Khutbah Idul Fitri 1447 H

0
2223

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Khutbah Idul Fitri 1447H

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اللهُ اَكْبَرْ (٩×) الله أكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله الله أكْبَرُ الله أكْبَرُ وَلله الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهم صل وسلم وبارك عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ باحسان اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَمَّا بَعْدُ- فَيَاعِبَادَ اللهِ – اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ العزيز: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ  أتقوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ – صدق الله العظيم:

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Idul Fitri Yang berbahagia

Hari ini adalah hari yang mulia, hari yang penuh berkah bagi kita orang yang beriman. Kita bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Allah Subahanahu wata’ala, sehingga ikut menikmati fadilah dan kemuliaannya.

Semoga hari yang penuh berkah dan bahagia ini menjadi asas utama dalam mengarungi hidup kita di masa-masa yang akan datang.

Sejak tadi malam di pelbagai belahan bumi dikumandangkan Takbir, Tasbih, Tahmid dan Tahlil sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT setelah menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan selama satu bulan penuh.

Sungguh nikmat rasanya kita melatih diri menjadi orang yang bersyukur. Hal ini sebagaimana diajarkan oleh Allah Subhanahu wata’ala:

وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Tafsirnya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur ” (QS. Al-Baqarah: 185)

Takbir dengan melafazkan Allahu Akbar adalah pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT. Di dalam Takbir harus kita sadari, bahwa selain Allah Yang Maha Kuasa semuanya kecil, kita semua kecil dihadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Segala pangkat, jabatan, kedudukan, kekayaan, serta kelebihan-kelebihan lain di dunia ini, semuanya kecil. Karena semua yang melekat pada kita adalah dari Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Jika Allah berkehendak untuk mengambilnya semua akan hilang dalam seketika.

Karena itulah tidak patut rasanya untuk kita bangga-banggakan, lebih-lebih kita menjadi Sombong, Ujub, Takabbur, merasa besar dengan semua kelebihan itu.

Kalimat Takbir diiringi Tasbih, dan Tahlil. Tasbih lafadh “Subhaanallah” yang artinya Maha Suci Allah. Allah maha Suci dari segala sifat-sifat lemah, cacat, dan kurang.

Sementara Tahlil kita ulang-ulang untuk memperkokoh keimanan dan ketauhidan kita. Kalimat tahlil “laailaaha illa Allah” tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah, hanya kepada-Nya kita beribadah, hanya kepada-Nya kita bergantung, hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan dan perlindungan. Karena itulah kita ikrarkan selalu “

اِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ

Tafsirnya: “Hanya kepada Engkaulah (Ya Allah) kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan “.

Lalu kita mengucapkan Tahmid, sebagai pujian untuk Allah yang mempunyai sifat Al-Rahman yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hamba-Nya dan ungkapan syukur atas semua nikmat yang diberikan oleh Allah pada kita yang banyak sekali sehingga sering kali tidak kita sadari.

الله أكْبَرُ الله أكْبَرُ الله أكْبَرُ وَلله الْحَمْدُ

Hari ini kita benar-benar berpisah dengan Ramadhan Mubarak 1447H, tentu bagi orang-orang yang beriman, tidak ada perpisahan yang lebih mengharukan dari pada perpisahan dengan bulan suci Ramadhan.

Alhamdulillah kita semua telah menyelesaikan Ibadah Ramadhan sebulan penuh, mudah-mudahan ibadah dan amalsaleh yang kita kerjakan dengan penuh keikhlasan diridhai dan diterima oleh Allah SWT.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa, bulan yang penuh berkah. Bulan yang didalamnya tersedia segala fasilitas khusus, yang kesemuanya bermuara untuk memotivasi manusia agar menjadi manusia yang bertaqwa, manusia yang mulia. Manusia, bani Adam pada dasarnya tercipta sebagai makhluk yang dimulyakan oleh Allah. Di dalam Al-Qur’an Allah menyatakan:

وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِيٓ ءَادَمَ

Tafsirnya : “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam “. (QS. Al-Isra’: 70)

Namun seiring dengan perjalanan waktu, kemulyaan itu lambat-laun sirna, terkikis oleh dosa-dosa yang diperbuat manusia. Dosa akibat perilakunya yang terdorong oleh hawa nafsu sehingga melanggar ketentuan Syari’at Allah.

Hawa nafsu sering kali menggiring manusia untuk berbuat melampaui batas, mengambil hak orang lain yang bukan haknya, berbuat mendzolimi orang lain, bahkan mendzolimi diri sendiri, menyalahgunakan amanah, merusak lingkungan hidup dan menerjang larangan Allah dan Rasul-Nya.

