Maulid: Ceramah Kalah, Telur Menang
Oleh: Suf Kasman
Tepat hari ini, 12 Rabiulawal, segenap kaum muslimin memperingati momen agung kelahiran Rasulullah ﷺ.
Semoga syafaat Beliau menaungi kita, dan semoga iman tetap kokoh—terutama ketika berhadapan dengan godaan telur hias di lokasi acara!
Bulan Agustus dan Rabiul Awal tahun ini kembali membuat saya berkeliling memenuhi undangan Maulid.
Hari ini, usai shalat Zuhur di Pinrang, perjalanan berlanjut ke Pangkajene, Sidrap, usai Asar.
Kaki terus melangkah dari satu daerah ke daerah lain, memenuhi undangan, menyampaikan hikmah, sekaligus mengumpulkan songkolo’ na tello’ manu’.
Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi ketika bersama Dr. Baharuddin, qari’ UIN Alauddin, menghadiri acara Maulid di Wajo.
Datang sebagai penceramah dengan niat sangat mulia: menyampaikan hikmah kelahiran Rasulullah ﷺ. Materi ceramah sudah siap, semangat dakwah menggebu-gebu.
Tapi panitia rupanya menyiapkan daya pikat yang jauh lebih ampuh dari poin-poin ceramah saya: telur hias yang berjejer rapi di batang pisang, lengkap dengan “aksesoris” lembaran uang tunai. Assellinna mauli’e!
Wow, ini baru menarik! Naluri bertahan hidup seketika teruji: tahan iman, atau ikut maju menyerbu.
Di kanan-kiri podium berdiri dua batang pisang gagah. Sekilas mirip dua ajudan paspampres mengapit Presiden saat pidato.
Saya sempat mekar sedikit:
“Wah, saya dikawal dua ajudan.”
Pas dilirik dekat, hilang wibawanya. Itu bukan pengawal, tapi “pohon duit”! Pecahan Rp100 ribu, Rp50 ribu, dan Rp20 ribu melambai-lambai di antara telur. Ini mesin ATM kearifan lokal: tanpa kartu, tanpa PIN, cuma butuh ketebalan muka untuk mencairkannya!
Sejujurnya, kalau tidak malu sebagai penceramah Maulid, melo’ tokka’ mallotteng—ingin rasanya ikut berebut angpao.
Itu ujian iman level dewa dalam bentuk rupiah.
Ceramah dimulai. Materinya tentang keunikan Nabi ﷺ, tetapi mata Jamaah sesekali tertuju pada fulus tertancap di batang pisang.
Dalam hati:
“Ya Allah, kuatkan saya…”
Bukan kuatkan iman saja.
Kuatkan juga kaki supaya tidak refleks melompat meraih uang tambahan honor.
Godaan makin kuat, tetapi malu sebagai penceramah. Sebab kalau sampai lepas kendali, besok bukan lagi dipanggil penceramah. Bisa-bisa nama masuk koran lokal dengan julukan baru:
“Muballigh Spesialis Perampasan Uang Maulid di Batang Pisang, kini sudah ditemukan.”
Siri’-siri’e mana!
Baru sekitar sepuluh menit berlalu, radar kekhusyukan jamaah perlahan berubah arah.
Tadinya mata tertuju kepada penceramah dengan penuh takzim. Namun sedikit demi sedikit, pandangan mulai berbelok ke batang pisang penuh telur dan fulus.
Wajah Jamaah kelihatan tetap khusyuk, tetapi mata sudah sibuk melakukan survei lokasi pendaratan.
Persis seperti mata kucing garong kelaparan mengintai ikan asin di atas meja dapur: diam-diam pasang posisi, tunggu pemilik rumah lengah, langsung di smackdown!
Keagungan Rasulullah ﷺ terus menggema melalui toa masjid. Namun fokus jamaah mulai bergeser seperti pialang saham: mata sibuk memantau “pergerakan rupiah” di batang pisang.
Urat leher menegang. Posisi duduk mulai bergeser sedikit demi sedikit.
Saya menghimbau:
“Mari kita teladani akhlak Nabi ﷺ…”
Dalam hati mereka mungkin menjawab:
“Sebentar, Ustaz. Kami sedang menyusun strategi Perang Uhud versi perebutan ghanimah telur!”
Tiba-tiba, seorang bapak battala’ dudu (gemuk) di dekat podium berdiri dengan gerakan mencurigakan.
Dikira mau ke toilet karena kebanyakan minum air mineral kemasan gelas merek Vit.
Ternyata salah besar!
Bukan ke toilet.
Ke medan perang!
Tanpa aba-aba, ia melompati barisan jamaah dan memburu uang merah di batang pisang.
Gass poll! Tanpa rem!
Bapak-bapak dan emak-emak ikut berlompatan. Tangan bekerja, mulut tertawa, sandal Japan ikut berjuang. Ada yang putus, ada yang tetap bertahan—mungkin sandal pun paham, ini perjuangan terakhir!
Kursi bergeser, sebagian tumbang. Podium bergoyang berdansa reggae—bagai gempa Mamuju beberapa tahun lalu.
Saya spontan berpegangan:
Makkatenni masse’ka’! (Saya berpegangan kuat!)
Jamaah yang tadinya duduk manis di kursi plastik mendadak berubah menjadi tim pemburu telur hias.
Saya masih memegang mikrofon tenre-tenre loda’-lodq’ uttuku!, sambil bertanya dalam hati:
“Ini Maulid atau final panjat pinang 17 Agustus?”
Panitia semula diharapkan menjadi benteng pengaman Maulid. Ternyata bentengnya jebol lebih dulu!
Tadinya mereka memberi kode agar jamaah jangan mengambil sebelum hikmah Maulid selesai. Namun melihat keadaan makin kacau, panitia mulai berubah strategi.
Dalam hati mungkin berkata:
“Kalau terus dilarang, kita cuma jadi penonton. Lebih baik mallotteng juga!”
Akhirnya, panitia ikut turun gelanggang. Telur disambar, uang diburu.
Nappa tongeng ni maroa’!
Ada jamaah berhasil mendapatkan lima telur dengan muka menang banyak.
Ada cuma dapat satu telur.
Ada pula pulang hanya membawa tusuk telur karena telurnya terlempar sekitar empat meter akibat efek gesekan massa!
Akhirnya muncul kesadaran: mungkin Allah sedang menyelamatkan penceramah dari bahaya fisik. Sebab kalau terus berdiri di podium itu, kemungkinan bukan lagi penceramah, tetapi korban berikutnya tertindih pohon pisang.
Ceramah akhirnya tidak bisa dilanjutkan. Panggung sudah berubah fungsi menjadi arena perebutan telur.
Bersama Dr. Baharuddin, kami hanya bisa menyaksikan jamaah tertawa terbahak-bahak sambil membawa hasil perjuangan masing-masing.
Telur bisa pecah, uang bisa habis, dekorasi maulid menjadi kenangan. Namun akhlak Nabi semestinya tetap kita bawa pulang.
Jangan sampai pulang membawa lima telur, tetapi lupa membawa teladan Nabi.
Selamat memperingati Hari Maulid 12 Rabiul Awal 1448 H!
12 Rabiul Awal 1448 H (SF)















