Catatan Akhir Piala Dunia

0
28

DI BALIK SORAK PENONTON:

Catatan Akhir Piala Dunia

Suf Kasman

Pukul tiga dini hari, ketika sebagian besar warga Makassar masih terlelap, Lapangan Hasanuddin di Jalan Jenderal Sudirman justru telah berubah menjadi lautan manusia.

Ribuan pasang mata tertuju pada layar raksasa, menanti partai puncak Piala Dunia 2026. Sorak-sorai sesekali memecah sunyi, membuat dini hari terasa seperti malam pergantian tahun.

Panitia menyiapkan hadiah tak main-main: sepuluh unit sepeda motor, puluhan sepeda, serta berbagai doorprize lainnya yang berjajar rapi menanti pemilik baru.

Sebagian datang karena kecintaan pada sepak bola. Sebagian lagi diam-diam berharap pulang membawa hadiah. Sama-sama mengejar kemenangan, hanya objeknya berbeda.

Sayangnya, ada satu “kabut” lain yang bukan berasal dari embun dini hari. Beberapa penonton asyik mengisap vape, lalu mengembuskan uapnya ke udara. Kepulan putih itu sesekali menghalangi pandangan dan menyelinap ke hidung orang-orang di sekitarnya.

Bagi saya, bau rokok sudah cukup mengganggu, apalagi asap vape yang mengepul tanpa permisi, bagai cerobong pabrik padi sedang bekerja lembur.

Final Piala Dunia pun terasa seperti disaksikan dari balik kabut Malino.

Rupanya, belum semua orang memahami bahwa udara bersih juga bagian dari etika menonton bersama.

Alih-alih terpaku pada layar, mata saya lebih sering tertuju pada tingkah para penonton. Dari sanalah muncul cerita-cerita kecil yang justru membuat nobar terasa lebih hidup.

Suasana nobar tetap bergairah. Ada penonton yang berdiri sejak peluit pertama dibunyikan, ada pula yang sibuk menggigit kuku dan menutup wajah setiap kali peluang emas gagal menjadi gol.

Di tengah ketegangan itu, papan skor masih imbang. Serangan datang silih berganti. Sippanrasa mopi (seimbang adu kekuatan)!

Penonton di sebelah kiri saya terus berkomat-kamit. Entah doa apa sedang dibacanya. Mungkin sedang “mengirim” Surah Yasin dan Al-Falaq agar penyerang lawan mendadak ajena mappengkong—kakinya mati langkah sehingga lupa cara menendang bola.

Di sebelah kanan, seorang penonton memegang dada setiap kali bola mendekati kotak penalti. Segelas kopi dari penjual di belakang penonton habis tanpa terasa.

Lucunya, ketika gelas benar-benar kosong, tangannya masih refleks mengangkatnya ke mulut sampai ampas kopi melekat di bibir dan dagunya, seperti habis menikmati tinta cumi-cumi.

Dalam suasana seperti itu, duduk bersila di atas tikar plastik lapangan nobar terasa jauh lebih menarik daripada sekadar membayangkan pertandingan yang berlangsung jauh di New York–New Jersey.

Ketika jagoannya memasukkan bola, mereka langsung melonjak kegirangan sambil memeluk orang yang baru lima menit dikenal, meski aroma badannya terkadang mampu menandingi terasi basi sedang dijemur.

Tidak jauh dari tempat saya massulengka (duduk bersila), seorang penonton begitu gol pemain Spanyol masuk langsung berdiri. Kegembiraannya seperti sudah melewati batas lapangan.

Baju Spanyol yang dikenakannya dilepas, lalu dikibas-kibaskan ke arah penonton seperti kipas raksasa pembawa kabar kemenangan.

Saya hanya bisa tersenyum. Mungkin ia bermaksud berbagi kebahagiaan. Namun, penonton di belakangnya justru mendapat “bonus bau Parakang”.

Ada pula penonton berteriak bak Tarzan yang baru saja lolos dari kejaran ular pattolo’ (ular daun) di atas pohon beringin.

Saking senangnya melihat Spanyol menang, suaranya hampir mengalahkan suara sound system yang menggelegar.

Tingkah mereka terus menghadirkan cerita kecil di tengah pertandingan besar.

Ada pula yang lain, orang yang duduk dua Saf di depan saya tiba-tiba berdiri dan lama baru mau duduk lagi.

“Wê dêdê, mappênrê pella to iyê. Ikala jagoannge na (Inggris)!”

Usai pertandingan, kubu pemenang langsung spontan berjoget layaknya senam Maumere.

“Putarlah ke kiri… ke kiri… ke kiri terus ke kiri… ayo silakan ke kiri lagi… lama-lama jatuh di got!”

Tikar plastik ikut bergelombang. Lapangan nobar mendadak berubah menjadi arena pesta kecil setelah kemenangan besar.

Usai Spanyol memastikan kemenangan, mereka pun mendadak menjadi sangat religius.

“Alhamdulillah… doa memang tidak pernah salah alamat.”

Seolah-olah gol kemenangan itu lahir sepenuhnya berkat tahajud semalam, bukan karena bek lawan terpeleset beberapa detik sebelumnya.

Sebaliknya, kubu yang kalah tampak lunglai. Persis manu’ malasa kadua e—ayam broiler yang baru selesai diopname.

Lalu dimulailah ritual mencari kambing hitam. Kiper dianggap kurang lincah. Wasit divonis berat sebelah. Pelatih dituduh salah meracik strategi.

Kalau perlu, rumput stadion pun siap dijadikan tersangka. Jangan-jangan, ada jimat rekko’ ota yang dipasang Wa’ Laddung.

Pokoknya, ketika tim kesayangannya kalah, semua pihak dianggap bersalah—kecuali tim kesayangannya sendiri.

Dampak kekalahan jagoannya, kepala mereka pening tujuh keliling. Dipenuhi bintang-bintang seperti Tom dan Jerry baru selesai beradu palu godam.

Namun drama belum benar-benar selesai.

Ketika azan Subuh berkumandang, sebagian penonton bergegas mengambil wudu menuju masjid IMMIM dengan kecepatan seperti Messi mengejar peluang mencetak gol.

Namun, sebagian lainnya masih terpaku pada layar. Pertandingan rupanya belum benar-benar usai, meski sajadah masjid sudah menunggu.

Subuh itu, Piala Dunia memang menghadirkan kemenangan bagi sebagian orang. Tetapi jangan sampai sorak-sorai di layar membuat kita lupa pada pertandingan kehidupan yang jauh lebih penting.

Makassar, 20 Juli 2026 (SF)

ddi abrad 1