Hawa nafsu sering kali juga melahirkan akhlak tercela seperti Iri, Dengki atau Hasud, Namimah, Sombong, Egois, merasa paling benar, dan paling berjasa, mudah tersinggung, dan berat memaafkan

orang lain. Bahkan hawa nafsu bisa mengotori kualitas ibadah kita karena diselimuti sifat Riya’, Ujub, merasa paling baik dan meremehkan orang lain.

Sifat dengki sering kali menjadi pangkal dari akhlak buruk lainnya. Karena didorong oleh dengki, seseorang memfitnah orang lain, membuat kebohongan dengan mengarang cerita palsu untuk menjatuhkan orang lain.

Karena sifat dengki pula seseorang kehilangan sikap obyektifnya, sehingga tidak mampu memberikan apresiasi atas keberhasilan orang lain.

Karena dengki pula seseorang gagal mengambil hikmah dan pelajaran dari orang lain, padahal Rasulullah SAW telah menyampaikan:

الحكمة ضالة المؤمن حيثما وجدها فهو أحق بها

Artinya : ”Adapun hikmah itu barang hilangnya orang iman di mana dia menjumpai maka orang iman yang lebih berhak atas kalimat tersebut ”.

Penyakit dengki dapat menjangkiti siapa saja, orang biasa, atau orang berkedudukan, bahkan yang menyandang kedudukan sebagai tokoh pun bisa dihinggapi penyakit dengki. Maka Rasulullah Saw mengingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Artinya : “ Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar “.

Maasyiral muslimin Rahimakumullah

Hawa nafsu ini yang tidak terkendali dan yang selalu dituruti dapat menjatuhkan martabat manusia ke tempat yang paling hina, Allah berfirman:

ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ

Tafsirnya : “ Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) “,

Bahkan di ayat lain Allah menyebut lebih hina dari binatang:

أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ

Tafsirnya: “ Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai “. (QS. al-A’raf: 179)

Memang manusia yang telah dikendalikan oleh hawa nafsunya bisa lebih ganas dari binatang buas sekalipun. Tidak ada binatang buas yang tega membunuh anaknya sendiri, tapi sekarang sering kita membaca berita, seorang ibu membuang bayinya sendiri ke tempat sampah, naudzubillahi min dzalik.

الله أكْبَرُ الله أكْبَرُ الله أكْبَرُ وَلله الْحَمْدُ

Kaum Muslimin rahimakumullah

Allah subhanahu wata’ala telah menfasilitasi manusia satu bulan penuh yakni bulan Ramadhan dengan segala keistimewaannya agar manusia terdorong untuk melakukan pembersihan diri, menundukkan hawa nafsu, memotong kehendak hawa nafsu sehingga menjadi bersih kembali dan memperoleh predikat manusia yang bertaqwa.

Tujuan puasa adalah “la’allkum tattaquun” supaya kalian bertaqwa. Dan taqwa lah yang mampu mempertahankan status kita sebagai makhluq yang mulia dalam arti seutuhnya. Sesuai dengan firman Allah:

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

Tafsirnya: “ Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu “. (QS. Al-Hujurat: 13)

Di bulan Ramadhan manusia dilatih untuk tidak berdusta. Tidak ada gunanya puasa jika seseorang masih berdusta atau berbohong. Rasulullah bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخاري)

Maksudnya: “ Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya “.

Manusia dibulan Ramadhan dilatih untuk menjadi orang jujur, karena jujur adalah pangkal kebaikan. Sebaliknya kita dilatih untuk tidak berdusta, karena dusta adalah pangkal keburukan. Banyak kejahatan yang ada saat ini modusnya adalah dusta.

Orang hasad, bisa menjadi-jadi jika sudah berani berdusta. Sehingga menfitnah dan mengadu domba. Korupsi itu modusnya juga dusta yang diwujudkan dalam bentuk memalsu data karena kerakusan harta.

Kaum Muslimin rahimakumullah

Betapa besar manfaat bulan Ramadhan bagi umat manusia, karena itu pantas sekali bagi orang-orang yang beriman, Ramadhan adalah bulan yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Bahkan sabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan:

لو يعلم الناس ما في هذا الشهر من الخيرات لتمنوا ان يكون رمضانُ السنة كلها

Maksudnya: “ Andai manusia mengetahui kebaikan-kebaikan yang dikandung di bulan Ramadhan ini, niscaya mereka akan selalu berharap agar sepanjang tahun menjadi Ramadhan semua ”.

