AG. Dr. H. Mas’ud Arib Mustary, Lc., MA.

0
8

Kesan Tentang Ustaz H. Mas’ud Arib Mustary
Dari Dekat dan Dari Jauh

Gurutta Dr. H. Mas’ud Arib Mustary, Lc., M.A. adalah potret ulama pejuang modern yang mendedikasikan hidupnya untuk menyelaraskan nilai-mana [tradisi keislaman ahlussunnah wal jamaah] dengan dinamika birokrasi dan umat modern.

Sebagai kader murni organisasi besar Darud Dawah Wal Irsyad yang berpusat di Indonesia Timur, perjalanan dakwahnya membentang luas dari pengajian akar rumput hingga pelayanan diplomasi umat di dalam dan luar negeri.

Berikut riwayat hidup, kiprah, dan karakteristik perjuangan dakwah beliau sepanjang yang saya ketahui:

1. Latar Belakang Pendidikan dan Fondasi Keilmuan

Kader Santri DDI: Sejak usia muda, beliau tumbuh di lingkungan pendidikan Darud Dawah wal Irsyad (DDI), sebuah organisasi dakwah dan pendidikan Islam yang didirikan oleh ulama kharismatik Sulawesi Selatan, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle di Sulawesi Selatan.

Studi Internasional di Al-Azhar Kairo: melanjutkan misi menuntut ilmu ke luar negeri, beliau meraih gelar Licentiate (Lc.) dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Di Kairo, beliau menjadi bagian dari simpul intelektual santri Sulawesi Selatan dan menjalin persahabatan yang kuat dengan [Puang Rusydi Ambo Dalle] (putra pendiri DDI).

Pengalaman internasional ini membentuk corak dakwahnya yang moderat (wasathiyah) sekaligus mendalam.

Pendalaman Ilmu Al-Qur’an: Setelah kembali ke tanah air, beliau melanjutkan studi magister (M.A.).

Salah satunya menamatkan pendidikan di Program Pascasarjana Institut Agama Islam Al-Aqidah Jakarta untuk memperdalam pendidikan pada program studi politik Islam.

Program studi atau jurusan pendidikan lanjutan yang ditempuhnya di perguruan tinggi beririsan dengan lingkup dan substansi tugasnya pada Kementerian Agama RI.

Tugas mengelola urusan penyelenggaraan ibadah haji sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1999 waktu itu mengedepankan tiga prinsip yang digariskan dalam peraturan perundang-undangan haji yaitu pelayanan, pembinaan dan perlindungan, terhadap jemaah haji.

Masalah tersebut memiliki kaitan dengan erat dengan politik hukum dan kebijakan publik dalam konteks kenegaraan dan pemerintahan.

2. Jejak Perjuangan di Bidang Dakwah dan Kelembagaan

Eksistensi Pengurus Besar (PB) DDI: Sebagai figur ulama bergelar Anre Gurutta (istilah kehormatan bagi ulama besar di Sulawesi), beliau konsisten mengawal kepengurusan PB DDI.

Perjuangannya difokuskan pada penguatan sistem madrasah, pesantren, dan pembinaan da’i agar DDI tetap menjadi benteng moral umat Islam di Indonesia Timur dan wilayah lainnya.

Dakwah Berbasis Pelayanan Umat, waktu itu di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Kementerian Agama RI.

Beberapa : Bagi AG. Dr H. Mas’ud Arib, dakwah tidak hanya di atas mimbar, tetapi juga dalam bentuk kepedulian nyata (khidmah).

Saat beberapa kali bertugas di Saudi Arabia dipercaya menjadi Wakil Kepala Daerah Kerja (Daker) Jeddah pada Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), beliau memanfaatkan posisinya sebagai ruang dakwah praktis:

Sebelum bekerja di Kementerian Agama RI mulai 1996, dia pernah dua kali mendampingi Anre Gurutta Abdurrahman Ambo Dalla beliau menunaikan ibadah haji tahun 1983 dan 1991di Tanah Suci, waktu itu Masud masih sebagai mahasiswa tenaga musim [temus] pada Konsulate General bidang Haji KBRI Jeddah.

Yang kedua waktu bekerja dan bertugas di salah satu Biro Travel Penyelenggaraan Haji dan Umrah di Jakarta adalah PT. Tiga Utama.

