Tasawuf Syar’iy

0
14

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Tasawuf syar’i (atau tasawuf sunni) merupakan pilar spiritual utama dalam tradisi organisasi Darud Da’wah wal Irsyad (DDI).

Corak pemikiran ini menghubungkan secara harmonis antara aspek lahiriah (syariat) dan aspek batiniah (hakikat) berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, serta menolak keras paham tasawuf falsafi yang ekstrem atau dianggap menyimpang.

Hubungan intelektual dan kontinuitas ajaran tasawuf syar’i antara AGH. Abdul Rahman Ambo Dalle (sang guru/pendiri DDI) dan AGH. Prof. Dr. Andi Syamsul Bahri Galigo, Lc., MA. (murid sekaligus Ketua Umum PB DDI saat ini) dapat dipetakan melalui poin-poin berikut:

1. Hubungan Guru dan Murid (Sanad Keilmuan)

* AGH. Abdul Rahman Ambo Dalle adalah guru utama dan pembina spiritual langsung bagi AGH. Syamsul Bahri Galigo selama sepuluh tahun menimba ilmu di Pondok Pesantren DDI Ujung Lare, Pare-Pare.
* Keberkahan didikan langsung dari Gurutta Ambo Dalle inilah yang menjadi modal dasar keilmuan AGH. Syamsul Bahri sebelum ia melanjutkan studinya ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Sanad keilmuan ini memastikan bahwa pemikiran tasawuf syar’i yang dikembangkan di DDI mengalir secara murni dari generasi pendiri ke generasi penerus.

2. Integrasi Syariat dan Hakikat

* Pandangan Gurutta Ambo Dalle: Dalam kitab Bugis miliknya, Al-Qawl al-Shadiq fii Ma’rifati al-Khaliq, ia menegaskan bahwa syariat dan hakikat tidak boleh dipisahkan.

Syariat adalah landasan lahiriah (fikih ibadah), sedangkan hakikat adalah dimensi batin untuk mencapai kedekatan (ma’rifah) kepada Allah. Ia sangat kritis terhadap gerakan sufi falsafi yang mengabaikan syariat setelah merasa mencapai level hakikat.

* Pengembangan oleh AGH. Syamsul Bahri Galigo: Sebagai akademisi dan pakar Ahlussunnah wal Jama’ah Asia Tenggara, ia membentengi gagasan gurunya dengan pendekatan ilmiah modern.

Ia konsisten mengikuti garis Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi, di mana pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) harus selalu dikontrol oleh timbangan hukum syariat.

3. Konsep Zikir dan Pembersihan Jiwa

* Gurutta Ambo Dalle menekankan pentingnya keterpaduan ibadah lahir dan ibadah batin. Zikir yang diajarkannya berfokus pada pembersihan hati dari penyakit moral (akhlaqul madzmumah) agar manusia responsif terhadap kebaikan sosial.

* AGH. Syamsul Bahri Galigo menerjemahkan konsep penyucian jiwa ini ke dalam riset-riset akademis regional.

Melalui publikasi ilmiahnya—seperti kajian tentang pemikiran tasawuf Syaikh Yusuf al-Makassariy serta penerapan konsep tarbiyah jiwa—ia memperluas fungsi tasawuf syar’i sebagai instrumen pendidikan moral masyarakat modern dan penangkal gerakan ekstremisme keagamaan.

– Perbandingan Karakteristik Tokoh

| Aspek Pemikiran | AGH. Abdul Rahman Ambo Dalle | AGH. Syamsul Bahri Galigo |
|—|—|—|
| Rujukan Utama Tasawuf | Imam al-Ghazali & Imam Junaid al-Baghdadi | Imam al-Ghazali & Ulama Sufi Nusantara (seperti Syaikh Yusuf) |
| Karya Utama Terkait | Al-Qawl al-Shadiq fii Ma’rifati al-Khaliq | Pemikiran Tasawuf Syaikh Abu Mahasin Yusuf al-Taj al-Makassariy |
| Metode Penyampaian | Kitab berbahasa lokal (Bugis), dakwah kultural pesantren | Literatur akademis berbahasa Indonesia/Arab/Melayu, jaringan kampus regional |
| Fokus Kritik | Menolak sufi falsafi yang meninggalkan syariat lahiriah | Menolak paham kebatinan menyimpang (Al-Harakah al-Batiniyyah) & pelampau |

Secara garis besar, hubungan keduanya adalah wujud nyata dari estafet keilmuan DDI.

Jika Gurutta Ambo Dalle meletakkan fondasi tasawuf syar’i yang membumi bagi masyarakat Bugis, maka AGH. Syamsul Bahri Galigo bertindak sebagai intelektual yang merawat, merasionalkan, dan melestarikan warisan spiritual tersebut hingga ke tingkat internasional.

ddi abrad 1