PENA ANRE GURUTTA KETUA UMUM PB DDI
Prof. Dr. AG. H. Andi Syamsu Bahri A. Galigo, Lc., M.A
Editor : Muh. Aydi Syam
بِسْمِ اللّٰهِ الرٌَحْمٰنِ الرٌَحِيْمِ
MANIFESTASI AKHLAK: RELEVANSI ADAB ALUMNI DARUD DAKWAH WAL-IRSYAD (DDI) DI ERA MODERN
A. Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep adab alumni Pesantren Darud Dakwah wal-Irsyad (DDI) serta relevansinya dalam menghadapi disrupsi moral di era modern.
Sebagai salah satu institusi pendidikan Islam terbesar di kawasan Timur Indonesia, DDI yang didirikan oleh Anre Gurutta Haji Abdurrahman Ambo Dalle memiliki corak pendidikan yang mengintegrasikan kedalaman syariat dengan falsafah lokal. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi pustaka (library research).
Penelitian ini membedah nilai-nilai utama adab alumni DDI yang meliputi ta’dzim kepada guru, pengabdian tanpa pamrih (ikhlas) dan tawadhu’.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi adab kepesantrenan yang terpadu dengan kearifan lokal Bugis (Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi) mampu membentuk modal sosial (social capital) yang kuat.
Adab tersebut berfungsi sebagai benteng moral sekaligus instrumen pemeliharaan reputasi sosial (social reputation) institusi, di mana alumni berperan aktif sebagai agen moderasi beragama dan perekat harmoni kebangsaan di masyarakat luas.
Kata Kunci: Adab Alumni, Pesantren DDI, Kearifan Lokal, Moderasi Beragama, Reputasi Sosial.
B. Pendahuluan
Pesantren di Indonesia memegang peran ganda, tidak hanya sebagai pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman (tafaqquh fi al-din), tetapi juga sebagai pusat reproduksi nilai-nilai akhlakul-karimah.
Keberhasilan internalisasi nilai di dalam pesantren diuji saat santri telah bertransformasi menjadi alumni dan berinteraksi langsung dengan dinamika kemasyarakatan.
Bagi organisasi dan keluarga besar Darud Dakwah wal-Irsyad (DDI), institusi yang lahir dari rahim kultural Sulawesi Selatan, konsep adab alumni menempati posisi yang sangat strategis.
DDI didirikan oleh ulama kharismatik Anre Gurutta Haji Abdurrahman Ambo Dalle dengan membawa visi dakwah yang santun, moderat (tawasuth), dan kontekstual.
Di era modern, tantangan yang dihadapi alumni tidak lagi sekadar problem buta aksara agama, melainkan gempuran individualisme, pragmatisme, serta polarisasi sosial akibat disrupsi digital.
Fenomena ini menuntut rekonstruksi dan pemahaman mendalam mengenai bagaimana “Adab DDI” diwujudkan oleh para alumni.
Artikel ini mengkaji landasan teologis, integrasi sosiokultural dengan kearifan lokal Bugis, serta kontribusi nyata adab alumni tersebut dalam menjaga modal sosial dan marwah almamater di tengah masyarakat.
C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis.
Pengumpulan data dilakukan melalui metode studi pustaka (library research) dengan menelaah dokumen sejarah DDI, biografi pemikiran AG H. Abdurrahman Ambo Dalle, piagam organisasi DDI, serta literatur pendukung berupa jurnal ilmiah dan buku sosiologi-antropologi masyarakat Bugis.
Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik content analysis (analisis isi), direduksi, dan disajikan secara sistematis guna menjawab rumusan masalah secara objektif.
D. Pembahasan
1. Pilar Teologis dan Filosofis Adab Alumni DDI
Adab dalam epistemologi pendidikan Islam dipandang lebih tinggi daripada teks keilmuan itu sendiri. Alumni DDI dibekali doktrin akhlak yang bersumber pada tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah. Manifestasi adab alumni DDI bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu:
a. Ta’dzim dan Khidmat kepada Gurutta (Guru Kita);
b. Hubungan spiritual antara santri DDI dan gurunya bersifat abadi;
c. Adab alumni yang paling mendasar adalah ketundukan yang ta’dzim terhadap petuah guru, menjaga kehormatannya, serta menyambung sanad do’a.
Sikap ta’dzim ini bersandar pada perintah Allah Swt. dalam QS al-Mujadilah: 11 berikut ini:
{يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ}
Terjemahnya:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan pemilik ilmu di sisi Allah menuntut adanya penghormatan khusus dari para pencari ilmu (alumni) kepada guru yang menjadi wasilah ilmu tersebut.
Penghormatan ini diperkuat oleh hadis Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
{لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ}
Artinya:
“Bukanlah termasuk umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami, tidak mengasihi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak seorang ulama (guru) kami” (HR Ahmad).
Oleh karena itu, alumni DDI meyakini bahwa menjaga adab kepada Gurutta adalah kunci utama mengalirnya keberkahan (barakah) yang membuat ilmu mereka tetap bermanfaat secara sosial meski telah menyelesaikan masa pendidikan formal.
