Anregurutta Haji (AGH) Muhammad Amberi Said merupakan salah satu figur ulama kharismatik yang memiliki peran krusial dalam genealogi intelektual Islam dan institusionalisasi pendidikan di Sulawesi Selatan.
Artikel ini bertujuan untuk menguraikan silsilah keilmuan (sanad) AGH. M. Amberi Said serta kontribusi substantifnya terhadap perkembangan Pondok Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso.
Dengan menggunakan metode historis-biografis dan pendekatan sosiologi pendidikan Islam, studi ini menemukan dua hal utama.
Pertama, jaringan keilmuan AGH. M. Amberi Said terintegrasi kuat pada poros intelektual Haramain melalui jaringan ulama otoritatif di tanah Bugis.
Kedua, analisis sosiologis menunjukkan adanya fusi modal simbiotik antara DDI dan penguasa lokal (Petta Soppeng) yang memperkuat resiliensi institusi.
Kontribusi utama AGH. M. Amberi Said terletak pada keberhasilannya mengawal stabilitas lembaga selama masa transisi krusial (1949–1985), mentransformasi struktur kurikulum tradisional ke bentuk akademik tinggi formal melalui Fakultas Syariah, serta mengamankan regenerasi kepemimpinan ulama.
– Pendahuluan
Dinamika perkembangan pesantren di Sulawesi Selatan tidak dapat dipisahkan dari peran para gurutta (ulama) yang bertindak sebagai penjaga transmisi keilmuan Islam tradisional (traditional Islamic knowledge transmission).
Tradisi keilmuan ini bukan sekadar proses transfer informasi keagamaan, melainkan bentuk pelembagaan otoritas yang mengikat secara spiritual dan kultural.
Salah satu simpul utama dari pergerakan intelektual dan dakwah ini adalah Pondok Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso yang terletak di Kabupaten Barru.
Di balik kokohnya reputasi DDI Mangkoso sebagai salah satu rahim ulama terbesar di Indonesia bagian Timur, nama Anregurutta Haji (AGH) Muhammad Amberi Said (populer dengan gelar kultural Daeng Palallo atau Petta Lallo) berdiri sebagai pilar stabilitas dan modernisasi kelembagaan.
Lahir di Kampung Lapasu pada 23 Mei 1919 dari pasangan M. Said Daeng Patapa dan I Wilo Daeng Macora, AGH. M. Amberi Said tumbuh di era pergeseran lanskap sosial-politik kolonial menuju kemerdekaan.
Banyak studi mengenai DDI cenderung berpusat secara eksklusif pada figur sang pendiri utama, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle.
Namun, secara sosiologis-historis, sebuah institusi pendidikan tidak akan mampu bertahan melintasi badai politik pasca-kemerdekaan tanpa adanya figur jangkar yang mengelola stabilitas internal basis sub-culture pesantren tersebut.
Fokus kajian akademis ini diarahkan pada rekonstruksi jaringan silsilah keilmuan AGH. M. Amberi Said yang membentang dari ulama maritim lokal hingga jejaring transnasional di Mekkah, analisis sosiologis relasi DDI dengan patronase politik lokal, serta dampaknya terhadap institusionalisasi struktural DDI Mangkoso semenjak beliau menerima estafet kepemimpinan pada pertengahan abad ke-20.
– Silsilah Keilmuan dan Jaringan Intelektual (Sanad Ilmu)
Genealogi intelektual AGH. M. Amberi Said memperlihatkan perpaduan epistemologis yang solid antara tradisi halakah bersanad (salafiyah) dengan corak klasikal-struktural modern (madrasi). Silsilah keilmuannya dapat dipetakan ke dalam tiga poros utama yang saling berkelindan:
A. Poros Penjajakan Awal dan Jaringan Halakah Lokal
Pondasi keagamaan dasar AGH. M. Amberi Said dibentuk melalui pengajian non-formal di bawah bimbingan H. Kittab, yang menjabat sebagai Kadhi Soppeng Riaja.
Di bawah asuhan H. Kittab, dasar-dasar ilmu alat (Nahwu dan Saraf) serta fikh dasar mazhab Syafii ditanamkan.
Untuk memperdalam tradisi pengajian kitab kuning tradisional (mangaji tudang), pada tahun 1936 beliau berpindah ke Pulau Salemo, Pangkep, yang kala itu merupakan pusat spiritual maritim terkemuka di Selat Makassar.
