dengan Tuhan dan sesama.

B) Totalitas Kepatuhan

Berkurban adalah wujud ketaatan mutlak, meniru Nabi Ibrahim yang siap mengorbankan apa pun—bahkan yang paling dicintai—demi perintah Allah SWT.

C) Simbol Pengorbanan Diri

Esensi kurban adalah “menyembelih” nafsu dan ego, bukan sekadar darah dan daging hewan.

D) Pembersihan Jiwa

Dengan menyembelih hewan kurban, seseorang diharapkan dapat melepaskan sifat-sifat buruk dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Secara ringkas, kurban menurut Imam Ghazali adalah ibadah yang menggabungkan aspek syariat (penyembelihan fisik) dan hakikat (penyucian jiwa dari sifat rendah).

ddi abrad 1