AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.
8. Menjadikan Media Sosial Sebagai Cermin Akhlak
Media sosial sebenarnya adalah cermin kepribadian seseorang.
Dari cara kita berkomentar, menulis caption, hingga memilih konten yang dibagikan, orang lain bisa menilai karakter dan nilai-nilai yang kita pegang.
Karenanya, penting bagi setiap muslim untuk menjadikan media sosial sebagai tempat mencerminkan akhlak baik sopan dalam berbahasa, santun dalam berdiskusi, dan rendah hati dalam berinteraksi.
Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang lemah lembut dan penyayang, bahkan kepada orang yang tidak menyukainya.
Sikap itulah yang seharusnya menjadi contoh bagi kita semua dalam bersikap, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
9. Kesadaran akan Jejak Digital
Segala sesuatu yang kita unggah di internet akan meninggalkan jejak digital, dan bisa diakses oleh banyak orang untuk waktu yang lama.
Karena itu, setiap postingan hendaknya dipikirkan matang-matang sebelum dibagikan.
Jejak digital bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal moral. Jika kita menyebarkan hal baik, itu bisa menjadi amal jariyah namun jika yang disebarkan keburukan, maka dosa itu bisa terus mengalir.
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Etika bermedia sosial dalam Islam bukan hanya tentang sopan santun berkomentar, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga hati, pikiran, dan niat dalam berinteraksi di dunia maya.
Dunia digital memberikan kebebasan, tapi kebebasan itu harus disertai tanggung jawab moral dan spiritual.
Menjadi pengguna media sosial yang beretika berarti menjadi pribadi yang sadar bahwa setiap jari yang mengetik adalah bagian dari amanah.
Maka, gunakanlah media sosial untuk memperluas kebaikan, mempererat ukhuwah, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Wallahu Waliyu Dakwah wal Irsyad












