Touring Pajero Lovers

0
9

Touring Pajero Lovers: Makassar – Sidrap

Oleh: Suf Kasman

Tanggal 10–11 September 2026. Touring Pajero Lovers kali ini bukan perjalanan sehari pulang-pergi. Ini touring dua hari satu malam: ada perjalanan, silaturahmi, kuliner, menginap, sedekah Subuh, tausiyah, hingga rekreasi.

Pokoknya paketnya lengkap. Kalau masih ada yang bertanya, “Ini touring atau piknik?” Jawabannya: dua-duanya, asal jangan lupa sedekah!

Kamis, 10 September 2026, pukul 10.30 WITA. Halaman Masjid Al Markaz Maros mendadak berubah menjadi kerajaan Pajero.

Akumulasi Pajero berjajar gagah, seolah-olah sedang mengikuti sidang istimewa para bangsawan otomotif. Bedanya, para bangsawan ini tidak membawa tongkat kebesaran, tetapi membawa perlengkapan touring dan semangat berbagi.

Orang yang baru datang bisa salah alamat: ini mau touring, pameran mobil, atau jangan-jangan ada pejabat yang mau dilantik? Ternyata bukan.

Mereka hendak rihlah menuju Bumi Nene Mallomo, Sidrap, dengan misi yang lebih mulia daripada sekadar gagah-gagahan: bersedekah dan berbagi kebahagiaan. Tujuannya adalah Sedekah Subuh di Masjid Besar Raudhatul Jannah, Tanru Tedong, Sidrap.

Nama Tanru Tedong menarik. Di Pinrang ada Ulu Tedong. Wah, berarti urusan tedong alias kerbau dulu memang luar biasa! Saya jadi penasaran: kalau ada daerah Tanru Tedong dan Ulu Tedong, Doccili Tedong di mana? Hehehe…!

Begitu roda Pajero mulai berputar dan radio rig mobile di setiap mobil dinyalakan, perjalanan menuju lumbung padi Sidrap yang biasanya terasa panjang mendadak seperti cuma sejam.

Bagaimana mau terasa lama kalau sepanjang jalan komunikasi udara tidak pernah sepi dari sahut-sahutan om dan tante Pajero Lovers?

Ada laporan lalu lintas, informasi posisi, ada yang sekadar menyapa, bahkan ada yang bakatnya lebih cocok menjadi komika daripada pengemudi.

Om Diono pun aktif memberi laporan: “Di sebelah kanan ada gajah loppo, di sebelah kiri ada kancil. Hati-hati!” Kecepatan dijaga sekitar 70–100 kilometer per jam, dan seluruh iring-iringan pun mengikuti aba-aba.

Radio makin lama makin ramai. Ada yang mengetes kejernihan suara, ada yang menyahut tanpa diminta.

Gayanya sudah mirip penyiar radio Gamasi yang sedang galau mencari pasangan: suara harus jelas, tetapi siapa yang menjawab belum tentu jelas!

Akhirnya, radio rig mobile yang semula untuk komunikasi perjalanan berubah menjadi podcast berjalan. Bedanya, tidak ada host tetap, tidak ada iklan, dan semua merasa punya hak bicara. De’ ga’ sipalabe’!

Om Diono selaku jenderal lapangan alias sutradara touring juga sibuk mengatur formasi. Wajar! Soal arah perjalanan, beliau jagonya. Kampung tujuan adalah kampungnya sendiri.

Jadi, kalau sampai tersesat, ini bukan lagi masalah navigasi. Ini masalah harga diri! Masa pulang ke kampung sendiri harus buka Google Maps? Lebih parah lagi kalau sampai mampir ke pos Satlantas:

“Pak, permisi… kampung saya di mana, ya?”

Bisa-bisa polisi bukan menunjukkan arah, tetapi malah memeriksa kesehatan jiwa sekaligus memeriksa STNK!

Aba-aba pun terus terdengar: “Perhatian semua armada, rapatkan barisan, waspada pengereman mendadak!”

Saya pun berpikir, kalau banyak Pajero saja bisa diatur serapi ini, berarti kuncinya sederhana: jangan terlalu banyak rapat, langsung bergerak!

Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan pemandangan, tetapi perut justru mendapat ujian berat. Roti Maros Sanggalea Batangase lewat, aromanya menyebar.

Dange Pulu’ Bolong menggoda. Jeruk Pangkep ikut merayu. Semangka berjajar seperti sedang kampanye: “Pilih saya! Pilih saya!”

Ini perjalanan atau ujian iman? Baru beberapa kilometer, godaan sudah berlapis-lapis. Kalau semuanya dibeli, yang habis bukan cuma solar, tetapi ruang bagasi!

Namun, di balik pemandangan indah dan godaan kuliner itu, ada pemandangan yang membuat dada ikut sesak.

Di hampir setiap SPBU, antrean truk masih mengular panjang. Para sopir berjam-jam menunggu giliran solar demi menyambung hidup.

Antreannya begitu panjang. Kalau truk bisa mengeluh, mungkin sudah berkata: “Saya ini mau isi solar, bukan mau daftar CPNS!”

Yang membuat saya semakin bertanya-tanya, Pertamini (tempat pengecer BBM milik warga menggunakan mesin pompa) pun terlihat ikut mendapat jatah antrean.

Puluhan pengendara mengular menunggu giliran. Saya pun dalam hati bertanya: “Ada apa dengan negeriku saat ini?”