Di wilayah pulau ini, beliau berguru langsung kepada ulama kharismatik Anregurutta Puang Walli (KH. Syekh Abdurrahhim) dan Anregurutta Puang Apala.
Pengalaman di Pulau Salemo memperkuat karakter sufistik dan ketelitian membaca teks-teks klasik (turats).
B. Poros Utama Sengkang:
Jaringan AGH. Muhammad As’ad
Titik balik intelektual AGH. M. Amberi Said terjadi pada tahun 1934 ketika ia memasuki Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Sengkang yang diasuh oleh Al-Allamah AGH. Muhammad As’ad al-Bugisi.
Melalui AGH. Muhammad As’ad, sanad keilmuan AGH. M. Amberi Said tersambung langsung secara muttasil (tanpa putus) ke pusat intelektual Islam dunia di Masjidil Haram, Mekkah.
AGH. Muhammad As’ad tercatat lahir dan menuntut ilmu secara intensif di Haramain kepada ulama-ulama besar dunia seperti Syekh Abbas Abd al-Jabbar, Syekh Jamal al-Makki, Syekh Mallawa, dan Syekh Ambo Wellang.
Jalur transmisi keilmuan atas ini menyambungkan pemikiran AGH. M. Amberi Said dengan poros utama jaringan ulama Nusantara di Mekkah pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, termasuk Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syekh Nawawi Al-Bantani.
Imbasnya, corak keilmuan yang diserap bermuara pada teologi Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) dan fikh bermazhab Syafii yang ortodoks namun adaptif terhadap dinamika zaman.
C. Poros Mangkoso: Sintesis Bersama AGH. Abdurrahman Ambo Dalle
Pada akhir tahun 1938, atas permintaan otoritas adat setempat, beliau ditarik kembali ke Mangkoso untuk memperkuat MAI Mangkoso yang baru didirikan dan dipimpin oleh seniornya di Sengkang, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle.
Di Mangkoso, hubungan antara AGH. Ambo Dalle dan AGH. Amberi Said berkembang dari relasi guru-murid menjadi relasi kemitraan strategis (collaborative ulema network). Keberadaan AGH. M. Amberi Said sebagai santri senior sekaligus asisten pengajar utama menjadi tulang punggung operasional harian madrasah.
– Analisis Sosiologis Jaringan Ulama-Umara: Relasi Kuasa DDI dan Petta Soppeng
Hubungan antara institusi cikal bakal DDI Mangkoso dengan H. Andi Muhammad Yusuf Andi Dagong (yang dikenal sebagai Petta Soppeng), selaku Arung/Raja terakhir Soppeng Riaja, merupakan potret sosiologis mengenai aliansi strategis antara ulama (otoritas keagamaan) dan umara (otoritas politik tradisional). Relasi ini dapat dibedah ke dalam tiga dimensi sosiologis utama:
A. Tanggapan atas Krisis Sosial-Keagamaan (Social Crisis Response)
Secara sosiologis, inisiatif Petta Soppeng memanggil AGH. Abdurrahman Ambo Dalle dan menarik pulang AGH. M. Amberi Said didorong oleh kekhawatiran atas kondisi anomi dan polarisasi sosial di wilayahnya.
Lanskap sosiologis Soppeng Riaja kala itu diwarnai oleh maraknya praktik sinkretisme ekstrem di satu sisi, serta mulai munculnya faksi keagamaan kaku yang tidak toleran terhadap adat lokal di sisi lain.
Petta Soppeng menyadari bahwa kohesi sosial masyarakat tidak bisa hanya dijaga dengan instrumen hukum adat swapraja atau represi kolonial Hindia Belanda. Beliau membutuhkan lembaga kultural yang mampu melakukan penetrasi moral secara persuasif.
Kehadiran MAI/DDI Mangkoso didesain sebagai institusi penengah (mediator) yang mengusung paham keagamaan yang moderat (tawasuth) dan akomodatif terhadap kebudayaan Bugis, sehingga sukses meredam potensi konflik sosiologis di akar rumput.
