Selfie
Oleh: Suf Kasman
Sebagai pengamat liar kehidupan sehari-hari, saya melihat satu rutinitas yang makin sulit dipisahkan dari keseharian kita: apa pun kegiatannya, rasanya belum lengkap kalau belum ada FOTO.
Dulu kita pergi ke suatu tempat untuk menikmati suasananya. Sekarang, kita menikmati suasana sambil memastikan kamera sudah siap. Bahkan kadang belum sempat menikmati tempatnya, kita sudah sibuk jepret sana-jepret sini.
Pergi jogging, selfie. Memancing di waduk, selfie. Ngopi di Warkop H. Edie, selfie. Makan kapurung di Jl. Marantika, selfie. 𝘛𝘶𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘱𝘶𝘭𝘶𝘯𝘨 membahas 𝘮𝘢𝘱𝘱𝘦𝘯𝘳𝘦’𝘵𝘰𝘫𝘢𝘯𝘨, selfie 𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘨. Hadir dalam kegiatan pengukuhan guru besar, selfie. Pengajian arisan pun 𝘰𝘯𝘳𝘰𝘢𝘯𝘯𝘢 selfie. Begitulah zaman sekarang, ke mana pun pergi, wajah harus ikut pulang dalam bentuk foto.
Pokoknya, selama tangan masih bisa mengangkat HP Android, peluang untuk selfie terbuka 24 jam nonstop. 𝘈𝘭𝘢𝘬𝘰𝘰𝘰!
Sisa dua momen selfie yang belum pernah saya temukan: saat sujud dalam salat dan ketika sedang dikejar anjing beranak.
Kalau sedang sujud, foto mungkin masih bisa diatur—meskipun tentu bukan itu tujuan ibadah. Namun, kalau sedang dikejar anjing, kamera mendadak tidak ada penting-pentingnya. Bahkan HP mahal sekalipun bisa terasa seperti batu bata.
Yang penting cuma satu:
Lari kecepatan seribu!
Bila perlu, lompati pagar tinggi. Urusan jatuh belakangan.
Pada saat seperti itu, tidak ada lagi pikiran tentang angle, pencahayaan, filter, apalagi caption.
Yang ada cuma satu jeritan dalam hati:
“Ya Allah, selamatkan nyawaku! Foto belakangan!”
Nanti kalau sudah lolos, barulah kita sadar: ternyata ada momen dalam hidup yang memang lebih baik dialami daripada didokumentasikan.
Saya jadi teringat waktu kecil pernah dikejar anjing beranak karena tidak sengaja menginjak ekornya. Saya lari super kilat, 𝘵𝘢𝘯𝘪𝘢 𝘯𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘦𝘯𝘨 𝘶𝘸𝘰𝘭𝘢—bukan jalanan lagi yang saya tempuh.
Boleh jadi, kecepatan lari saya waktu itu melebihi tikus yang sarangnya dibongkar. Bedanya, tikus lari karena takut ditangkap, sedangkan saya takut digigit.
Saking ingin selamat, pagar setinggi dua meter mendadak berubah menjadi arena atletik lompat galah. Yang penting lompat dulu, urusan gaya belakangan!
Saat itu saya tidak berpikir untuk membuat konten, sebab memang belum ada HP Android. Kalau waktu itu sudah ada, mungkin saya sempat selfie dulu:
“Guys, mohon doanya. Saya sedang dikejar anjing galak.”
Untung HP belum ada. Kalau ada, mungkin sekarang videonya sudah ditonton 76 juta orang. Masalahnya, yang jadi konten saya, yang jadi korban juga saya. 𝘔𝘦𝘭𝘰’𝘮𝘰𝘱𝘰!
Andai ada fotografer Lasingkono yang bisa merekam kejadian itu, mungkin aksi saya langsung viral. Sebab, biar pot bunga 𝘵𝘢𝘣𝘣𝘢𝘭𝘪-𝘵𝘢𝘣𝘣𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯𝘨 saya tabrak—apa saja yang ada di depan, saya tubruk!
Bukan lagi prinsip, “Kejarlah daku, kau kutangkap.” Itu cocok untuk film romantis.
Prinsip saya waktu itu jauh lebih sederhana:
“Kejarlah daku, saya yang kabur duluan!”
Saat itulah saya sadar, manusia kalau sudah terdesak bisa berubah menjadi atlet dadakan. Yang biasanya naik tangga saja ngos-ngosan, tiba-tiba mampu melompati pagar dua meter. Rupanya bakat olahraga kadang baru muncul kalau nyawa ikut terancam.
