Trilogi Ulama Nusantara

0
13

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

TRILOGI ULAMA NUSANTARA: Jaringan Persahabatan AGH Ambo Dalle, Guru Tua, dan TGH Zainuddin Abd Madjid dalam Mempertahankan Ahlus Sunnah wal Jamaah

Kawasan Indonesia bagian Timur memiliki karakteristik sosio-kultural yang unik dan rentan terhadap penetrasi ideologi transnasional maupun kolonialisme pada abad ke-20.

Tulisan ini menganalisis jaringan persahabatan intelektual dan pergerakan dakwah antara tiga soko guru Islam di kawasan timur:

Anre Gurutta Haji Abdurrahman Ambo Dalle di Sulawesi Selatan,

Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua) di Sulawesi Tengah, dan

Tuan Guru Kyai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di Nusa Tenggara Barat.

Melalui pendekatan historis-sosiologis, makalah ini menemukan bahwa persahabatan ketiganya melahirkan gerakan institusionalisasi institusi pendidikan formal berbasis akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Penyelarasan tradisi lokal dengan syariat serta penguatan ukhuwah islamiyah menjadi strategi utama ketiganya dalam membentengi umat dari tantangan internal maupun eksternal nasionalisme religius.

PENDAHULUAN

Penyebaran Islam di Indonesia kerap kali berpusat pada narasi di Pulau Jawa dan Sumatera.

Padahal, dinamika Islam di Indonesia Timur memiliki benteng pertahanan yang sangat kokoh berkat kiprah para ulama karismatik abad ke-20.

Tiga pilar utama penggerak dakwah di wilayah ini adalah AGH Abdurrahman Ambo Dalle, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau Guru Tua (Pendiri Alkhairaat), dan TGH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Pendiri Nahdlatul Wathan).

Ketiga tokoh ini tidak bergerak secara parsial atau terisolasi. Mereka disatukan oleh ikatan ideologis akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah (Asy’ariyah-Maturidiyah dalam tauhid, serta bermazhab Syafi’i dalam fikih) dan jaringan persahabatan erat.

Makalah ini mengkaji bagaimana persahabatan intelektual dan emosional ketiganya dikonversikan menjadi gerakan dakwah terstruktur yang menyelamatkan benteng akidah umat di Indonesia Timur di tengah pergolakan politik kolonial hingga awal kemerdekaan.

PROFIL SINGKAT TIGA TOKOH UTAMA

Untuk memahami kedalaman gerakan ini, penting melihat latar belakang geografis pergerakan masing-masing tokoh:

| Nama Tokoh | Basis Gerakan | Organisasi yang Didirikan | Karakteristik Perjuangan |
|—|—|—|—|
| AGH Abdurrahman Ambo Dalle | Mangkoso & Wajo, Sulawesi Selatan | Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) | Pendidikan integratif dan dakwah kultural berbasis budaya Bugis. |
| Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua) | Palu, Sulawesi Tengah | Alkhairaat | Pendidikan lintas etnis, penataan madrasah modern, dan dakwah pesisir-pedalaman. |
| TGH M. Zainuddin Abdul Madjid | Pancor, Lombok, NTB | Nahdlatul Wathan (NW) | Kombinasi pendidikan madrasah formal dan gerakan kemerdekaan fisik. |

JEJARING PERSAHABATAN DAN SANAD INTELEKTUAL

Akar dari persahabatan kokoh ketiga ulama ini tertanam kuat melalui dua jalur utama:

1. Sanad Keilmuan Makkah al-Mukarramah

Ketiga ulama ini terhubung dalam transmisi sanad keilmuan (isnad) yang sama dari para ulama besar di Masjidil Haram, Makkah.

Mereka berguru kepada ulama-ulama Aswaja kaliber dunia seperti Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki, Syeikh Umar Hamdan al-Mahrusi, dan Syeikh Hasan al-Masysyath.

Pertemuan intelektual di tanah suci ini membentuk frekuensi pemikiran yang sama (tajanus) sekembalinya mereka ke tanah air.

2. Silaturahmi dan Korespondensi

Meskipun dipisahkan oleh lautan dan keterbatasan transportasi pada masa itu, ketiganya kerap mengadakan kunjungan fisik atau mengirim utusan.

Kedekatan emosional ini dibuktikan melalui kesaksian para keturunan mereka.

Sebagai contoh, dalam berbagai catatan sejarah dan memori lisan santri, AGH Ambo Dalle kerap menyebut nama TGH Zainuddin Abdul Madjid dan Guru Tua sebagai sahabat karib yang selalu seirama dalam visi menjaga umat.