Ketika itu melayani perjalanan ibadah haji Presiden Soeharto dan keluarga tahun 1991, Masud Arib Mustary turut sebagai pendamping rombongan Pak Harto tersebut . Tentu ini pengalaman berharga baginya dan sekaligus pengalaman langka.

Edukasi Syariat: Aktif memberikan bimbingan ibadah [dan imbauan ihram] agar pelaksanaan haji jamaah Indonesia sah secara fikih sesampainya di bandara.

Advokasi Kemanusiaan: Berjuang melindungi [hak jemaah yang terlantar, dideportasi] atau mengalami masalah imigrasi, serta memastikan pengurusan jenazah jemaah yang wafat dilakukan sesuai kehormatan syariat Islam.

Dakwah Intelektual dan Pengajian Majelis: Beliau aktif mengisi berbagai forum seminar ilmiah keagamaan, pengajian kitab, khatib Jumat, dan kuliah tujuh menit (kultum) di masjid-masjid perkotaan maupun lingkup instansi.

Pendekatan dakwahnya dikenal sejuk, logis, terstruktur, namun tetap bersandar kuat pada khazanah kitab kuning peninggalan ulama salaf.

3. Karakteristik Perjuangan Dakwah

Nasionalis-Religius: Membela nilai-nilai keislaman sekaligus menekankan pentingnya ketaatan terhadap aturan bernegara untuk menjaga kedamaian bangsa.

Dakwah Struktural dan Kultural: Seimbang dalam menggerakkan organisasi (struktural) dan menyentuh hati jamaah melalui bimbingan langsung (kultural).

Sebelum berangkat ke Mesir, berbekal tugas tugas mengajar di DDI di dua tempat yaitu DDI Desa Dongko Sulteng dan DDI Takkalasi Kab. Barru Sulawesi selatan.

Pengalaman tersebut menjadi terbiasa di tengah. masyarakat dalam hal berdakwah. Demikian pula sebelum balik ke tanah air sempat ada Pengalaman di negeri Belanda beberapa bulan mengajar membimbing pelajaran keislaman pada masyarakat Suriname di negeri Belanda tepatnya kota Den Haag.

Sampai saat ini dia aktif hadir mewakili undangan DDI dalam berbagai acara di Jakarta, atas undangan Kementerian dan mewakili DDI dalam rapat-rapat Majelis Ulama Indonesia (MUI Pusat).

Pada tahun 2025/2026 mendampingi “Mab’uts’ Tenaga pengajar Mesir dari Universitas Al-Azhar yang bertugas pada Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad di Sulawesi Selatan dalam koordinasi dengan Kementerian Agama RI.

Saya [penulis] mengamati dari dekat maupun dari jauh, dari dekat karena pernah sama-sama di Pesantren DDI Ujung Lare, Pare-Pare yang dipimpin langsung oleh Anre Gurutta Ambo Dalle dan pernah sama-sama di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.

Saya sebut dari jauh karena dia sekarang tinggal di Jakarta, sedangkan saya kadang-kadang saja ke Jakarta, lebih banyak di Makassar.

H. Masud sendiri pernah mengatakan bahwa dia merasa dibimbing oleh penulis selama bertemu di pesantren dan di luar negeri. Filosofi hidup yang kami pegang di mana pun adalah bermanfaat bagi dakwah dan umat.

Menurut penuturan Gurutta H.Masud kepada penulis bahwa Anre Gurutta Abdurrahman Ambo Dalle yang mengarahkan agar Masud tinggal di Jakarta saja, ungkap Anre Gurutta, Sewaktu-waktu ada urusan saya di sehingga Masud bisa mendampingi.

Mengenai pekerjaan di Jakarta Anre Gurutta sendiri yang membantu menghubungkan dengan Menteri Agama Dr. H. Tarmizi Taher yang beliau kenal baik.

Anre Gurutta juga merestui andaikata Masud bertemu jodoh di Jakarta dan beliau bersedia meminangkannya.

