MUTIARA HIKMAH
ANRE GURUTTA MANGKOSO
by Muh. Aydi Syam
بِسْمِ اللّٰهِ الرٌَحْمٰنِ الرٌَحِيْمِ
MENJEMPUT HARI ‘ASYURA
01. Firman Allah Ta‘ālā dalam QS al-Tawbah (9): 36:
* ﴿ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ ﴾ ﴿٣٦﴾
Terjemahnya:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.
Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan-bulan) itu. Dan perangilah kaum musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
02. Empat bulan haram yang dimaksud dalam ayat tersebut dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam hadis:
* ﴿ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ ﴾¹
Artinya:
“Setahun itu terdiri dari dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram; tiga bulan berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, serta Rajab Mudhar yang berada antara Jumada dan Sya‘ban.”
03. Adapun arti secara etimologi dari 4 bulan itu adalah:
a. Dzulqa’dah artinya duduk di rumah, tidak pergi berperang dan senjata diletakkan;
b. Dzulhijjah artinya orang menunaikan ibadah haji;
c. Muharram artinya diharamkan segala hal yang tidak baik; dan
d. Rajab itu artinya menahan diri.
04. Pada bulan sakral ini dilarang berbuat zalim. Seseorang yang berbuat dosa, disadari atau tidak, maka ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri karena Allah Swt. berfirman dalam QS al-Naḥl [16]: 97 berikut:
* ﴿ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾ ﴿٩٧﴾
Terjemahnya:
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari pada apa yang telah mereka kerjakan.”
05. Bagaiman jika orang kafir itu menyerang kita? Sementara ayatnya mengatakan:
* وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ ﴾ ﴿٣٦﴾
Dari ayat itu dipahami bahwa perang yang dimaksud adalah defensif (bertahan atau mempertahankan diri), terbukti dengan adanya ayat tersebut mengatakan:
كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ
Terjemahnya:
“… Sebagaimana mereka memerangi kalian secara keseluruhan …”
06. Na’as itu sebenarnya hanya untuk orang kafir, bukan orang beriman. Sesungguhnya yang ditimpa na’as adalah Fir’aun dan bala tentaranya, bukan nabi Musa dan pengikutnya yang beriman.
07. Oleh karena itu, bila merasa dirinya bukan pengikut Fir’aun, maka tidak pantas untuk meyakini na’as itu.
08. Kaitannya dengan amalan khusus di bulan Muharram, di antarnya adalah puasa. Rasulullah Saw. bersabda:
﴿ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ ﴾²
Artinya:
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharam. Dan shalat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.”
09. Dari hadis itu dipahami bahwa keutamaan puasa Muharram di antara semua puasa setelah puasa Ramadhan seperti keutamaan shalat Lail di antara semua shalat setelah shalat fardhu.
Olehnya itu, orang yang menjumpai bulan Muharram lalu tidak ada puasa sunnatnya, maka laksana orang yang melewati malam lalu tidak ada shalat malamnya.
10. Dalam salah satu riwayat juga dijumpai:
﴿ مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا ﴾³
Artinya:
“Barang siapa berpuasa satu hari pada bulan Muharam, maka baginya pahala seperti berpuasa tiga puluh hari.”
11. Menurut riwayat, puasa ‘Asyura’ lebih dahulu dilakukan oleh orang-orang Yahudi di Madinah. Berikut hadisnya dalam riwayat yang shahih:
* ﴿ لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ الْمَدِينَةَ، وَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، فَقَالَ: فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ، فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ﴾⁴
Artinya:
“Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Āsyūrā’. Beliau bertanya, ‘Hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah hari yang agung; pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, lalu Nabi Musa berpuasa pada hari itu.’
Maka Nabi ﷺ bersabda, ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Lalu beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk berpuasa kala itu.
12. Puasa Asyura’, dianjurkan untuk membedakan praktik puasanya orang Yahudi. Bagi kaum Muslimin, dianjurkan puasa sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. Berarti sebaiknya puasa 3 hari, yakni tanggal 09, 10, dan 11 Muharram.
* وروي بلفظ: «صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا وَبَعْدَهُ يَوْمًا”⁵
Artinya:
Disebutkan dalam suatu redaksi, “Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura dan berbedalah dengan orang-orang Yahudi! Berpuasalah kalian sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.”
