Durian Godaan Yang Berduri

0
13

Durian, Godaan Yang Berduri

Oleh: Suf Kasman

MUSIM durian telah tiba lagi!

Bagi pecinta sejati, aroma dari lapak-lapak durian bukan sekadar wewangian, melainkan godaan yang menggetarkan lidah. Celakanya, rayuan itu hampir selalu datang lebih cepat daripada tanggal gajian.

Kalaupun hari ini sedang terserang wabah KANKER (Kantong Kering), minimal tandai dulu lapaknya. Bulan depan setelah gajian, datanglah kembali.

Bukan untuk membeli, cukup memastikan bekas lapaknya saja. Besar kemungkinan duriannya sudah habis diborong Paggandeng.

Kemarin saya singgah makan durian di pinggir Jalan Toddopuli. Di sana berlaku semacam hukum adat yang tak pernah tertulis: makan di tempat, garansi penuh! Kalau duriannya kurang bagus, penjual langsung mengganti saat itu juga.

Belum sempat pembeli memasang wajah kecewa, durian pengganti sudah lebih dulu mendarat di meja. Pokoknya, Anda puas, penjual lemas!

Sambil menunggu giliran, saya memperhatikan gaya penjual memilih durian. Satu per satu diangkat, diketuk, lalu diintip pangkalnya sambil diendus berkali-kali. Serius sekali. Persis anjing Herder yang sedang melacak narkotika.

Bedanya, kalau Herder memburu barang terlarang, penjual durian sedang memburu buah yang siap mengabdi kepada lidah rakyat.

Beda cerita kalau membeli durian tanpa “uji klinis” alias “uji intervensi”. Saya pernah mengalaminya. Penjual membelah durian pertama, gagal total.

Durian kedua dibongkar, hasilnya tetap mengecewakan. Durian ketiga malah keras bagai batu cobe’na Allakkuang.

Penjual mulai makereng-kereng. Senyumnya lenyap, wajahnya mendadak sangar karena tak kunjung menemukan satu saja durian yang layak dieksekusi.

Kalau memilih durian matang masuk cabang Piala Dunia, sepertinya dia sendiri belum tentu lolos babak grup.

Saya tahu emosinya mulai mendidih ketika membelah durian berikutnya sambil “sigariggi’ isi bukunna “—giginya bunyi gemeletuk tappere-pere menahan kesal.

Sekali tebas, durian memang terbelah dua, tetapi parangnya ikut tertancap di batang. Berkali-kali ditarik, tetap bergeming.

Melihat wajahnya yang mulai merah padam, naluri bertahan hidup saya langsung aktif. Tanpa menunggu aba-aba, saya perlahan mundur mencari titik evakuasi.

Khawatir parang panjangnya yang mirip kalewang Pattimura di uang seribu rupiah mendadak salah sasaran lalu mendarat di lutut saya.

Bae teppa keppabg Lettu kame’ lino! (Pincang seumur hidup).

Lagi pula, durian satu mobil Kijang itu sepertinya masih “se-kimiawi”, alias sepupuan semua. Kalau satu ternyata masih muda, biasanya yang lain juga belum siap ranum.

Jangan-jangan malam sebelum dipanen mereka sempat menggelar tudang sipulumg sesama durian lalu bersepakat,

“Jangan mi ada yang matang dulu. Kita kompak saja bikin pembeli naik darah!”

Dalam hati saya cuma bisa bergumam, “Untuk apa dijual kalau semuanya belum siap mengabdi kepada lidah rakyat?” Kasihan lidah, datang membawa harapan, pulang membawa trauma.

Dari luar aromanya memang semerbak bak parfum seribu bunga. Siapa pun yang menciumnya bisa langsung menelan ludah tiga kali.

Namun, sesampainya di rumah, harapan itu mendadak ambruk. Begitu dibelah, isinya malah membuat dada ikut kopong. Manisnya entah ke mana, dagingnya tipis, bijinya lebih percaya diri tampil ke depan.

Labe’si ise’ dompet-e

Sakti memang sebagian penjual durian. Berbekal ketukan parang tumpul dan penciuman setajam hidung kucing garong, mereka mampu meyakinkan pembeli bahwa duriannya manis.

Padahal, dari bunyi ketukan itu pula mereka sebenarnya sudah tahu mana yang matang dan mana yang masih mengkal.

Anehnya, yang mengkal justru biasa diarahkan kepada pembeli yang berniat membawanya pulang. Begitu keluar dari lapak, hubungan penjual dan durian resmi putus. Selebihnya urusan takdir.