Dan akhirnya, saya selamat.
Sejak saat itu saya belajar satu hal penting: ada momen yang tidak perlu di-selfie-kan. Cukup disyukuri karena kita masih hidup.
Inilah yang disebut BERUNTUNG.
Beruntung itu tidak selalu mendapat hadiah. Kadang beruntung itu sederhana: dikejar anjing beranak, tetapi selamat dan pulang membawa cerita.
Kalau sampai digigit, ceritanya mungkin bukan lagi Lensa Jurnalistik Islami…
Bisa-bisa berubah menjadi Lensa Klinik Puskesmas!
Nah, kebiasaan selfie rupanya bukan hanya terjadi ketika kita sedang santai. Pergi memancing pun begitu. Kail sudah dipasang, umpan sudah dilempar, tetapi ikan buronang—eh, baronang belum tentu ada. Yang pasti ada: foto!
Caption-nya:
“Doakan: sedang menunggu rezeki.”
Saya setuju. Memancing memang mengajarkan kesabaran. Namun di zaman media sosial, ada satu kesabaran tambahan yang harus dipelajari: menunggu 𝘭𝘪𝘬𝘦.
Kadang ikan belum menyambar, tetapi notifikasi sudah disambar duluan. Mata masih mengawasi pelampung, tetapi tangan sesekali mengawasi HP. Ikan ditunggu di air, like ditunggu di layar. Dua-duanya belum tentu datang.
Lebih lucu lagi kalau sudah berjam-jam memancing, ikan tidak didapat, tetapi foto sudah puluhan. Pulang pun masih sempat membuat konten:
“Pengalaman memancing hari ini: belajar menerima kenyataan pahit.”
Rapat organisasi juga tidak kalah menarik. Sebelum rapat, foto. Saat rapat berlangsung, foto. Setelah rapat, foto bersama.
Dokumentasinya begitu lengkap sampai orang yang melihatnya mungkin mengira organisasi baru saja mengadakan konferensi internasional dengan delegasi berbagai negara.
Padahal agendanya cuma satu: menentukan kapan rapat berikutnya.
Yang lebih menarik, kadang orang lebih sibuk mencari posisi terbaik untuk difoto daripada memperhatikan narasumber. Narasumber sedang menjelaskan sesuatu dengan serius, tetapi peserta malah sibuk melirik kiri-kanan mencari kamera. Begitu fotografer lewat, langsung dikode:
“Ssst… sekali dong!”
Bukan meminta penjelasan tambahan, melainkan meminta difoto!
Kalau hasilnya bagus, katanya mau dicuci dan dibesarkan—𝘓𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘭𝘦-𝘣𝘦𝘭𝘭𝘦. Akhirnya inti uraian narasumber tidak terlalu diperhatikan, yang penting dokumentasinya lengkap.
Itulah bedanya dokumentasi dengan hasil kerja. Foto bisa membuktikan kita hadir, tetapi tidak selalu membuktikan kita berkontribusi.
Ada gaya foto yang tak kalah menarik. Ada orang yang kalau difoto sejak muda sampai sekarang posisinya tidak pernah berubah: selalu bersedekap dengan tangan menyilang di dada. Mirip orang melihat tagihan restoran: tangan menyilang di dada, wajah pucat. Bukan karena bijaksana, melainkan sedang menguatkan jantung sebelum melihat angka terakhir.
Dari zaman rambut masih hitam sampai mulai jujung tasi ulunna (beruban), gayanya tetap sama.
Dan kalau foto bersama, ada lagi kebiasaan unik. Rombongan laki-laki yang berdiri berjajar hampir semuanya memajukan tangan dan menyilangkannya di depan celana. Mirip kesebelasan Barcelona sedang pose bersama sebelum pertandingan liga dunia.
Ada juga yang mengacungkan dua jari.
Saya kadang bertanya dalam hati: “Ini foto bersama atau sedang memberi kode poligami? Kok dua jari?”
Tentu saja itu cuma guyonan.
Mungkin dua jari itu tanda kemenangan. Namun lucunya, tidak ada pertandingan. Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah, bahkan rapat pun belum selesai.
Mungkin sebenarnya itu bukan tanda kemenangan, melainkan bahasa tubuh yang paling jujur:
“Acara sebentar lagi selesai. Sudah boleh pulang.”
Saya mengalami sendiri kejadian yang jauh lebih lucu.
