Manhaj Da’wah DDI

0
95

PENA ANRE GURUTTA KETUA UMUM PB DDI
Prof.Dr.AG. H.Andi Syamsul Bahri A.Galigo,Lc ,M.A.

Editor: Muh. Aydi Syam

بِسْمِ اللّٰهِ الرٌَحْمٰنِ الرٌَحِيْمِ

MANHAJ DA’WAH AMALAN DARUD DA’WAH WAL-IRSYAD [DDI] INTEGRASI TARBIYAH, IRSYAD, DAN KHIDMAH DALAM BINGKAI WASATHIYAH ISLAM*

A. Abstrak

Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI) merupakan salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Kawasan Timur Indonesia yang memiliki kontribusi signifikan dalam penguatan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Artikel ini mengkaji manhaj (metode) dakwah DDI yang berakar pada pemikiran pendirinya [AG H. Abdurrahman Ambo Dalle].

Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dan pendekatan historis-fenomenologis, maka penelitian ini menemukan bahwa manhaj dakwah DDI bertumpu pada tiga pilar utama (Tri-Tunggal DDI), yaitu: tarbiyah (pendidikan), irsyad (dakwah/bimbingan), dan khidmah (pengabdian sosial). Ketiga pilar ini terintegrasi pada prinsip wasathiyah (moderasi) dan pendekatan kultural yang adaptif terhadap kearifan lokal (local wisdom) masyarakat Nusantara.

Amalan dakwah DDI tidak hanya terfokus pada aspek transendental (kesalehan ritual), tetapi juga pada transformasi sosial demi terwujudnya kemaslahatan umat (maslahat al-ummah).

Kata Kunci: Manhaj Dakwah, Darud Da’wah wal-Irsyad, Tarbiyah, Irsyad, Khidmah, Wasathiyah.

B. Pendahuluan

Nusantara memiliki karakteristik unik dalam hal penyebaran Islam, di mana dakwah tersampaikan melalui saluran-saluran damai seperti pendidikan, perdagangan, pernikahan, dan akulturasi budaya.

Tradisi ini kemudian dilestarikan secara terstruktur oleh berbagai organisasi keagamaan lokal di Indonesia, termasuk Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI).

Berakar dari berdirinya Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Mangkoso pada hari Rabu, 29 Syawal 1357 H/21 Desember 1938 M di Kabupaten Barru, organisasi ini secara resmi bertransformasi menjadi DDI pada hari Jum’at, 15 Rabiul Awwal 1366 H/07 Februari 1947 M melalui musyawarah para ulama di Soppeng, Sulawesi Selatan yang dipelopori oleh ulama kharismatik AG H. Abdurrahman Ambo Dalle bersama para sahabatnya.

DDI tumbuh menjadi pilar utama dakwah dan benteng pertahanan teologis di Kawasan Timur Indonesia.

Tantangan dakwah kontemporer yang kerap kali diwarnai oleh arus radikalisme (ekstremisme kanan) di satu sisi dan liberalisme (ekstremisme kiri) di sisi lain, menuntut rekonstruksi manhaj dakwah yang kokoh.

DDI hadir dengan formulasi dakwah yang secara seimbang mempertemukan teks keagamaan (nash) dan konteks sosial masyarakat (waqi’iyyah).

Artikel ini bertujuan untuk membedah secara komprehensif manhaj dakwah DDI, landasan epistemologisnya serta implementasi amalan Tri-Tunggal untuk membentuk masyarakat yang religius, moderat, dan beradab.

C. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research).

Data primer bersumber dari dokumen-dokumen resmi organisasi, manuskrip, tulisan-tulisan keagamaan, serta biografi resmi AG H. Abdurrahman Ambo Dalle.

Data sekunder diperoleh dari artikel jurnal ilmiah, buku, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan gerakan kepesantrenan dan dakwah DDI.

Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi yang kemudian dianalisis menggunakan metode analisis isi (content analysis) dan pendekatan historis-fenomenologis untuk memahami makna, nilai, dan implementasi dari manhaj dakwah DDI secara kontekstual.

