Pondok Pesantren Al-Ikhlash Addari DDI Takkalasi

0
8

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Sejarah, dan Peran Tokoh Pelopor Pondok Pesantren Al-Ikhlash Addary DDI Takkalasi

Pondok Pesantren Al-Ikhlash Addary Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Takkalasi merupakan salah satu institusi pendidikan Islam yang memiliki kontribusi strategis dalam penyebaran dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Tulisan ini bertujuan untuk mengurai sejarah berdirinya pesantren, memetakan silsilah (sanad) keilmuan transnasional yang dimilikinya, serta menganalisis peran vital tokoh pelopor awal, khususnya AGH. Muhammad Arib Mustary dan AG. Hj. Sitti Zaenab.

Menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini menemukan bahwa Ponpes DDI Takkalasi mengintegrasikan transmisi keilmuan Haramain melalui jalur AGH. Muhammad As’ad Sengkang dan AGH. Abd. Rahman Ambo Dalle.

Keberlanjutan institusi ini tidak lepas dari konsistensi pengajaran kitab turas dan adaptasi kurikulum formal yang dinamis.

PENDAHULUAN

A. Pesantren merupakan institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia yang berfungsi sebagai pusat penjaga tradisi keagamaan (pembawa tradisi).

Di Sulawesi Selatan, dinamika pesantren tidak dapat dipisahkan dari pergerakan organisasi Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) yang didirikan oleh Anregurutta Haji (AGH) Abd. Rahman Ambo Dalle pada tahun 1947.

Sebagai salah satu basis utama, Pondok Pesantren Al-Ikhlash Addary DDI Takkalasi di Kabupaten Barru memegang peranan penting dalam mencetak kader ulama di daerah pesisir barat Sulawesi Selatan.

Keunikan DDI Takkalasi terletak pada rantai keilmuannya yang kokoh serta keterlibatan aktif pasangan ulama pelopor, yaitu AGH. Muhammad Arib Mustary dan istrinya, AG. Hj. Sitti Zaenab [Petta aji].

Kendati institusi ini memiliki akar sejarah yang kuat dan jaringan sanad yang tersambung hingga ke pusat keilmuan Islam di Haramain (Mekkah-Madinah), dokumentasi ilmiah yang mengulas secara komprehensif mengenai silsilah intelektual dan dinamika pendiriannya masih terbatas.

Oleh karena itu, makalah ini disusun untuk mengkaji secara mendalam sejarah, genealogi keilmuan, dan kontribusi para tokoh awal tersebut.

Tujuan Penulisan;

1. Merekonstruksi linimasa sejarah berdirinya Ponpes DDI Takkalasi dari fase madrasah hingga pesantren terpadu.

2. Memetakan genealogi intelektual (sanad keilmuan) para pendidik di DDI Takkalasi.

3. Menganalisis kontribusi sosiologis-edukatif dari pasangan tokoh pelopor awal pesantren.

PEMBAHASAN

A. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren DDI Takkalasi

Perkembangan Ponpes DDI Takkalasi melewati tiga fase utama yang menandai transformasinya dari lembaga dakwah lokal menjadi institusi pendidikan formal terintegrasi.

[1954] Pembentukan DDI Cabang Takkalasi (Era Madrasah Diniah)

[1992] Peresmian Pondok Pesantren Terpadu (Sistem Asrama/Pondok)

[1995] Legalisasi Resmi via SK Departemen Agama Kab. Barru

 

1. Fase Rintisan (1954):

Cikal bakal pesantren ini dimulai dengan dibentuknya DDI Cabang Takkalasi pada tahun 1954.

Pembentukan ini diprakarsai oleh tokoh agama setempat guna merespons kebutuhan mendesak akan pengajaran agama pasca-kemerdekaan. Pada era ini, model pembelajaran masih bersifat madrasah non-asrama.

2. Fase Institusionalisasi Pesantren (1992):

Mengingat tingginya arus santri yang ingin menetap (mukim), maka atas petunjuk, bimbingan, dan restu langsung dari pendiri utama DDI, AGH. Abd. Rahman Ambo Dalle, status madrasah ditingkatkan menjadi Pondok Pesantren Al-Ikhlash Addary DDI Takkalasi pada tahun 1992.

3. Fase Legalisasi (1995):

Eksistensi pesantren mendapatkan rekognisi yuridis dari pemerintah melalui Surat Keputusan (SK) Departemen Agama Kabupaten Barru Nomor 58/E.IV/PD.03.2/KEP/IX/95 tertanggal 19 September 1995.

SK ini menjadi fondasi pembukaan jenjang pendidikan formal modern (MTs dan MA) yang diakui negara.

B. Silsilah (Sanad) Keilmuan DDI Takkalasi

Otoritas keagamaan di Pesantren DDI Takkalasi bersandar pada konsep isnad (mata rantai keilmuan) yang murni, menjaga corak pemikiran Islam moderat (wasathiyah) dengan rincian transmisi sebagai berikut:

[Ulama Haramain / Abad ke-20]

(Syekh Umar Hamdan al-Mahrusi & Syekh Said al-Yamani)

[AGH. Muhammad As’ad Sengkang]

(MAI, 1928)

[AGH. Abd. Rahman Ambo Dalle]

(Pendiri DDI, 1947)

[AGH. Muhammad Arib Mustary]

[AG. Hj. Sitti Zaenab]

(Pelopor Pemula Takkalasi)

[Generasi Pengajar DDI Takkalasi]

(AG. Drs. Mansur Musthafa)

* Mata Rantai Pertama (Jalur Haramain ke Nusantara):

Pada awal abad ke-20, AGH. Muhammad As’ad Al-Bugisi (Puang Aji Sade) belajar puluhan tahun di Masjidil Haram di bawah bimbingan ulama besar seperti Syekh Umar Hamdan al-Mahrusi (pakar hadis) dan Syekh Said al-Yamani (pakar fikih Syafi’iyah).