B. Aliansi Modal Simbolik dan Modal Politik (Socio-Political Capital Fusion)
Meminjam konseptualisasi sosiolog Pierre Bourdieu mengenai modal (capital), keberhasilan dan bertahannya DDI Mangkoso merupakan hasil dari fusi (peleburan) dua entitas modal utama:
* Petta Soppeng menyumbangkan modal politik, ekonomi, dan spasial. Beliau memberikan jaminan keamanan politik dari intervensi luar, memobilisasi kepatuhan rakyat untuk belajar, menghibahkan tanah wakaf keluarga kerajaan, dan bahkan menyediakan kediaman resminya (Saoraja) sebagai ruang kelas awal bagi para santri (ana’ pangaji).
* Para Gurutta (AGH. Ambo Dalle dan AGH. M. Amberi Said) membawa modal simbolik dan kultural berupa legitimasi keilmuan keagamaan yang sakral, karisma pribadi, serta jejaring sanad yang diakui secara luas.
Ketika penguasa politik lokal tunduk pada otoritas keilmuan ulama, dan sebaliknya pihak ulama bersedia turun membantu membenahi struktur moralitas sosiologis masyarakat, terjadilah sebuah legitimasi timbal balik yang kokoh (mutual legitimacy).
C. Transformasi Hubungan Patron-Klien Tradisional
Dalam struktur masyarakat Bugis yang feodal, kepatuhan rakyat jelata bersifat paternalistik kepada figur penguasa adat (Patron-Client Relation).
Otoritas penuh Petta Soppeng dimanfaatkan secara taktis untuk menggeser loyalitas buta feodalistik tersebut menjadi loyalitas transformatif terhadap dunia pendidikan Islam.
Rakyat yang semula patuh semata-mata karena takut pada sanksi adat penguasa, pelan-pelan bergeser menjadi patuh karena didorong oleh kesadaran spiritual beragama (religious-driven agency).
Ketika AGH. M. Amberi Said naik memimpin pesantren pada tahun 1949, relasi sosiologis dengan trah bangsawan Soppeng Riaja ini tetap dirawat secara harmonis. Hal ini dilakukan tanpa membuat pesantren kehilangan independensinya dari tarik-menarik kepentingan politik praktis pasca-kemerdekaan (era Orde Lama dan Orde Baru).
Institusi pesantren yang didukung basis kultural eks-kerajaan ini berhasil bertransformasi menjadi organisasi sosial keagamaan modern yang diakui penuh oleh masyarakat sipil (civil society).
– Kontribusi Terhadap Struktur Kelembagaan DDI Mangkoso
Pengaruh ilmiah dan manajerial AGH. M. Amberi Said mewujud nyata dalam kebijakan-kebijakan strategis kelembagaan ketika beliau memimpin DDI Mangkoso selama kurun waktu 1949 hingga 1985:
[Jejaring Ulama Haramain]
(Syekh Abbas al-Jabbar, Syekh Jamal, dll.)
│
[AGH. Muhammad As’ad] (Sengkang)
│
┌─────────────────────┴─────────────────────┐
│ │
[AGH. Abdurrahman Ambo Dalle] [AGH. M. Amberi Said]
(Pendiri DDI Mangkoso) (Pimpinan 1949-1985)
│ │
└─────────────────────┬─────────────────────┘
│
[Pendidikan Tinggi & Modernisasi DDI]
(Fakultas Syariah Islam Addariyah 1967)
A. Stabilitas Manajerial Masa Transisi Politik
Ketika AGH. Ambo Dalle memindahkan pusat konsentrasi organisasi Pengurus Besar DDI ke Parepare demi perluasan jaringan wilayah pada tahun 1950, kepemimpinan penuh kompleks pondok pesantren induk di Mangkoso diserahkan sepenuhnya kepada AGH. M. Amberi Said.
Selama lebih dari 35 tahun, beliau bertindak sebagai pimpinan pondok (director-general) yang menjaga eksistensi dan independensi pesantren dari riak politik lokal maupun nasional.
Beliau berhasil menavigasi DDI Mangkoso agar selamat melewati era pergolakan bersenjata DI/TII di Sulawesi Selatan serta masa transisi politik nasional dari Orde Lama ke Orde Baru.
B. Peletakan Dasar Pendidikan Tinggi Islam (1967)
Gagasan visioner AGH. M. Amberi Said dibuktikan dengan melakukan modernisasi struktural melalui pendirian Fakultas Syariah Universitas Islam Addariyah DDI di Mangkoso pada tahun 1967.
