Menjaga Niat Dan Mengendalikan Lisan Digital

0
11

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Sebagai umat Islam, kita tentu tidak bisa memandang hal ini sekadar “urusan dunia maya”. Karena dalam pandangan Islam, setiap kata, tulisan, dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban, baik yang dilakukan secara langsung maupun lewat jari di layar ponsel.

Rasulullah SAW telah mengingatkan, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Prinsip sederhana ini menjadi dasar penting dalam beretika di dunia digital. Maka, sebelum mengetik dan membagikan sesuatu di media sosial, setiap muslim sebaiknya bertanya pada dirinya:

apakah yang saya tulis akan membawa manfaat atau justru menimbulkan mudarat?

1. Menjaga Niat dalam Bermedia Sosial

Setiap tindakan seorang muslim hendaknya diawali dengan niat yang baik. Dalam konteks media sosial, niat itu bisa berupa berbagi ilmu, menyebarkan kebaikan, atau menjalin silaturahmi.

Namun, realitanya, banyak orang menggunakan media sosial untuk mencari pengakuan, popularitas, atau bahkan menjelekkan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa nilai amal seseorang tergantung pada niatnya. Bila niat kita tulus karena Allah, maka aktivitas sederhana seperti membagikan kutipan inspiratif pun bisa bernilai ibadah.

Tapi jika niatnya sekadar mencari perhatian, maka perbuatan itu kehilangan nilainya di sisi Allah.

Dalam dunia digital, menjaga niat berarti menggunakan media sosial secara bijak bukan untuk memamerkan diri, mengejar validasi, atau mengomentari hidup orang lain.

2. Mengendalikan Emosi dan Menjaga Lisan Digital

Salah satu tantangan besar di media sosial adalah mengendalikan emosi. Tidak jarang seseorang terpancing untuk menulis komentar pedas atau membalas hujatan dengan kemarahan.

Padahal, kata-kata di dunia maya memiliki dampak besar bisa menyakiti, menimbulkan konflik, atau bahkan merusak hubungan baik.

Mengendalikan diri di dunia digital adalah bentuk kedewasaan dan cerminan akhlak. Jika melihat hal yang tidak disukai, sebaiknya diam atau menanggapinya dengan cara yang sopan.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Orang kuat bukanlah yang menang dalam perkelahian, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks media sosial, kekuatan itu tampak dari cara seseorang menahan diri untuk tidak ikut berdebat, tidak mudah tersinggung, dan tidak membalas hinaan dengan kebenciKarena setiap tulisan yang keluar dari jari kita pada dasarnya adalah cerminan hati dan akhlak.

ddi abrad 1