Ilmu-ilmu ini kemudian dibawa ke Sengkang melalui Madrasah Arabiyah Islamiyah Sengkang.

* Mata Rantai Kedua (MAI ke DDI):

AGH. Abd. Rahman Ambo Dalle merupakan murid terbaik dari AGH. Muhammad As’ad. Kematangan keilmuan Ambo Dalle melahirkan ormas DDI yang menyebarkan sayap pendidikan ke berbagai daerah, termasuk Takkalasi.

AGH. Ambo Dalle bahkan mengarsiteki dan memimpin langsung DDI Takkalasi pada kurun waktu 1954–1982.

* Mata Rantai Ketiga (Lokal Takkalasi):

Sanad tersebut diturunkan kepada para murid langsung AGH. Ambo Dalle yang ditugaskan di Takkalasi, seperti AGH. Muhammad Arib Mustary, yang kemudian diwariskan ke generasi pengajar kontemporer di bawah pimpinan AG. Drs. Mansur Musthafa.

Hal ini memastikan bahwa kitab kuning yang diajarkan (seperti Fathul Mu’in untuk fikih dan Al-Jurrumiyah untuk gramatika Arab) memiliki keabsahan metodologis yang otoritatif.

C. Analisis Peran AGH. Muhammad Arib Mustary dan AG. Hj. Sitti Zaenab.

Pasangan suami-istri ini menempati posisi sentral (key actors) dalam dinamika sosiologis dan edukatif di DDI Takkalasi:

1. AGH. Muhammad Arib Mustary sebagai Pembina Intelektual:

Beliau bertindak sebagai pilar utama pengajaran kitab-kitab klasik di madrasah.

Keterlibatan aktifnya memastikan corak pemikiran Ahlussunnah wal Jamaah tertanam kuat pada sanubari masyarakat Takkalasi di tengah gelombang modernisasi pendidikan.

2. AG. Hj. Sitti Zaenab sebagai Pelopor Pendidikan Perempuan:

Kehadiran Gurutta Hj. Sitti Zaenab memecah batasan akses pendidikan bagi santri perempuan di pedalaman Barru.

Melalui gerakan emansipasi pendidikan Islam, beliau aktif menggerakkan roda organisasi Muslimat DDI, menata kurikulum keputrian, dan memastikan santriwati mendapatkan hak serta kedalaman ilmu yang setara dengan santri laki-laki.

3. Pewarisan Kader Ulama:

Keberhasilan tarbiyah (pendidikan) dari pasangan ini dibuktikan secara empiris melalui putra mereka, AG. Dr. H. Mas’ud Arib, Lc., MA. dan Dr H Makbul Arib adiknya.

Beliau berdua melanjutkan estafet keilmuan hingga ke Universitas Al-Azhar Kairo dan kini menjadi jajaran ulama pakar fikih di PB DDI, menunjukkan bahwa internalisasi nilai di lingkungan keluarga mampu menciptakan regenerasi intelektual yang konsisten.

– Kesimpulan

1. Pondok Pesantren Al-Ikhlash Addary DDI Takkalasi memiliki akar historis kuat yang bermula dari pembentukan madrasah tahun 1954, bertransformasi menjadi pesantren terpadu tahun 1992, dan meraih legalitas formal pemerintah pada tahun 1995.

2. Sanad keilmuan pesantren ini bersifat muttasil (tersambung tanpa putus) menuju para ulama besar di Masjidil Haram melalui koridor intelektual AGH. Muhammad As’ad, AGH. Ambo Dalle, hingga bermuara pada para pengajar lokal di Takkalasi.

3. AGH. Muhammad Arib Mustary dan AG. Hj. Sitti Zaenab merupakan tokoh kunci (pioneer) yang mengintegrasikan pengajaran kitab kuning tradisional dengan gerakan emansipasi pendidikan perempuan, menciptakan fondasi kokoh bagi keberlangsungan pesantren hingga era modern.

– Saran

Diharapkan bagi pengurus Pondok Pesantren DDI Takkalasi untuk melakukan digitalisasi manuskrip atau catatan sejarah lokal para gurutta terdahulu agar mata rantai sejarah ini dapat diakses secara luas oleh peneliti eksternal maupun generasi santri mendatang.

– Billahi Taufiq wa Da’wah wal-Irsyad

 

DAFTAR PUSTAKA

* Faried, M. Alwi. (2020). Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI): Sejarah, Pemikiran, dan Dinamika Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan. Makassar: Alauddin University Press.

* Kementerian Agama Kabupaten Barru. (1995). Surat Keputusan Departemen Agama tentang Izin Operasional Pondok Pesantren Al-Ikhlash Addary Barru: Dokumen Arsip Kemenag.

* Musthafa, Mansur. (2023). Profil, Visi, dan Dokumentasi Akademik Pondok Pesantren Al-Ikhlash Addary DDI Takkalasi.

* PB DDI. (2024). Biografi Dewan Fatwa dan Jajaran Pengurus Besar Darud Da’wah wal Irsyad: Sanad dan Kiprah Intelektual AG. Dr. H. Mas’ud Arib Mustary, Lc., MA. Jakarta: Pengurus Besar DDI.

* Yunis, Muhammad. (2018). Jaringan Ulama Haramain dan Pengaruhnya Terhadap Institusi Pesantren DDI di Tanah Bugis. Jurnal Diskursus Islam.

ddi abrad 1