MA’ASYIARAL MUSLIMIN

Makna terpenting ibadah puasa Ramadhan ialah tumbuhnya rasa kemanusiaan sehingga inti puasa ialah menahan nafsu diri yang harus diikuti aksi sosial profetik.

Inilah inti dari kesadaran murni kemanusiaan sebagai perluasan hikmah penurunan Al-Quran di bulan Ramadhan. Hikmah demikian terlihat dari fungsi kitab suci itu sebagai pedoman manusia memecahkan segala persoalan kehidupan.

Kesadaran murni kemanusiaan sebagai akar etika sosial perlu digali dan diwujudkan menjadi sebuah kekuatan diri, sehingga seseorang bisa bertindak lebih dari sekadar manusia.

Penemuan kesadaran murni dan pemenuhan aksi sosial profetik merupakan tujuan utama ibadah puasa. Jika bisa dipenuhi, maka akan menempatkan seseorang pada maqam yang lebih tinggi dari malaikat.

Karena itu, takwa dimaknai sebagai realisasi kesadaran murni kemanusiaan dan etika sosial profetik bukan sekadar arti verbal ketakutan pada Allah.

Kesadaran murni kemanusiaan terlihat dari kesediaan manusia menempatkan hajat ruh di atas hajat tubuh. Maksud learning to be (belajar menjadi diri) sebagai salah satu pilar ilmu dalam gagasan pendidikan berbasis kompetensi ialah how to be human (bagaimana menjadi manusia) seperti makna arafa nafsahu (kenal dan tahu diri) sebagai basis arafa rabbahu (kenal Tuhan).

Gagasan Socrates angry with him self gentle to the others berarti menemukenali ego diri adalah akar pengorbanan hajat ego bagi hajat sosial. Di snilah terletak kekuatan Ramadhan (the power of Ramadhan).

Karena itulah selesainya ibadah puasa ditandai pemenuhan zakat fitrah dari mereka yang berpuasa dengan seluruh keluarganya jika memiliki kelebihan makanan.

Zakat fitrah berupa bahan makanan utama itu kemudian dibagikan kepada para fakir miskin. Sayang hikmah kemanusiaan itu selama ini kurang mendapat perhatian ketika banyak orang lebih sibuk pada diri sendiri, hingga zakat fitrah kehilangan makna kemanusiaannya.

Ajaran demikian bisa ditemukan di hampir semua agama dan tradisi, walaupun teknik ritualnya berbeda.

Kini kita telah berada di hari Idul Fitri, yang bermakna hari raya fitrah. Idul fitri juga bermakna kembali kepada fitrah, yakni kembalinya orang-orang yang berhasil menjalani madrasah pembersihan diri di bulan Ramadhan kepada fitrahnya yakni makhluq yang saleh dan mulia.

Karena itulah orang-orang yang berhasil melakukan pembersihan diri ini disebut al-aaiduun (orang-orang yang kembali ke fitrah kesuciannya) dan juga al-faaizuun (orang-orang yang beruntung atau orang-orang yang memperoleh kemenangan yakni iman dan taqwa’). Sehingga kita sering mengatakan min al-aaidiin al faaiziin. Kullu ‘am waantum bi khairin wasa’adah.

Pasca bulan Ramadhan yang harus kita lakukan adalah melestarikan nilai-nilai mulia Ramadhan. Melestarikan nilai-nilai Ramadhan artinya memelihara ketaqwaan kita, menambah kukuh keimanan kita dan akhlak yang mulia yang tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari.

Intinya adalah istiqamah memelihara akhlak terpuji, seperti jujur, sabar, tawakkal, empati, ikhlash, dan peduli. Yang semuanya telah diajarkan untuk kita selama Ramadhan.

Hal yang tidak kalah penting adalah disiplin dalam mengelola waktu. Dibulan puasa kita selalu disipin dalam berbuka dan makan sahur. Aktivitas kita selalu rutin dan tertib. Nah, ini yang perlu diteruskan.

Kami ajak uamat Islam hari, seyogia menjaga amal kita yang sudah mulai dibiasakan di bulan Ramadhan, seperti shalat lima waktu dan bangun malam. Bangun malam yang biasa kita lakukan untuk makan sahur, pasca Ramadhan kita bangun malam untuk bertahajjud.

