AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.
Bijak Dalam Bermedia Sosial
3. Menyebarkan Informasi dengan Sikap Tabayyun
Salah satu penyebab utama maraknya berita palsu di dunia maya adalah karena banyak orang menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.
Dalam Islam, perilaku seperti ini sangat dilarang. Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menegaskan pentingnya tabayyun atau klarifikasi. Sebelum membagikan informasi, pastikan sumbernya jelas dan dapat dipercaya.
Jangan hanya karena informasi itu menarik, sesuai dengan perasaan kita, atau sedang viral, lalu langsung dibagikan tanpa pikir panjang.
Sikap hati-hati dalam menyebarkan berita menunjukkan kematangan iman dan akal. Selain menghindarkan kita dari dosa fitnah, hal itu juga menjaga keharmonisan sosial dan mencegah konflik di masyarakat.
4. Menghindari Ghibah dan Fitnah di Dunia Maya
Media sosial sering kali menjadi tempat seseorang meluapkan emosi, mengomentari kehidupan orang lain, atau membicarakan kekurangan seseorang secara terbuka.
Padahal, tindakan semacam ini termasuk dalam kategori ghibah (menggunjing) dan fitnah (menyebar kebohongan).
Islam memandang ghibah sebagai dosa besar. Rasulullah SAW menggambarkan bahwa ghibah itu seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati (HR. Muslim).
Analogi itu menunjukkan betapa menjijikkan dan berbahayanya perilaku tersebut.
Di dunia digital, ghibah tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga bisa melalui komentar, unggahan, atau bahkan meme yang merendahkan seseorang.
Maka dari itu, bijaklah sebelum mengetik. Jika yang kita tulis tidak menambah manfaat, lebih baik diam.









