Panjat Pinang Naik Susah Jatuh Mudah

0
9

Panjat Pinang: Naik Susah Jatuh Mudah

Oleh: Suf Kasman

MASIH dalam rangkaian semarak 17 Agustusan. Setelah bendera berkibar dan gerak jalan membuat napas poso-poso, kini giliran panjat pinang beraksi. Di sini, orang rela saling injak demi hadiah. Tenang, ini bukan perebutan jabatan!

Saya selalu menganggap panjat pinang sebagai salah satu pertunjukan paling jujur dalam kehidupan berbangsa.

Tidak ada panggung, tidak ada tiket, tidak ada sutradara, dan tidak ada pemaksaan. Yang ada cuma peserta, oli, keringat, pekikan, sorakan, dan hadiah sederhana yang membuat orang rela mempertaruhkan tulang belakang demi sebuah kipas angin Maspion.

Sebagai penonton, saya berdiri paling depan di pinggir lapangan. Posisi harus tudang cama’ (strategis). Tidak boleh ada yang menghalangi pandangan.

Saya hadir untuk memastikan perjuangan mereka tidak sia-sia—minimal tidak sia-sia untuk hiburan saya.

Bagi saya, panjat pinang adalah hiburan nomor wahid.

Bioskop XXI kalah. Televisi kalah. Bahkan pertandingan sepak bola paling populer di dunia kadang kalah seru.

Sebab di sini ada aksi, ada drama, ada strategi, ada adegan buang sempung (jatuh), ada teriakan, ada tawa, bahkan ada kemungkinan celana melorot.

Komplet nan lengkap!

Karena itu, saya sebagai penonton juga harus siap. Bukan siap memanjat, tetapi siap menikmati pertunjukan kocaknya PRI (Pemanjat Republik Indonesia).

Saya tidak ikut memanjat. Bukan karena tidak nasionalis, tetapi saya merasa nasionalisme saya cukup disalurkan melalui tepuk tangan, tertawa terkekeh-kekeh, dan berteriak-teriak ala Tarzan.

Peserta yang berkeringat. Saya yang ngemil.

Kontestan berlumuran oli. Saya yang tertawa cekikikan tiada henti.

Partisipan yang mempertaruhkan tulang belakang. Saya mempertaruhkan gorengan terakhir.

Itulah pembagian tugas paling adil dalam suasana 17-an.

Di depan saya berdiri tiang pinang tinggi menjulang, licin mengilap karena dilumuri oli bekas dan gemuk hitam pekat—begitu licinnya sampai-sampai lalat yang mau hinggap saja bisa tergelincir lalu mendadak kena serangan jantung.

Pelicin di pohon pinang ini tingkat kejahatannya luar biasa. Bahkan janji politik politisi senior pun terasa kalah licin dibandingkan oli bekas racikan panitia 17-an!

Kalau dilihat dari jauh, tiang itu seperti simbol kehidupan: semakin tinggi cita-cita, semakin licin jalannya. Semakin banyak karunia ingin diperoleh, semakin susah meraihnya.

Di puncaknya tergantung berbagai hadiah: kipas angin, panci, alat rumah tangga, hingga paket bahan pangan MBG—minyak goreng, gula, atau mi instan rasa soto.

Jika ditotal, harganya bahkan mungkin tidak cukup untuk membayar biaya tukang urut seusai malekko’—keseleo!

Hadiahnya memang sederhana. Tetapi lihatlah perjuangan para peserta!

Mereka rela berpeluh, berlumur oli, saling injak, saling dorong, bahkan mempertaruhkan harga diri demi sebuah bingkisan.

Saya kadang berpikir, kalau semangat seperti ini dibawa ke urusan pembangunan, mungkin negara kita sudah selesai sejak kemarin.

Tetapi panjat pinang memang punya sistem demokrasi sendiri. Yang paling kuat—battala’ dudu—dijadikan fondasi. Yang paling ringan dinaikkan ke atas. Yang paling pintar memberi aba-aba biasanya berdiri di bawah—atau lebih tepatnya di pinggir lapangan seperti saya ini.

“Naik! Hoii naik ke pundaknya,…

Akkeccengi allonna terus naik, injak kepalanya!”

Wuadduu…!

Saya berteriak memanas-manasi peserta. Kendati peserta sulit menoleh ke tempat saya berteriak karena lehernya terkunci.

Saya terus berteriak hingga suara saya parau. Padahal saya sendiri tidak tahu bagaimana cara menaiki tiang superlicin itu. Kalau disuruh mencoba, mungkin baru setengah meter saya sudah memeluk tiang seperti orang kehilangan keluarga.