D. Pembahasan

1. Landasan Teologis dan Epistemologis Dakwah DDI

Manhaj dakwah DDI secara epistemologis bersumber pada al-Qur’an, al-Sunnah, dan metodologi pemikiran ulama salaf yang mu’tabar dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Secara spesifik, konstruksi pemikiran DDI dapat dipetakan ke dalam tiga dimensi utama:

a. Bidang Akidah:
Mengikuti rumusan teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah yang menekankan keseimbangan antara wahyu dan akal.

b. Bidang Fikih (Yurisprudensi Islam):
Mayoritas berorientasi pada Madzhab Syafi’i dengan tetap menghormati pandangan tiga madzhab mu’tabar lainnya (Hanafi, Maliki, dan Hanbali).

c. Bidang Tasawuf (Spiritualitas):
Merujuk pada tasawuf sunni yang moderat dan lurus, seperti manhaj Imam al-Ghazali dan Syekh Junaid al-Baghdadi, yang menyelaraskan antara syariat, tarekat, dan hakikat.

Landasan epistemologis ini membentuk karakter da’i dan kader DDI yang mengedepankan sikap tawazzun (seimbang), tasamuh (toleran), tawassuth (moderat), dan i’tidal (tegak lurus/adil).

Dakwah dalam pandangan DDI bukan sekadar orasi mimbar atau ajakan lisan semata (da’wah bil-lisan), melainkan sebuah gerakan transformatif yang menyeluruh untuk memperbaiki tatanan kehidupan manusia lahir dan batin melalui tindakan nyata (da’wah bil-hal).

2. Tiga Pilar Manhaj Dakwah DDI (Tri-Tunggal Amalan)

Eksistensi gerakan dakwah DDI dijalankan melalui tiga pilar amalan terpadu yang saling mengikat, komplementer, dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain:

a. Pendidikan (Tarbiyah)
Bagi DDI, pendidikan adalah instrumen dakwah yang paling utama, sistematis, dan bersifat jangka panjang.

Lembaga pendidikan berupa pondok pesantren, madrasah dan sekolah) hingga perguruan tinggi DDI dirancang untuk mengikis kebodohan dan keterbelakangan masyarakat. Kurikulum pendidikan DDI dirancang secara integratif.

Pendidikan DDI mempertemukan khazanah ilmu-ilmu syariat klasik (kitab kuning) dengan ilmu pengetahuan umum serta teknologi modern.

Tujuannya adalah melahirkan generasi mustamirin, yaitu kader-kader ulama dan intelektual yang tidak hanya memiliki ketahanan spiritual dan akhlak karimah, tetapi juga memiliki kecakapan akademik dan keahlian praktis untuk menjawab tantangan zaman.

b. Bimbingan dan Penyuluhan (Irsyad)
Konsep irsyad dalam khazanah DDI menekankan pendekatan dakwah yang persuasif, dialogis, humanis, dan penuh kasih sayang (rahmah).

Amalan utama dalam pilar ini bersandar pada prinsip irsyad nafsi, yakni kewajiban moral seorang da’i untuk melakukan bimbingan, pembersihan jiwa, dan pengamalan nilai-nilai kebaikan ke dalam dirinya terlebih dahulu sebelum menyerukannya kepada masyarakat.

Dai-dai DDI dituntut menjadi uswatun hasanah (suri teladan yang baik) di tengah-tengah umat.

Metode penyampaian dakwah DDI secara tegas menghindari narasi yang menghujat, menyalahkan, menghakimi atau memicu perpecahan (khilafiyah). Dakwah diarahkan untuk merangkul, bukan memukul; mengajak, bukan mengejek.

c. Pengabdian Sosial (Khidmah)
Dakwah DDI berorientasi pada penyelesaian problem real yang dihadapi oleh masyarakat bawah.

Khidmah untuk umat diwujudkan dalam bentuk pendirian panti asuhan, pembangunan fasilitas kemaslahatan umum, pemberdayaan ekonomi berbasis umat (seperti koperasi pesantren), serta keterlibatan aktif dalam aksi tanggap bencana dan kemanusiaan.

