AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَفَمَنْ يَّمْشِيْ مُكِبًّا عَلٰى وَجْهِهٖۤ اَهْدٰۤى اَمَّنْ يَّمْشِيْ سَوِيًّا عَلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup yang lebih terpimpin (dalam kebenaran) ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?”
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 22)
Tidak mungkin sama antara orang yang sesat dengan orang yang mendapat petunjuk. Tanpa petunjuk Allah, manusia seperti berjalan jatuh tersungkur tidak tahu arah.
Hati yang rusak membuat seseorang tidak bisa membedakan benar dan salah. Kunci semua itu adalah hati dan mengikuti jalan Allah yang benar.
Apakah hidup kita penuh kebingungan dan maksiat (seperti terjungkal), atau tenang dan terarah dalam ketaatan? Jalan ini jelas, tidak membingungkan, dan mengantarkan kepada keselamatan.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Lalu beliau membuat garis-garis lain di kanan-kiri dan bersabda: “Ini jalan-jalan lain, pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya.” (HR. Musnad Ahmad, dinilai shahih)
Wallahu a’lam.












