Konsep Ittiba’ Nabi Perspektif Al-Gazali

0
25

KONSEP _ITTIBA’UN-NABIY_ PERSPEKTIF AL-GAZALI

oleh: AG Ketum PB DDI

[12 Dzulhijjah 1447 H/2026 M]

بِسْمِ اللّٰهِ الرٌَحْمٰنِ الرٌَحِيْمِ

Dalam rumusan Imam al-Ghazali, “mengikuti sunnah (ittiba’ Nabi)” bukan sekadar meniru bentuk lahiriah (pakaian atau kebiasaan fisik), tetapi menghidupkan substansi spiritualnya dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep ini dijelaskan dalam kitab Arbain dan terbagi menjadi beberapa prinsip utama:

A. Merasakan suasana hati yang Ikhlas

Imam al-Ghazali menekankan bahwa ruh dari setiap amal sunnah adalah keikhlasan dan hadirnya hati.

Amalan lahiriah (fisik) tidak ada nilai ibadahnya tanpa didasari keikhlasan dan ketulusan hati karena Allah SWT untuk meneladani Rasulullah, bukan untuk pamer atau mencari pujian.

B. Keseimbangan antara Ibadah, Adab dan Akhlak

Mengikuti sunnah mencakup semua aspek kehidupan, yang dibagi oleh Imam al-Ghazali menjadi empat pilar amalan utama:

1. Ibadah: Menjaga amalan wajib serta menyempurnakannya dengan sunnah-sunnah shalat, puasa, dan dzikir, namun tetap memahami kedalaman maknanya.

2. Muamalah (Sosial): Meneladani akhlak Nabi dalam pergaulan, seperti jujur, amanah, dan membawa manfaat bagi masyarakat.

3. Adab, Akhlak/suluk: Menghiasi diri dengan tata krama seperti rendah hati, sabar, dan menjauhi sifat tercela (seperti dengki sombong dll).

4. Etika Sehari-hari: Termasuk sunnah dalam hal makan, tidur, berpakaian, potong kuku dan menjaga kebersihan.

C. Ibadah Sunnah Melengkapi yang Wajib

Amalan sunnah berfungsi sebagai penyempurna kekurangan yang ada pada ibadah wajib.

Menurut Imam al-Ghazali, orang yang benar-benar mengikuti sunnah akan disiplin menjaga yang fardhu terlebih dahulu, baru kemudian menghiasi harinya dengan amalan sunnah.

والله أعـــــلم بالصــــواب

وبالله التوفيق والدعوة والإرشاد

ddi abrad 1