Setelah Masud ketemu jodoh yaitu putri bungsu Brigjen TNI (Purn) K.H.S. Prodjokusumo, waktu itu Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah, maka kabar baik itu disampaikan kepada Anre Gurutta Ambo Dalle, dan teknis selanjutnya diwakilkan kepada Anre Gurutta K.H. Ali Yafie mendampingi kedua orangtuanya Masud yang datang ke Jakarta dalam acara lamaran dan pernikahan di Jakarta.

Sekitar 10 hari kemudian dilaksanakan acara mapparola (Jawa: ngunduh mantu) di lingkungan Pesantren DDI, Takkalasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, di mana Anre Gurutta Ambo Dalle dan kedua orangtua Masud, yakni A.G.H. Muhammad Arib H. Mustary dan A.G. Hj. Sitti Zaenab H. Mas’ud, sedang acara pernikahan di Jakarta dihadiri oleh keluarga dan famili yang ada di Jakarta serta sahabat alumni Mesir termasuk karyawan PT. Tiga Utama Jakarta.

4. Mas’ud Arib Mustary dan Kontribusinya di DDI

Perkembangan organisasi sosial keagamaan di Indonesia secara historis selalu ditopang oleh poros ulama kharismatik.

Di Sulawesi Selatan, Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) yang berakar dari institusi Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Mangkoso bentukan AGH. Abdurrahman Ambo Dalle, bertransformasi menjadi poros kekuatan dakwah yang masif.

Namun, tantangan terbesar bagi organisasi berbasis massa keagamaan pasca-wafatnya figur pendiri utama adalah menjaga kesinambungan (continuity) ajaran sekaligus melakukan adaptasi konseptual terhadap dinamika zaman.

Di sinilah signifikansi peran figur Mas’ud Arib Mustary sebagai generasi ulama yang mengecap pendidikan formal di Universitas Al-Azhar, Mesir, beliau membawa corak pemikiran yang integratif.

Artikel akademik ini bertujuan untuk menelaah secara mendalam profil biografi Mas’ud serta mengurai secara sistematis apa saja kontribusi konkret, baik secara struktural, intelektual, maupun kultural yang telah didedikasikan bagi kemajuan jam’iyah DDI.

a. Profil Biografi dan Sanad Intelektual Transnasional

Mas’ud Arib Mustary adalah seorang ulama, cendekiawan, dan otoritas fikih kontemporer. Fondasi keilmuan agamanya diperkuat melalui jalur pendidikan tinggi internasional di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Pencapaian gelar Licence (Lc.) di Mesir menempatkannya pada posisi strategis sebagai ulama yang menguasai tradisi literatur Arab klasik (kitab turats) sekaligus metodologi penalaran hukum Islam modern.

Pendidikan transnasional di Kairo tidak sekadar memberikan modal intelektual, tetapi juga memperkuat jaringan sosial keagamaan.

Selama menempuh studi di Mesir, Gurutta Mas’ud Arib (putra AGH. Muhamad Arib Mustary dan AG Hj. Sitti Zaenab Mas’ud) menetap di Asrama Madinatul Buuts Al-Islamiyah milik Al-Azhar.

Di tempat inilah ia membangun kedekatan kultural yang intim dengan sesama pelajar Nusantara, termasuk dengan H. Muhammad Ali Rusydy Ambo Dalle (putra pertama dari pendiri DDI, Gurutta Ambo Dalle).

Hubungan kekerabatan spiritual dan akademis inilah yang memantapkan komitmen pengabdian beliau ke dalam rahim organisasi DDI sekembalinya ke tanah air.

b. Kontribusi Struktural: Stabilisasi Otoritas Dewan Mustasyar PB DDI

Secara kelembagaan, kontribusi signifikan Dr. AGH. Mas’ud Arib Mustary, Lc., MA tercatat dalam struktur formal tertinggi Pengurus Besar Darud Da’wah wal Irsyad (PB DDI).

Berdasarkan Surat Keputusan hasil Muktamar DDI XXII yang diselenggarakan di Samarinda, Kalimantan Timur, nama beliau ditempatkan pada posisi strategis:

Anggota Bidang Istisyari (Pertimbangan Kebijakan): Berfungsi mengawal keputusan-keputusan strategis organisasi agar tetap selaras dengan garis khitah perjuangan awal DDI.

Dewan Mustasyar PB DDI: Bertindak sebagai penasihat spiritual dan pemegang otoritas fatwa keagamaan organisasi.