الله أكْبَرُ الله أكْبَرُ الله أكْبَرُ وَلله الْحَمْدُi

Di dalam kehidupan harian kita patut disadari, bahwa saat ini kita berada di suatu zaman yang sering kita namai dengan era globalisasi, juga era milenial. Zaman seperti ini juga disebut dengan zaman kontemporer. Zaman saat ini. Suka atau tidak suka, keadaan memaksa siapapun untuk masuk di dalamnya.

Dalam kancah global, hal yang tidak bisa dihindari adalah pertarungan kepentingan, yang termasuk di dalamnya pertarungan antara yang haq dan yang batil.

Pertarungan antara kebenaran dengan hawa nafsu dan intrik-intrik lain. Contoh yang nyata hari ini adalah permusuhan yang medatangkan peperangan antara Amerika Cs dengan negara Iran yang berdampak signifikan kepada dunia hari ini.

Yang perlu diwaspadai, bukan hanya peperangan yang ditimbulkan, akan tetapi era global kini menjadi sarana penyebaran faham dan ideologi yang bertentangan dengan ajaran Islam, nilai agama kita.

Faham liberal atau faham kebebasan memasuki bebagai aspek. Sehingga menimbulkan perkara yang diharamkan dalam ajaran agama Islam.

Liberalisasi sosial budaya yang melahirkan kebebasan berekspresi tanpa batasan memicu pergeseran nilai dan dekadensi moral. Pornografi, seks bebas dan penggunaan minuman keras serta obat terlarang menjadi trend baru.

Pornografi kendati undang-undangnya telah disahkan di negara kita, kenyataannya masih jauh dari mampu untuk membendung betapa derasnya arus penyebaran pornografi. Efeknya, seks bebas dan prostitusi menemukan bentuk baru dengan model prostitusi menggunakan jalur online.

Maka kita harus waspada jangan sampai keluarga kita, putra-putra kita terjebak dengan bahaya khusunya narkoba, pornografi dan seks bebas ini.

Oleh sebab itu, awasi putra-putri kita. Jangan biarkan mengakses pornografi yang bisa saja dengan mudah dilihat dengan menggunakan hand phone berteknologi android atau iphone. Karena itu, orang tua jangan bangga dulu, ketika bisa membelikan hand phone yang mahal pada putra-putrinya. Itu semua bisa menjadi bencana.

Yang lebih berbahaya lagi liberalisasi agama melahirkan berbagai tafsiran bebas terhadap agama, khususnya Islam. Yang lebih menghawatirkan lagi, ternyata pengaruh liberalisasi agama sampai pada mempengaruhi cara memahami Islam.

Belajar Islam yang semestinya menjadi pondasi, malah dirusak dengan model fahaman liberal. Akibatnya, pendidikan Islam yang semestinya menghasilkan manusia-manusia yang beriman dan bertaqwa, tetapi yang terjadi malah menciptakan orang-orang yang ragu pada ajaran agama.

Rasululah Sallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

مَنِ اْزدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا

Maksudnya: “Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah petunjuknya maka tidak bertambah dari sisi Allah kecuali jauhnya (dari kebenaran) “. (HR. Al-Dailami)

Menghadapi berbagai tantangan ini tidak ada cara lain kecuali dengan memperteguh keimanan dan ketaqwaan kita, melalui penguatan ilmu agama dan amal saleh mengikut tuntunan manhaj Ahli Sunnah wal-Jama’ah. Ingan Pesan Allah Swt dalam Al-Qur’an:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارا (التحريم

Tafsirnya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari (siksaan) api neraka “. (QS. Al-Tahrim: 6)

Para orang tua, ibubapa perlu waspada terhadap putra-putrinya jangan sampai terjebak oleh arus budaya yang merosak yang membonceng arus global yang tidak sehat ini, seperti pergaulan bebas, narkoba, dan sebagainya.

Para orang tua perlu tahu dan memilihkan pendidikan yang baik pada putra-putrinya jangan sampai terpedaya oleh paham dan pemikiran yang sesat. Waspada dan hati-hati, menjadi kata kunci.

Akhirnya, semoga Allah Swt selalu membimbing kita, hidayah dan Tawfiq Nya untuk bisa memelihara semangat bulan suci Ramadhan 1447H di hari-hari kita yang akan datang, sebagai modal agar tidak tergerus oleh arus perubahan sosial dan kemajuan teknologi yang bisa merusak tatanam kehidupan kita. Dan tetap istiqamah dijalan yang benar dan diridhai.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَأَمَّا مَن طَغَىٰ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَعَنِ ٱلۡهَوَىٰ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ.

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ المتقين. وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ الله لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

ddi abrad 1