Ta’dzhim Dan Khidmat Kepada Guru

0
19

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Pilar Teologis dan Filosofis Adab Alumni DDI

Adab dalam epistemologi pendidikan Islam dipandang lebih tinggi daripada teks keilmuan itu sendiri.

Alumni DDI dibekali doktrin akhlak yang bersumber pada tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah. Manifestasi adab alumni DDI bertumpu pada tiga pilar utama:

1) Ta’dzim dan Khidmat kepada Gurutta (Guru)

Hubungan spiritual antara santri DDI dan gurunya bersifat abadi.

Adab alumni yang paling mendasar adalah ketundukan yang takzim terhadap petuah guru, menjaga kehormatannya, serta menyambung sanad doa.

Sikap takzim ini bersandar pada perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Mujadilah ayat 11:

{يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ}

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan pemilik ilmu di sisi Allah menuntut adanya penghormatan khusus dari para pencari ilmu (alumni) kepada guru yang menjadi wasilah ilmu tersebut.

Penghormatan ini diperkuat oleh hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

{لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ}

Artinya: “Bukanlah termasuk umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami, tidak mengasihi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak seorang ulama (guru) kami.” (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, alumni DDI meyakini bahwa menjaga adab kepada Gurutta adalah kunci utama mengalirnya keberkahan (barakah) yang membuat ilmu mereka tetap bermanfaat secara sosial meski telah menyelesaikan masa pendidikan formal.

ddi abrad 1