Pekan ini, usai ceramah Maulid di Pinrang, kami hendak berfoto bersama panitia dan beberapa Pongawa daerah. Semuanya sudah siap. Orang-orang sudah berdiri rapi, senyum sudah dipasang, pakaian dibetulkan. Tinggal satu masalah yang kelihatannya sederhana tetapi ternyata cukup rumit: tidak ada yang mau menjadi fotografer.
Kalau dia memotret, dia tidak ada di dalam foto. Kalau ikut dipotret, tidak ada yang memegang kamera.
Ada teman saya yang paling malas bertugas memotret. Alasannya sederhana dan sangat manusiawi:
“Kalau saya yang foto, saya tidak ada potonya.”
Akhirnya kami seperti sedang melakukan musyawarah tingkat nasional:
“Siapa yang mau jadi korban?”
Semua saling pandang, tidak ada yang mengacungkan tangan. Mungkin masing-masing berpikir, menjadi fotografer itu amal sosial: orang lain masuk foto, kita masuk angin.
Tiba-tiba lewat seorang kakek, gayanya mirip Pu Katte (marbot masjid).
Nah, ini dia sang penyelamat!
Kami langsung memanggil:
“Pak, tolong fotokan kami.”
Kakek itu menerima HP Android dengan penuh percaya diri. Gaya memegangnya meyakinkan sekali. Kami pun langsung mengambil posisi. Ada yang merapikan baju, membetulkan peci, menarik perut sambil menahan napas, dan memasang senyum seolah-olah baru menerima penghargaan nasional.
Namun setelah HP berada di tangannya, muncul pertanyaan yang sangat mendasar:
“Apanya ditekan?”
Wuaddu!
Saya langsung berteriak:
“Pesse’i ero mapeca’-peca’e!” (Tekan yang agak menonjol itu!)
Ditekanlah.
Prett!
Selesai.
Kami langsung mendekat untuk melihat hasilnya.
Wuallaaa!
Wajah kami tidak ada!
Yang masuk gambar malah leher sampai ke bawah.
Tombol kameranya berfungsi dengan baik. HP-nya lancar. Cuma satu yang gagal: wajah kami!
Tidak tampak, mirip kuntilanak gunung Latimojong!
Kami foto bersama, tetapi yang terdokumentasi malah anatomi tubuh bagian bawah. Kalau gambarnya dikirim ke grup, mungkin orang akan bertanya:
“Ini acara Maulid atau pemeriksaan kesehatan?”
Kalau fotonya dibuat rontgen, mungkin yang kelihatan malah tulangnya.
Kami semua tertawa. Bukan karena hasilnya bagus, melainkan karena kami baru sadar: ternyata memotret orang itu tidak cukup hanya dengan menekan tombol. Objeknya juga harus masuk!
Akhirnya kami belajar satu hal penting: meminta tolong memotret ternyata juga membutuhkan kompetensi.
Belum selesai urusan itu, muncul lagi seorang ibu yang berkali-kali minta selfie. Ini masih di acara Maulid.
“Poto ki, Ustadz!”
Saya pun siap, mirip mau poto paspor.
Dia kemudian jepret sendiri dengan HP-nya.
Setelah saya lihat perangkatnya, saya mulai curiga. Kameranya menghadap kami, tetapi bentuk HP-nya seperti sudah melewati beberapa generasi zaman.
Saya pikir ini HP peninggalan sejarah! Kameranya mungkin sudah lebih tua daripada sebagian panitia.
Begitu dijepret, hasilnya keluar: buram, kurang terang, dan tidak jelas. Wajah kami seperti sedang dicari menggunakan teropong dari jarak lima kilometer.
Saya lihat hasilnya sambil menahan tawa. Dalam hati saya berkata:
“Ini bukan selfie. Ini rekonstruksi wajah manusia sebelum ditemukan kamera digital.”
Kalau gambarnya dipasang di museum, orang mungkin bertanya: “Ini foto siapa?”
Jawabannya: “Belum diketahui. Peneliti masih melakukan penelitian.”
Begitulah selfie. Kadang kita terlalu sibuk memastikan wajah kita terlihat oleh manusia, padahal dalam kehidupan ini ada yang lebih penting: memastikan amal kita bernilai di hadapan Allah.
Foto bisa disimpan di galeri, tetapi amal tersimpan dalam catatan Allah. Maka selfie boleh-boleh saja, tetapi jangan sampai sibuk memperlihatkan diri kepada manusia hingga lupa memperbaiki diri di hadapan-Nya.
29 September 2026 (SF)