Pemandangan ini bukan sekadar soal antrean BBM. Di balik kendaraan yang berhenti berlama-lama, ada orang-orang yang tetap harus bergerak: mencari nafkah, mengantar barang, dan menyambung kehidupan.

Kami yang melintas dengan Pajero pun terdiam. Di dalam kabin yang sejuk, kami melihat perjuangan para sopir yang masih mengular menunggu solar. Entah kapan normal kembali. Jangan-jangan tombol “normal”-nya masih dicari.

Pelajarannya sederhana: kenyamanan akan terasa lebih nikmat ketika hati tetap pandai bersyukur dan peduli pada perjuangan orang lain.

Di tengah perjalanan, rombongan singgah sejenak di Masjid Haji Lawe, Kompleks Zam-Zam Center, Kabupaten Barru. Kami menunaikan shalat Zuhur, kemudian makan siang untuk mengisi tenaga.

Setelah itu, rombongan kembali bersiap melanjutkan perjalanan menuju Sidrap. Touring tetap jalan, ibadah jangan ketinggalan!

Setelah urusan jalanan selesai, rombongan pun tiba di Rumah Jabatan Bupati Sidrap. Armada Pajero disambut bagai tamu kenegaraan. Wakil Bupati dan Ketua DPRD Sidrap turut hadir menyambut rombongan.

Pajero Lovers kemudian ikut apel sore bersama para pegawai dan kelompok tani yang akan menerima bantuan mesin pompa air.

Jadi, touring kali ini bukan sekadar jalan-jalan. Ada silaturahmi, ada kepedulian, dan ada manfaat yang ikut mengiringi perjalanan.

Usai acara, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju titik istirahat di Salobukkang, Kecamatan Dua Pitue.

Tiba di Salobukkang, kami langsung dijamu makan malam: 𝘵𝘶𝘯𝘶 bale, bette bale, dan kaju rebbung.

Semuanya terasa nikmat karena perut memang sudah mengirim surat permohonan makan! Kami pun makan sambil duduk bersila karena kursi tidak tersedia.

Setelah makan, ujian kekompakan yang sesungguhnya dimulai. Kami bermalam di tiga rumah panggung tradisional.

Di sinilah kami sadar: Pajero boleh tinggi, rumah boleh panggung, tetapi kalau tidur ramai-ramai, semua kembali sederhana.

Malam itu kami juga dihibur musik elekton alias organ tunggal. Ada peserta yang memang pandai menyanyi, ada pula yang menyumbang lagu dengan nada dan irama yang sepertinya punya jalan sendiri—tidak selalu mau beriringan dengan musiknya.

Tadinya saya sudah siap tidur. Namun, belum sempat terlelap, saya mendadak bangun makkadao uttu’—bukan karena mimpi buruk diganggu setan Sumiati, tetapi karena ada lagu yang sukses menggugah kesadaran sebelum kesadaran itu benar-benar tidur!

Setelah hiburan selesai, semuanya pun beristirahat. Lampu mulai redup, suara percakapan perlahan menghilang, dan rumah panggung Salobukkang memasuki babak berikutnya.

Aroma minyak angin berpadu dengan aneka dengkuran, menciptakan orkestra malam Salobukkang. Ada dengkuran bernada bariton, ada bass purasi tuka’-nonno’si (naik-turun), ada ritme kocak mappattasselemg-selemg.

Bahkan ada suara mirip Gunung Anak Krakatau meletus sampai rasanya pintu rumah mau ikut lari karena mangngereng-ngereng.

Kalau ada juri lomba dengkuran, malam itu mungkin bingung menentukan juara. Semua peserta tampil maksimal!

Judul album malam itu cocoknya: “Dengkuran Salobukkang: Tiga Rumah, Satu Irama.” Tidak perlu studio rekaman. Rumah panggung sudah cukup. Sound system-nya pun alami!

Subuh pun tiba. Inilah misi utama: Sedekah Subuh di Masjid Besar Raudhatul Jannah, Tanru Tedong. Setelah semalam “konser” tanpa tiket, pagi harinya semua kembali berkumpul untuk ibadah.

Usai shalat Subuh, saya yang didaulat Om Diono memberikan tausiyah sempat tersenyum melihat para driver Pajero gagah berubah menjadi dermawan sejati. Yang biasanya sibuk memegang setir, pagi itu sibuk membuka hati dan menyerahkan sedekah.

Masyarakat menerima dengan wajah bahagia. Senyum para om dan tante pagi itu pun terpancar lebar—selebar bemper Pajero mereka. Bedanya, bemper membuat kendaraan terlihat gagah; sedekah membuat hati terasa indah.

Ada rasa haru yang menyelusup. Perjalanan jauh ini berujung pada hal yang begitu indah: datang, berbagi, dan melahirkan senyum di wajah sesama. Kegagahan sejati ternyata bukan pada bodi kendaraan, melainkan pada kelembutan hati pemiliknya.

Puas berbagi kebaikan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Puncak Bila. Saya memilih kembali ke Makassar karena harus menjadi khatib Jumat di Mapolda Sulsel. Mereka menuju kolam, saya menuju mimbar. Mereka siap basah oleh air, saya siap berkeringat mengejar waktu!

Touring boleh usai, tetapi silaturahmi jangan ikut berhenti. Pajero boleh kembali ke garasi, tetapi semangat berbagi harus terus melaju. Perjalanan ini bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi juga tentang menebarkan kebaikan di sepanjang perjalanan.

12 September 2026 (SF)

ddi abrad 1