13. Selain puasa, pada hari Asyura’ dianjurkan juga melonggarkan biaya keluarga seperti dalam riwayat berikut:
﴿ مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ ﴾⁶
Artinya:
“Barang siapa melapangkan (nafkah atau kebutuhan) keluarganya pada hari ‘Āsyūrā’, niscaya Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun itu.”
14. Rupanya praktik melonggarkan belanja keluarga pada hari Asyura’ itu bagian dari pada sempana (tafa’ul) karena Nabi Saw. senang tafa’ul. Doa dalam bentuk kiyat-kiyat atau simbol-simbol.
﴿ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُحِبُّ الْفَأْلَ الْحَسَنَ﴾⁷
Artinya:
“Rasulullah ﷺ menyukai al-fa’l (pertanda atau ucapan yang baik dan membawa harapan baik).”
Dalam riwayat lain disebutkan:
﴿كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعْجِبُهُ الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ﴾⁸
Artinya:
“Rasulullah ﷺ menyukai al-fa’l yang baik, yaitu ucapan yang baik.”
15. Di antara praktik sempana dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar adalah buah-buahan saat mengantar pengantin laki-laki.
Buah segar, manis, dan sehat artinya sakinah, mawaddah wa rahmah. Diharapkan keluarga pengantin itu nantinya tercipta suasana tentram (sakinah), mawaddah (dihiasi oleh rasa cinta), dan rahmah (diikat oleh kasih sayang).
وبالله التوفيق والدعوة والإرشاد
Mangkoso, 09 Muharram 1448 H
24 Juni 2026 M
Rujukan:
¹Abū ‘Abdillāh Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Tafsīr, Bāb Qaulih Ta‘ālā: ﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا﴾, no. 4662; Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Naysābūrī, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Qasāmah wa al-Muḥāribīn wa al-Qiṣāṣ wa al-Diyāt, no. 1679.
²Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Naysābūrī, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Ṣiyām, Bāb Faḍl Ṣawm al-Muḥarram, no. 1163.
³Dinisbatkan kepada sahabat Abū Hurairah ra. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ajurri dalam Faḍā’il al-Awqāt dan disebutkan pula oleh para ulama dalam kitab-kitab faḍā’il.
⁴Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥanbal, Al-Musnad, Musnad ‘Abd Allāh ibn al-‘Abbās, no. 2154; al-Bayhaqī, Al-Sunan al-Kubrā, Juz 4, hlm. 287. Al-Haythamī menyatakan bahwa dalam sanadnya terdapat Muḥammad ibn Abī Laylā yang diperselisihkan hafalannya sehingga hadis ini dinilai lemah oleh sebagian muḥaddithīn.
⁵Abū ‘Abdillāh Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Ṣawm, Bāb Ṣawm Yawm ‘Āsyūrā’, no. 2004; Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Naysābūrī, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Ṣiyām, Bāb Ṣawm Yawm ‘Āsyūrā’, no. 1130.
⁶Abū Bakr Aḥmad ibn al-Ḥusayn al-Bayhaqī, Syu‘ab al-Īmān (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 2003), Juz 5, hlm. 334, no. 3515; Abū al-Qāsim Sulaymān ibn Aḥmad al-Ṭabarānī, Al-Mu‘jam al-Awsaṭ, Juz 7, hlm. 197, no. 6804. Lihat pula Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī, Al-Durar al-Muntaṯirah fī al-Aḥādīṯ al-Musytahirah (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1985), hlm. 112.
Diriwayatkan dari sahabat Jābir ibn ‘Abdillāh ra. dan juga diriwayatkan melalui beberapa jalur dari sejumlah sahabat lainnya. Keterangan Status Hadis: Para ulama berbeda pendapat mengenai derajat hadis ini. Sebagian ahli hadis melemahkan masing-masing sanadnya secara tersendiri, namun sejumlah ulama seperti Jalal al-Din al-Suyuti, Ibn Hajar al-Asqalani, dan Ahmad ibn Muhammad al-Ghumari menilai bahwa banyaknya jalur periwayatan mengangkat hadis ini ke derajat ḥasan atau dapat diamalkan dalam faḍā’il al-a‘māl.
⁷Abū ‘Abdillāh Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Ṭibb, Bāb al-Fa’l, no. 5776; Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Naysābūrī, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Salām, Bāb al-Ṭiyarah wa al-Fa’l, no. 2224.
⁸Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Naysābūrī, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Salām, Bāb al-Ṭiyarah wa al-Fa’l, no. 2224.










