Mengamalkan Petunjuk Al-Qur’an

0
210

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Keliru dalam memfungsikan al-Qur`an

Al-Qur`an adalah petunjuk hidup bagi manusia yang ditulis dengan bahasa Arab. Untuk memahaminya dengan benar diperlukan seperangkat ilmu sebagai dasar memahami dengan tepat dan benar.

Ilmu tersebut adalah ilmu nahwu, sharaf, ushul fiqiah, ‘ulumul qur`an, dan ilmu-ilmu lainnya yang menunjang mengetahui isi al-Qur`an dengan benar.

Akan tetapi, kadang masih terdapat yang memfungsikan al-Qur`an sebagai azimat, jampe, pelet, atau sebagai obat penyakit fisik dan sebagai khasiat yang lainnya seperti ingin kaya, naik pangkat atau jabatan dan lainnya. Meskipun menggunakan al-Qur`an, ini dianggap sesat karena telah menggunakan al-Qur`an tidak sesuai dengan semestinya.

Sejauh mana petunjuk al-Qur`an telah diamalkan

Umat Islam tidak hanya dituntut rajin membaca dan mempelajari al-Qur`an. Akan tetapi, mereka pun dituntut untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari; baik berupa ibadah ritual ataupun ibadah sosial.

Hal ini seperti halnya perilaku Nabi Muhamad shallallähu ‘alaihi wa sallam yang diungkapkan oleh ‘Aisyah radhiya Alläh ‘anh sewaktu ditanya: “Bagaimana sikap dan akhlak Nabi?” Ia menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنُ

Akhlaknya (Rasulullah) adalah al-Qur`an

Dengan kata lain, Nabi adalah penjelmaan al-Qur`an.

Demikian juga sikap para sahabat Nabi. Mereka begitu kuat untuk mengamalkan kandungan al-Qur`an sampai ada yang mencoba mengevaluasi mana saja ayat yang belum diamalkan.

Mereka baca dari awal al-Qur`an (al-Fatihah) sampai akhir akhir (al-Nas), kemudian dievaluasi mana ayat yang belum diamalkan.

Akhirnya mereka menyimpulkan dengan ungkapan:

“Tiga ayat al-Qur`an yang belum merata diamalkan oleh para shabat Rasululläh.”

Diantara tiga ayat yang belum diamalkan tersebut adalah surat al-Nur ayat 58.

Ayat ini melarang anak yang belum dewasa masuk kamar orang tua dalam tiga waktu: yaitu setelah zhuhur, setelah isya dan sebelum shubuh.

Karena ketiga waktu itu adalah waktu-waktu yang aurat. Mereka harus meminta izin untuk masuk kamar orang tua dalam waktu-waktu tersebut.

Dengan demikian kita dituntut untuk menjadikan al-Qur`an dan al-Hadits sebagai pedoman hidup guna meraih keselamatan di dunia dan akhirat; meraih hasanah di dunia dan menggapai hasanah di akhirat.

Orang yang paling merugi ialah orang yang menderita di akhirat; yaitu kekal di neraka. Sedangkan orang yang paling beruntung ialah mereka yang meraih kebahagiaan di akhirat dengan memasuki surga.

Surga adalah tempat kenikmatan dan kebahagiaan yang abadi. Untuk meraihnya, ikutilah petunjuk al-Qur`an dan al-Sunnah. Jadikanlah keduanya pedoman hidup kita.

ddi abrad 1