Langkah monumental ini mengubah status sosiologis Mangkoso dari lembaga yang sekadar berbasis madrasah tingkat menengah menjadi pusat kajian tinggi hukum Islam formal (higher education) di tingkat pedesaan. Beliau mengabdi secara total sebagai Dekan Pertama Fakultas Syariah tersebut semenjak hari pendiriannya hingga akhir hayat beliau pada tahun 1985.
C. Kaderisasi dan Keberlanjutan Otoritas Ulama
Berkat rigidnya tradisi pembelajaran kitab kuning bersanad yang dipertahankannya, DDI Mangkoso di bawah asuhan AGH. M. Amberi Said berhasil menelurkan tokoh-tokoh ulama kaliber nasional.
Di antara murid dan sahabat langsung beliau adalah mantan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Ketua Umum MUI Pusat, AGH. Prof. KH. Ali Yafie, serta Ketua Umum MUI Sulawesi Selatan, AGH. Sanusi Baco.
Selain melahirkan ulama eksternal, aspek krusial kepemimpinannya adalah mempersiapkan masa depan DDI Mangkoso melalui strategi rekonstruksi dinasti keilmuan yang matang.
Beliau mempersiapkan putranya sendiri, AGH. Faried Wadjedy, dengan mengirimkannya belajar langsung ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir pada tahun 1971.
Langkah taktis ini menjamin transisi kepemimpinan DDI Mangkoso berjalan mulus tanpa konflik internal pasca-wafatnya AGH. M. Amberi Said pada Juni 1985.
– Kesimpulan
AGH. Muhammad Amberi Said merupakan mata rantai intelektual yang kokoh dalam jaringan ulama Nusantara abad ke-20.
Silsilah keilmuannya menegaskan orisinalitas serta otoritas keagamaan tradisional yang kuat, bersumber dari poros keilmuan Haramain, Sengkang, dan Pulau Salemo.
Secara sosiologis, pertumbuhan lembaga yang dipimpinnya ditopang oleh fusi modal yang harmonis antara institusi keagamaan dan sisa-sisa otoritas politik tradisional Petta Soppeng.
Sumbangan besarnya bagi DDI Mangkoso bukan sekadar merawat eksistensi fisik pesantren peninggalan era awal, melainkan melakukan lompatan akademis yang berani dengan menginisiasi perguruan tinggi Islam di wilayah sub-urban, serta membangun pondasi kaderisasi ulama yang terencana demi masa depan kelangsungan DDI.
– Billahi Taufiq wa Da’wah wal-Irsyad
Referensi
* [1] Pengurus Besar Darud Da’wah wal Irsyad (PB DDI). (2022). Biografi AGH. M. Amberi Said. Diakses dari Situs Resmi PB DDI.
* [2] Said, A. R. A. (2024). Anre Gurutta H. M. Amberi Said: Rekam Jejak Sejarah Bagian I & II. Artikel Sejarah Kepesantrenan PB DDI.
* [3] Ediyani, M. (2024). Testimoni Alumni DDI di Buku 80 Tahun Anre Gurutta Mangkoso. Jurnal Hukum Tata Negara FSH UIN Alauddin Makassar.
* [4] Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Kabupaten Barru. (2025). Laporan Pelaksanaan Haul ke-40 AGH. Muhammad Amberi Said di Pondok Pesantren DDI Mangkoso. Portal Resmi Kabupaten Barru.
* [5] Pimpinan Pondok Pesantren DDI Mangkoso. (2025). Risalah Jaringan Sanad dan Kajian Kitab Pesantren Mangkoso. Barru: Arsip Internal Kepesantrenan.
* [6] PB DDI. (2023). AGH. As’ad, Petta Soppeng dan AGH. Ambo Dalle. Diakses dari Situs Resmi PB DDI.
* [7] PB DDI. (2023). Cikal Bakal di Mangkoso. Diakses dari Situs Resmi PB DDI.
* [8] Darmawati. (2017). Pondok Pesantren DDI Mangkoso di Kabupaten Barru (Studi Historis dan Perkembangan Pendidikan). Makassar: Repositori UIN Alauddin Makassar.
*Ahmad Rasyid A. Said (Sekretaris Pondok Pesantren DDI Mangkoso)















