Sanksi-sanksi Bagi Yang Enggan Berzakat

0
190

AG. Prof. Dr. H. Muh. Faried Wadjedy, Lc., MA.

Ketika ada sesuatu yang tegas sanksinya bila ditinggalkan, maka Allah Swt. pasti menyiapkan kebaikan yang berlimpah bila ditunaikan.

Di antara sanksi atau akibat yang terjadi bila zakat diabaikan adalah sebagai berikut:

a) Harta dapat musnah bila diabaikan zakatnya, berikut ancaman Rasulullah Saw:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَا خَالَطَتِ الزَّكَاةُ مَالًا قَطُّ إِلَّا أَهْلَكَتْهُ ” (رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ وَالْبُخَارِيُّ فِي تَارِيخِهِ وَالْحُمَيْدِيُّ وَزَادَ قَالَ: يَكُونُ قَدْ وَجَبَ عَلَيْكَ صَدَقَةٌ فَلَا تُخْرِجْهَا فَيُهْلِكُ الْحَرَامُ الْحَلَالَ (

Artinya:

Dari ‘A’isyah R.A., Rasulullah Saw. bersabda, “Tiadalah zakat itu bercampur dengan harta kecuali zakat merusak harta itu” (H.R. al-Syafi’iy, al-Bukhariy dalam Tarikhnya, dan al-Humaidy).

Beliau tambahkan sabda Nabi Saw, “Mungkin ada hartamu yang wajib dizakatkan tapi tak dikeluarkan, maka harta haram itu akan merusak yang halal.”

b) Bila seseorang diberi kebaikan lalu menghindari kebaikan selagi mereka mampu untuk mendapatkannya, maka itu berarti dia mengharap keburukan.

c) Bila masyarakat secara umum malas untuk berzakat, maka terancam kemarau panjang atau dilanda masa paceklik. Berikut ancaman Rasulullah Saw:

مَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلَّا ابْتَلَاهُمُ اللهُ بِالسِّنِيْنَ (رواه الطبراني(

Artinya:

“Tidaklah suatu kaum menolak membayar zakat melainkan Allah menimpakan paceklik kepada mereka” (H.R. al-Thabraniy).

d) Shalat bermasalah bila zakat diabaikan. Berikut ancaman Rasulullah Saw:

عن ابن عباس رضي الله عنه عن النبي ﷺ «لا صلاة لمانع الزكاة، والمتعدي فيهـا كمانعها” (رواه الربيع بإسناده(

Artinya:

Dari Ibn Abbas R.A. dari Nabi Saw., “tidak ada shalat bagi yang menahan zakat. Orang yang menyerahkan zakat kepada selain yang berhak, maka termasuk menahan zakat” (H.R. al-Rabi’ dengan sanadnya).

e) Shalat diabaikan bila zakat diabaikan. Berikut ancaman dari riwayat Ibn Mas’ud R.A:

عن ابنِ مسعودٍ أمرَنا بإقامِ الصَّلاةِ وإيتاءِ الزَّكاةِ

ومن لم يزكِّ فلا صلاةَ له” (أخرجه الطبراني: ١٠٠٩٥(

Artinya:

Dari Ibnu Mas’ud R.A., “Kami diperintahkan untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Barang siapa yang tidak berzakat, maka tidak ada shalat baginya” (H.R. al-Thabraniy: 10095).

f) Bila mau bebas dari semua pertanyaan di Akhirat kelak, maka siapkanlah untuk dirinya tanah seluas 1×2 meter selain tanah Allah. Beristirahatlah di sana sesuka hatinya bila mungkin angan-angan itu bisa tercapai.

g) Shalat tidak diterima bila zakat diabaikan. Berikut penjelasan Ibnu Abbas R.A:

قالَ ابنُ عباسٍ رضي الله عنهما: ثلاثُ آياتٍ نزلَتْ مقْرونَةٌ بثلاثٍ، لا يَقبَلُ اللهُ واحدةُ بدونِ قَريْنتها، أمَّا الأولَى : فَهي قَولَهُ تعالى: أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ [النور:54]، فمَنْ أطاعَ اللهَ ولمْ يُطِعْ الرسولَ فلنْ يَقْبَلَ مِنْهُ،وأمَّا الثانيةُ : فهي قولُ اللهِ : وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ [البقرة:43] فمَنْ أقامَ الصلاةَ وضيَّعَ الزكاةَ لنْ يَقبلَ مِنْهُ، أمَّا الثالثةُ: فهي قولُ اللهِ تعالى : أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ [لقمان:14]، فمن شكر الله ولم يشكر لوالديه لن يَقبَلَ مِنْهُ.

Artinya:

Ibnu Abbas R.A. telah berkata, “ada tiga ayat turun berpasangan dengan tiga pasangan. Allah tidak menerima salah satunya bila tidak ditunaikan pasangannya.

Adapun yang pertama, yaitu firman Allah Swt. taatilah Allah dan taatilah Rasulullah (QS al-Nur: 54). Barang siapa yang menaati Allah semntara tidak menaati Rasulullah, maka ketaatannya tidak diterima.

Adapun yang kedua adalah firman Allah Swt., “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat! (QS al-Baqarah: 43)” Barang siapa yang mendirikan shalat lalu mengabaikan zakat, maka sungguh shalatnya tidak diterima.”

Adapun yang ketiga adalah firman Allah Swt., “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu! (QS Luqman: 14)” Barang siapa yang mensyukuri Allah Swt. lalu tidak berterima kasih kepada orang tuanya, maka sungguh rasa syukurnya tidak diterima.”

Kata kuncinya:

Orang yang shalat tapi tidak zakat, maka shalatnya turut bermasalah di hadapan Tuhannya kelak. Bila engkau sayang shalatmu, maka tunaikanlah zakatmu!

h) Separuh harta akan diambil secara paksa oleh Allah Swt. bila zakat tidak ditunaikan. Berikut ancaman Rasulullah Saw:

عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي كُلِّ سَائِمَةِ إِبِلٍ فِي أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ وَلَا يُفَرَّقُ إِبِلٌ عَنْ حِسَابِهَا مَنْ أَعْطَاهَا مُؤْتَجِرًا قَالَ ابْنُ الْعَلَاءِ مُؤْتَجِرًا بِهَا فَلَهُ أَجْرُهَا وَمَنْ مَنَعَهَا فَإِنَّا آخِذُوهَا وَشَطْرَ مَالِهِ عَزْمَةً مِنْ عَزَمَاتِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لِآلِ مُحَمَّدٍ مِنْهَا

شَيْءٌ (رواه أبو داود: ١٣٤٤

Artinya:

Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Pada setiap empat puluh unta saimah (yang digembala lebih dari satu tahun) terdapat zakat satu bintu labun (yang memiliki umur dua tahun) dan unta tidak boleh dipisahkan dari hitungannya.

Barangsiapa yang memberikan zakatnya karena mengharap pahala, maka baginya pahala.

Barangsiapa yang enggan membayarnya, maka Kami akan mengambilnya dari setengah hartanya sebagai kewajiban di antara kewajiban-kewajiban kepada Allah Azza wa Jalla. Keluarga Muhammad tidak berhak sedikitpun dari harta tersebut” (H.R. Abu Daud: 1344).

i) Ancaman dahsyat dalam al-Qur’an bila zakat diabaikan. Berikut informasi QS al-Taubah: 34 dan 35,

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيْمٍ ۝ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُون ۝

Terjemahnya:

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak lalu tidak menginfakkan di jalan Allah, maka sampaikanlah kabar gembira kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan azab yang amat pedih” (QS al-Taubah: 34). Pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahannam lalu dengan itu dahi distrika, lambung dan punggung mereka seraya dikatakan kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah akibat dari apa yang kamu simpan itu” (QS al-Taubah: 35).