2. Ikhlas dalam Pengabdian
Sesuai dengan akronim namanya, “Darud Dakwah” (Rumah Dakwah) dan “Wal-Irsyad” (Pendidikan), alumni dituntut memiliki etos pengabdian yang tinggi tanpa pamrih duniawi.
Landasan ikhlas ini merujuk pada QS al-Bayyinah: 5 berikut ini:
{وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ}
Terjemahnya:
“Pada hal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya untuk (menjalankan) agama yang lurus.”
Alumni DDI dididik untuk siap menjadi pelita bagi umat, baik melalui peran struktural maupun kultural yang sederhana, seperti mengajar mengaji di pelosok tanpa berorientasi pada imbalan materi.
Keikhlasan ini menjadi mesin penggerak dakwah DDI yang konsisten melintasi zaman.
3. Tawadhu’ (Rendah Hati)
Keluhuran ilmu tidak boleh melahirkan arogansi intelektual atau kesombongan akademik. Alumni DDI ditekankan untuk selalu merendahkan hati sebagaimana tuntunan Allah Swt. dalam QS al-Furqan: 63, yaitu:
{وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا}
Terjemahnya:
“Adapun hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan ‘salam’.”
Sikap tawadhu ini dipertegas dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah Saw. bersabda:
{وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ}
Artinya:
“Tiadalah seseorang bersikap tawadhu (merendahkan hati) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan (derajat)nya” (HR Muslim).
Melalui pilar ini, alumni DDI tidak mudah menghakimi, menyalahkan atau mengafirkan kelompok lain yang berbeda pandangan keagamaan, melainkan merangkul dengan segala kelembutan.
4. Sinergi Tradisi Kepesantrenan dan Kearifan Lokal Bugis
Keberhasilan DDI berakar kuat pada kemampuannya melakukan pribumisasi Islam.
Adab alumni DDI tidak berdiri di ruang hampa, melainkan berdialektika secara harmonis dengan nilai kebudayaan luhur Bugis-Makassar.
Harmonisasi ini merupakan pengejawantahan QS al-Hujurat: 13 yang memerintahkan manusia untuk saling mengenal _(ta’aruf)_ dan berinteraksi secara sosial dengan baik:
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ}
Terjemahnya:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (QS al-Hujurat: 13).
Dalam konteks lokal sosiokultural, ayat ini terinternalisasi dalam tiga falsafah hidup utama masyarakat Bugis, yaitu:
a. Sipakatau (Saling Memanusiakan):
Tercermin dari sikap alumni DDI yang inklusif, menghargai keberadaan manusia tanpa memandang latar belakang kasta, ekonomi, maupun pilihan politik.
b. Sipakainge (Saling Mengingatkan):
Diimplementasikan dalam metode dakwah alumni yang persuasif (bil-hikmah wal mau’idhatul hasanah). Dakwah dilakukan secara dialogis, bukan konfrontatif atau menghakimi.
c. Sipakalebbi (Saling Memuliakan):
Tampak dari sikap loyalitas sosial alumni dalam menjaga harmoni dan tatanan masyarakat, menghormati pranata adat selama tidak bertentangan dengan syariat Islam yang mendasar.
5. Adab Alumni sebagai Pemelihara Reputasi Sosial Almamater
Di era digital, tindakan individu alumni langsung berimplikasi pada citra institusi asal. Adab alumni DDI berfungsi sebagai mekanisme kendali sosial internal (internal social control).
Eksistensi dan reputasi besar DDI hingga saat ini bertahan bukan karena masifnya kapitalisasi iklan, melainkan karena portofolio moral yang ditunjukkan oleh alumni di ruang publik.
Ketika alumni menampilkan pribadi yang jujur, berintegritas, moderat, dan cinta tanah air (NKRI), masyarakat secara otomatis menaruh mosi percaya (trust) yang tinggi terhadap institusi DDI secara berkelanjutan.
E. Kesimpulan
Konsep adab alumni Pesantren DDI merupakan sintesis dinamis antara doktrin spiritual Islam murni dan kearifan sosiokultural lokal.
Pilar ta’dzim, ikhlas, dan tawadhu yang bersinergi dengan falsafah Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi terbukti mampu mencetak figur alumni yang adaptif sekaligus kokoh secara moral.
Di tengah arus modernisasi, manifestasi adab ini krusial tidak hanya untuk membentengi moralitas pribadi alumni, melainkan juga sebagai investasi sosial dalam merawat harmoni bangsa dan menjaga martabat luhur almamater DDI.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Asqalani, Ibnu Hajar. (2014). Fathul Baari: Penjelasan Kitab Shahih Al-Bukhari. Jakarta: Pustaka Azzam.
Azra, Azyumardi. (2012). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium Ketiga. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Darud Dakwah wal-Irsyad (DDI) Pusat. (2022). Khittah Perjuangan dan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga DDI. Makassar.
Mattulada. (1995). Latoa: Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Ujung Pandang: Universitas Hasanuddin.
Pelras, Christian. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris.
Rahman, Abdul. (2015). Biografi Anre Gurutta K.H. Abdurrahman Ambo Dalle: Ulama dan Pendidik Karismatik dari Tanah Bugis. Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam, 12(2).[]
وبالله التوفيق والدعوة والإرشاد
Balang Lompo, 11 Safar 1446 H
26 Juli 2026 M