Di kediaman para tokoh ini, kerap dijumpai foto sahabat-sahabatnya sebagai bentuk penghormatan tinggi.

STRATEGI PERJUANGAN BERSAMA MEMPERTAHANKAN ASWAJA

Gerakan pertahanan akidah yang dijalankan oleh Trilogi Ulama ini tidak menggunakan jalur kekerasan, melainkan melalui manifestasi strategi kebudayaan dan struktural:

1. Pelembagaan Lembaga Pendidikan (Institusionalisasi)

Ketiganya menyadari bahwa metode pengajian tradisional (halaqah) harus diperkuat dengan sistem klasikal (madrasah modern).

* DDI menyebarkan ribuan madrasah dari Sulawesi Selatan merambah ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

* Alkhairaat menjadi imperium pendidikan terbesar di Indonesia Tengah dan Timur dengan ratusan cabang di Sulawesi, Maluku, dan Papua.

* Nahdlatul Wathan (NW) memadati konstelasi pendidikan di Nusa Tenggara dengan struktur madrasah NWDI dan NBDI.

Melalui kurikulum terstandarisasi, kitab-kitab standar Ahlu Sunnah wal Jamaah diajarkan secara masif untuk membendung paham materialisme kolonial dan puritanisme radikal.

2. Pendekatan Kultural yang Akomodatif (Local Wisdom)

Ketiga ulama ini menolak dakwah yang konfrontatif terhadap adat istiadat setempat.

AGH Ambo Dalle mengadopsi falsafah hidup Bugis (Siri’ na Pesse) dan menyelaraskannya dengan konsep Ukhuwah.

Guru Tua merangkul masyarakat suku Kaili dan suku pedalaman di Sulawesi Tengah melalui pendekatan humanis.

Sementara TGH Zainuddin menggunakan sastra dan lagu keagamaan berbahasa Sasak (Sya’ir) untuk menanamkan doktrin Ahlu Sunnah wal Jamaah ke dalam sanubari masyarakat awam.

3. Konsolidasi Politik dan Nasionalisme Religius

Menjelang dan pasca kemerdekaan RI, Indonesia Timur diterpa badai pemberontakan ideologis (seperti pergolakan DI/TII di Sulawesi).

Persahabatan ketiga ulama ini berfungsi sebagai “jangkar perdamaian”. Mereka tetap teguh mempertahankan falsafah Pancasila dan keutuhan NKRI.

Ketika AGH Ambo Dalle sempat ditawan di hutan oleh kelompok DI/TII, beliau tetap konsisten mengajar tanpa mengubah haluan keagamaannya yang moderat (tawasuth).

Ketiganya sepakat bahwa mempertahankan tanah air adalah bagian integral dari manifestasi iman (Hubbul Wathan minal Iman).

KESIMPULAN

Persahabatan antara AGH Abdurrahman Ambo Dalle, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua), dan TGH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bukan sekadar kedekatan interpersonal biasa, melainkan aliansi strategis-keagamaan yang masif.

Jaringan segitiga emas (Sulawesi Selatan – Sulawesi Tengah – Lombok) berhasil mengamankan wilayah Indonesia Timur menjadi basis pertumbuhan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang subur, moderat, dan toleran.

Warisan institusional berupa DDI, Alkhairaat, dan Nahdlatul Wathan menjadi bukti autentik bahwa persahabatan yang dilandasi oleh ilmu dan keikhlasan mampu melahirkan peradaban yang melintasi zaman.

BILLAHI TAUFIQ WA DA’WAH WAL-IRSYAD

DAFTAR PUSTAKA

1. Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana.

2. Haramain, Muhammad & Umrah Nur, Kurniati. (2022). Mengkaji Pemikiran dan Gerakan Dakwah Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dan Relasinya dengan Ulama Nusantara. Parepare: [Repository IAIN Parepare].

3. Kementerian Agama RI. (2021). Kiprah Tokoh Alkhairaat dan Sejarah Guru Tua dalam Pendidikan Islam di Indonesia Timur. Jakarta: [Majalah Kemenag].

4. MUI Sulawesi Selatan. (2023). Rekam Jejak Kepahlawanan dan Sisi Humanis Anregurutta KH Abdurrahman Ambo Dalle.

5. Noer, Deliar. (1980). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES.

6. Syam, Firdaus. (2017). Maulana Syekh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid: Sejarah, Perjuangan, dan Pemikirannya. Mataram: Pengurus Besar Nahdlatul Wathan.

7. Wikipedia Bahasa Indonesia. Biografi Tokoh: Abdurrahman Ambo Dalle dan Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Diakses tahun 2026 melalui Wikipedia Indonesia – Ambo Dalle.

ddi abrad 1