Sementara itu, di bawah pohon, enam pria dewasa berdiri hanya memakai celana pendek dengan karet yang sudah melar.

Pernah terjadi insiden tragis namun menggelikan: seorang pemanjat tanpa sengaja menarik celana temannya di atas karena panik tergelincir.

Hasilnya? Celana meluncur turun, pemanjat di bawah megap-megap, dan nenek-nenek di barisan penonton tertawa terkekeh-kekeh sampai gigi palsunya hampir copot melayang ke batang pinang!

Pria yang badannya paling bongsor dan perutnya paling maju mendadak ditunjuk secara aklamasi menjadi “Fondasi Peradaban”—alias korban paling bawah yang pasrah takdirnya diinjak lima orang sekaligus.

“Tahan, bro! Jangan goyah demi masa depan lorong!” teriak peserta kedua sambil melompat naik ke bahunya mirip tupai kelapa sawit Topoyo.

Si gendut sebagai pemimpin atraksi di bawah cuma bisa melotot pasrah. Napasnya tinggal separuh. Air matanya keluar sedikit. Sementara lelehan oli dan daki dari jempol kaki temannya menetes tepat ke dalam mulutnya.

Belum sempat mengatur napas, tumpukan manusia itu sudah mencapai tingkat tiga. Hukum fisika pun bekerja tanpa ampun.

𝘚𝘳𝘶𝘶𝘶𝘬𝘬𝘬!

Tappaloso-loso! Oli licin membuat formasi itu runtuh seketika. Rombongan peserta meluncur ke bawah bagai tanah longsor, menumpuk di tanah dengan bunyi bug!

Wajah mereka yang tadinya cerah mendadak berubah warna jadi hitam mengilap bagai siluet superhero gagal produksi.

Penonton di pinggir lapangan? Bukannya kasihan atau memanggil ambulans gratis yang penting isi bensin, malah terbahak-bahak sampai memeluk orang di sampingnya—kenal atau tidak, urusan belakangan!

Di sinilah keunikan bangsa kita: melihat tetangga sendiri terpelanting dan wajahnya penuh oli dan gemuk hitam pekat adalah terapi stres paling ampuh melupakan cicilan motor seketika.

Ajaibnya, penderitaan itu tidak pernah membuat mereka kapok.

Meskipun kulit dada sudah lecet-lecet bagai diparut kelapa, baju sudah berubah jadi lap kompor, dan telinga sudah kemasukan oli, mereka tetap bangkit lagi.

Dengan muka penuh dendam pada pohon pinang, mereka mengusap dada pakai kaos bekas, lalu kembali membuat formasi penyerangan ala Lionel Messi.

“Satu kali lagi! Demi dispenser itu!” teriak peserta paling atas yang badannya paling kurus bagai tiang jemuran kering.

Orang Indonesia itu dasarnya pantang menyerah.

Dalam hidup, kalau banyak rintangan itu biasa, tapi kalau banyak rantangan… nah itu namanya katering pesta pernikahan!

Saling pijak tingkat dewa kembali terjadi.

Peserta bawah menahan beban ratusan kilo sampai urat lehernya mau putus. Peserta tengah menjadi tangga kemanusiaan yang bergeliat bagai lenrong (belut) kena minyak. Peserta atas merayap perlahan bagai cicak hendak melompati nyamuk yang sedang terbang.

Begitu tangan peserta atas berhasil menggapai puncak dan melempar rice cooker Philips ke bawah, sorak-sorai penonton pecah bagai Indonesia baru saja menjuarai Piala Dunia lari karung!

Pembagian hadiah dilakukan sangat “demokratis”: si gendut sebagai bos yang menahan beban setengah ton cuma dapat ember plastik merah dan gayung, sedangkan si kurus yang memanjat memeluk erat kipas angin dinding sambil tersenyum puas.

Tidak ada yang protes, semua tertawa walau badan perih dan bau minyak tawon bertahan tiga hari tiga malam.

Di balik tawa dan jatuh-bangun itu, panjat pinang mengajarkan satu hal: tidak ada yang sampai ke puncak sendirian.

Yang di atas membutuhkan yang di bawah. Yang kuat menopang yang lemah.

Dalam Islam: “𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨-𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘫𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘬𝘸𝘢𝘢𝘯.” (QS. Al-Mā’idah: 2)

Jangan sibuk ingin selalu di atas. Kadang menjadi pijakan justru lebih mulia.

Saya? Tetap penonton.

Mereka memanjat. Saya ngemil.

Sama-sama berjuang! MERDEKA!

22 Agustus 2026 (SF)

ddi abrad 1