j) Kelak datang pada hari kemudian untuk mencari hartanya. Berikut ancaman Rasulullah Saw:

عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. يَقُوْلُ ابْنُ اۤدَمَ مَالِيْ مَالِيْ، قَالَ وَهَلْ لَكَ يَابْنَ اۤدَمَ مِنْ م َالِكَ اِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ” (رواه مسلم: ٢٩٥٨(

Artinya:

Dari Mutharrif bin Syu’bah meriwayatkan dari ayahnya, beliau berkata, “Aku mendatangi Nabi Saw, sedang beliau sedang membaca ayat “Alhakum al-takatsur.” Lalu Nabi saw bersabda, “Ada seorang manusia mengatakan ‘hartaku-hartaku.” Nabi Saw. bersabda lagi, “Wahai manusia, kamu tidaklah memiliki harta (yang kamu kumpulkan), melainkan apa yang kamu makan hingga habis, apa yang kamu pakai hingga lapuk, dan apa yang kamu sedekahkan, maka itulah yang kekal” (Riwayat Muslim).

j) Hartanya pada hari kemudian akan menjadi ular yang botak lalu melilitnya. Berikut ancaman Rasulullah Saw.,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ

يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ثُمَّ تَلَا وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْل ِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ”)(رواه البخاري: ١٣٣٨(

Artinya:

Dari Abu Hurairah R.A. berkata, “Rasulullah Saw. telah bersabda, “Barangsiapa yang Allah berikan harta namun tidak mengeluarkan zakatnya, maka pada hari qiyamat, hartanya itu akan berubah wujud menjadi seekor ular botak yang bertanduk dan memiliki dua taring lalu melilit orang itu pada hari Kiamat lalu ular itu memakannya dengan kedua rahangnya yaitu dengan mulutnya seraya berkata, “Aku inilah hartamu, akulah harta simpananmu.”

Kemudian Beliau membaca QS Ali ‘Imran:180 yang artinya, “Janganlah sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya berpikir, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan” (H.R. al-Bukhariy: 1338).

j) Kekikiran kelak menjerumuskan masuk ke neraka. Berikut ilustrasi Rasulullah Saw:

عن أبي سعيد الخُدَريّ رضي الله عنه أن النبي ﷺ قال “السخاء شَجَرَة فِي الْجَنَّة ، وأغصانها فِي الْأَرْض ، فَمَنْ تعلق بغصن مِنْهَا جره إِلَى الْجَنَّة ، والبخل شَجَرَة فِي النَّار ، وأغصانها فِي الْأَرْض ، فَمَنْ تعلق بغصن مِنْهَا جره إِلَى النَّار.”

Artinya:

     Dari Abu Sa’id al-Khudriy, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, “kedermawanan adalah pohon di surga dan dahan-dahannya ada di bumi. Barang siapa berpegang pada dahannya, niscaya akan membawanya ke surga.

Kekikiran adalah pohon di neraka dan cabang-cabangnya ada di bumi. Barang siapa bergantung pada cabangnya, maka akan menyeretnya ke neraka.”

Kesimpulan:

     1) Bila diyakini bahwasanya ajaran Rasulullah Saw. adalah rahmat, maka mesti juga diyakini bahwa zakat itu adalah rahmat.

     2) Zakat selaku rahmat betul-betul dahsyat karena kelihatannya mengurangi harta, namun kenyataannya justru menambah harta. Buktinya, tidak ada orang yang bangkrut usahanya karena zakat, justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Betapa banyak orang yang berkembang hingga maju usahanya berkat zakatnya. Itu sudah janji Allah Swt. yang harus diyakini kebenarannya.

    3) Bila ingin hati dan hartanya suci, usahanya berkembang hingga mendatangkan kebaikan yang tak terkira serta limpahan berkah sekeluarga dunia-Akhirat, maka tunaikanlah zakat!

Disimak oleh Muh. Aydi Syam

ddi abrad 1