Durian ternyata juga mengenal kasta. Ada Durian Montong, bangsawan dunia perdurian. Besarnya mirip ransel Mapala yang hendak mendaki Gunung Lompobattang.

Si raja durian itu dibanderol dengan harga yang sanggup merobek dompet sampai ke serat-seratnya.

Kemarin saya iseng bertanya harganya.

“Enam puluh ribu rupiah per kilo.” Sahut penjualnya.

Beratnya enam kilo.

Hitung maki’ sendiri…

Saya langsung mundur perlahan, ala gerakan Paskibraka.

Ada pula durian seukuran kelapa hibrida yang ramah di kantong. Ada juga yang cuma sebesar pajjagguru’ (kepalan tangan).

” We endo e… kecilnya!”

Yang beginian tidak usah dibelah. Langsung ditelan bulat-bulat bersama kulitnya. Siapa tahu durinya sekalian mengerok dahak batuk kering.

Fenomena durian sebenarnya menarik untuk bahan penelitian.

Mengapa luarnya dipenuhi duri tajam, tetapi dalamnya manis luar biasa? Sebaliknya, buah pare berkulit mulus mengilap, tetapi pahitnya tak ketolongan.

Penelitian begini rasanya harus dipromotori dua malaikat (Malik dan Pencabut nyawa) karena mulai mengusik sebagian rahasia Sang Pencipta.

Walaupun demikian, dalam dunia akademik hampir semua hal bisa diteliti. Jangankan buah yang tampak, setan Sumiati yang gaib pun bisa diteliti. Coba saja gelar riset di Pekuburan Macanda tengah malam sendirian…

Ko melo’ko nalellung parakang!

Secara filosofis, durian adalah media tadabbur alam. Kulitnya yang tajam mengajari kita agar tidak menilai seseorang dari sampulnya, sedangkan dagingnya yang manis mengingatkan bahwa keberkahan sering menunggu di balik ikhtiar menembus duri-duri kehidupan.

Namun realitas lapangan tak seindah teori.

Kapok karena pernah ditipu paggandeng yang langsung menguap di gang sempit, kini saya menerapkan prinsip Fathanah (cerdik): kadang membawa wadah Tupperware dari rumah.

Suruh penjualnya mengeksekusi di tempat, periksa kualitasnya, lalu masukkan ke dalam wadah. Strategi sederhana ini bukan cuma menyelamatkan dompet, tetapi juga menjaga kedamaian rumah tangga saat bertemu istri. Maklum, beliau merangkap jabatan sebagai security rumah.

Usai makan durian, saya teringat teman yang menyuruh minum dari cekungan kulitnya.

Katanya supaya tidak teler.

Jujur saja, kemarin saya coba berkali-kali.

Hasilnya?

Bukannya kebal, malah cedde’ma marenne’ (hampir muntah) karena kebanyakan minum air ketimbang makan isinya.

Puncak drama musiman itu terjadi saat saya membawa durian dari Mamuju menuju Makassar menggunakan bus umum sejenis Borlindo.

Awalnya situasi kondusif.

Namun, perlahan-lahan aroma tajam durian berhasil menyelinap menembus ritsleting tas lalu menguasai seluruh kabin ber-AC.

Suasana mendadak mencekam.

Penumpang mulai gelisah. Ada yang menutup hidung, ada yang menggerutu, sampai akhirnya terdengar tuntutan agar durian misterius itu segera diturunkan.

Naluri survival saya langsung menyala.

Demi menyelamatkan aset berharga, saya menggelar Operasi Kamuflase Tingkat Tinggi.

Dengan mimik paling polos dan nada suara pura-pura emosi, saya ikut celingukan lalu berteriak paling nyaring,

“Iya betul itu! Siapa sih yang bawa durian? Bikin pusing orang saja! Turunkan cepat!”

Saya berpura-pura menjadi korban.

Padahal pelakunya ya saya sendiri.

Berkat akting kelas wahid, perhatian seluruh penumpang langsung terpecah. Mereka saling pandang. Kalau bukan mereka, lalu siapa? Jangan-jangan memang ada penumpang gaib yang ikut naik bus.

Alhamdulillah, durian pemberian Ibu Wakil Gubernur Sulawesi Barat selamat sampai Makassar.

Saya juga.

Tanpa diadili warga satu bus.

Selebihnya, pengalaman lapangan mengajarkan satu pelajaran yang lebih praktis: kalau membeli dari paggandeng bawalah Tupperware. Kalau membawa durian naik bus, jangan lupa siapkan kemampuan akting.

Makassar, 23 Juli 2026 (SD)

ddi abrad 1