Amalan khidmah ini menegaskan tesis sosiologis DDI bahwa kesalehan ritual individu tidak akan sempurna tanpa manifestasi kesalehan sosial yang berdampak langsung pada kesejahteraan lingkungan sekitar.

3. Karakteristik Operasional Dakwah DDI di Tengah Masyarakat

Dalam praktiknya di lapangan, manhaj dakwah DDI memiliki beberapa karakteristik operasional yang khas dan konsisten dijalankan, di antaranya:

a. Kultural dan Adaptasi Tradisi Lokal (Local Wisdom)
Para dai/pendakwah DDI tidak menggunakan pendekatan konfrontatif terhadap tradisi atau kebudayaan lokal masyarakat Nusantara, seperti tradisi adat suku Bugis, Makassar, Mandar, dan suku lainnya. Sebaliknya, mereka menerapkan strategi pribumisasi Islam atau Islamisasi budaya.

Tradisi-tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip dasar aqidah Islam dipertahankan dan diisi dengan substansi nilai Islam, seperti pembacaan barzanji, selawat, dan doa bersama.

Pendekatan ini membuat ajaran Islam dapat meresap dan diterima dengan baik tanpa menimbulkan guncangan budaya (cultural shock).

b. Internalisasi Moderasi Beragama (Wasathiyah Islam)
DDI mengawal komitmen kebangsaan dengan membumikan teologi moderat. Organisasi ini menolak segala bentuk ekstremisme (baik radikalisme agama maupun liberalisme sekuler).

Dalam pandangan politik kebangsaan, DDI memandang NKRI sebagai bentuk final perjuangan umat Islam Indonesia dan mengintegrasikan nilai nasionalisme dengan keagamaan lewat prinsip “hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman).

c. Kemandirian dalam Bergerak dan Keikhlasan dalam Beramal
Terinspirasi langsung dari keteladanan hidup AG H. Abdurrahman Ambo Dalle, gerakan dakwah DDI senantiasa disupport oleh etos keikhlasan yang tinggi.

Lembaga-lembaga DDI sebagian besar tumbuh dari swadaya dan gotong royong masyarakat lokal (bottom-up).

DDI juga konsisten menjaga jarak yang aman dari politik praktis pragmatis guna memelihara independensi, kemurnian khittah dakwah, dan marwah keulamaan di mata umat.

E. Kesimpulan

Manhaj dakwah amalan Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI) merupakan sebuah model dakwah integratif-komprehensif yang berhasil menyatukan dimensi spiritual, intelektual, dan praktis-sosial.

Melalui integrasi fungsional dari pilar tarbiyah, irsyad, dan khidmah, DDI mampu membumikan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang ramah, inklusif, moderat (wasathiyah), serta adaptif terhadap kekayaan kearifan lokal.

Formula gerakan ini membuktikan secara empiris bahwa agama dapat berfungsi sebagai penggerak utama modernisasi dan kemajuan peradaban bangsa tanpa harus mencerabut masyarakat dari akar identitas sejarah dan nilai-nilai luhur budayanya.

DAFTAR PUSTAKA

Badaruddin, B. (2020). Pemikiran Keagamaan AGH. Abdurrahman Ambo Dalle dan Pengaruhnya terhadap Unsur Kultural Suku Bugis. Jurnal Kebudayaan dan Islam, 14(2), 115-130.

Galigo, M. A. (2018). Gurutta: Biografi, Pengabdian, dan Pemikiran AG H. Abdurrahman Ambo Dalle. Makassar: Pustaka Al-Zikra.

Muiz, A. (2021). Tri-Tunggal DDI: Formulasi Pendidikan, Dakwah, dan Sosial dalam Menghadapi Era Disrupsi. Jurnal Studi Islam Nusantara, 9(1), 45-62.

Pengurus Besar Darud Da’wah wal-Irsyad. (2017). Khittah Pengabdian DDI dan Manhaj Wasathiyah. Jakarta: PB DDI Press.

Yunus, M. (2019). Pesantren Mangkoso dan Akar Sejarah Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI). Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 7(3), 201-218.[]

ddi abrad 1