Kehadiran beliau di dalam jajaran Mustasyar memberikan legitimasi kuat bagi PB DDI dalam menetapkan arah gerakan dakwah, pendidikan madrasah, dan pengelolaan pondok pesantren di bawah naungan DDI di tingkat nasional.

c. Kontribusi Intelektual: Penulisan Literatur Ta’lim Berbasis Hadits Nabi

Sumbangan terbesar AGH. Mas’ud Arib Mustary yang menyentuh akar rumput (grassroots) warga DDI secara kontinu berada pada jalur edukasi literer kontemporer.

Beliau secara konsisten memproduksi karya tulis keagamaan berbentuk naskah Ta’lim dan syarah hadits pendek yang dipublikasikan secara periodik melalui Official Portal DDI.

Beberapa corak pemikiran tekstual beliau yang terekam antara lain:

Edukasi Karakter Teologis (Manhaj Akhlak): Dalam tulisannya mengenai “Diantara Karakter Mukmin”, beliau mensyarah hadits riwayat As-Syaekhan (Bukhari-Muslim) untuk menekankan pentingnya menghormati tamu, menjaga silaturahmi, serta adab berbicara bagi stabilitas sosial.

Kajian Fikih Kontemporer dan Amal Sholeh: Melalui naskah ilmiah populer seperti “Ta’lim; Fii Sabilillah”, beliau mengontekstualisasikan hadits riwayat Imam At-Thabrani mengenai makna jihad ekonomi; bahwa bekerja demi menafkahi anak kecil dan orang tua adalah bentuk perjuangan di jalan Allah SWT.

Penguatan Doktrin Keimanan: Tulisan beliau bertajuk “Lima Bagian Iman” (mensyarah HR. Al-Bazzar) merumuskan lima pilar kepasrahan batin (tawakal, rida, berserah diri, menyerahkan urusan, dan sabar) sebagai manifestasi keimanan yang kokoh di tengah modernitas.

Metode penyampaian yang ringkas, disertai rujukan kitab muktabar (seperti Nashaihul ‘Ibad karya Ibnu Hajar al-Asqalani atau Irsyadul ‘Ibad karya Syekh Zainuddin al-Malibari), membuktikan komitmen beliau dalam menjaga tradisi literasi pesantren tradisional DDI agar tetap mudah diakses masyarakat urban modern.

D. Kontribusi Kultural: Merawat Memori Kolektif Historis Organisasi

Selain aspek teks dan struktur, AGH. Mas’ud Arib Mustary memiliki andil besar dalam merawat aspek historis-kultural (historical memory) internal organisasi.

Melalui tulisan memoarnya yang berjudul “Kenangan Bersama Puang Rusydi Ambo Dalle”, beliau mendokumentasikan nilai kesederhanaan (tampil bersahaja) dari para keturunan pendiri DDI.

Dokumentasi naratif dari pelaku sejarah langsung seperti Gurutta Mas’ud menjadi sumber primer krusial bagi generasi muda DDI (santri modern) untuk memahami nilai-nilai kesantunan, komitmen perjuangan, dan adab persaudaraan yang menjadi ruh utama pergerakan DDI sejak era pra-kemerdekaan.

Berdasarkan kajian analitis di atas, dapat disimpulkan bahwa Dr Mas’ud Arib Mustary, Lc., M.A. bukan sekadar pelengkap struktural dalam organisasi Darud Da’wah wal Irsyad (DDI), melainkan motor penggerak keilmuan, penjaga moralitas, serta penyambung sanad sejarah.

Karakteristik keulamaan beliau yang transnasionalmemadukan tradisi kuat Al-Azhar Cairo dengan kultural lokal DDImemberikan sumbangan intelektual nyata melalui kodifikasi ta’lim hadits aplikatif bagi umat.

Peran strategisnya di jajaran Dewan Mustasyar PB DDI berhasil menjaga keaslian doktrin ormas di tengah pergulatan zaman.

Daftar Pustaka

Pengurus Besar Darud Da’wah wal Irsyad. (2022). Surat Keputusan (SK) Susunan Pengurus Besar DDI Periode 2022-2027, Hasil Muktamar XXII Samarinda.

Mustary, Mas’ud A. (2026). Kenangan Bersama Puang Rusydi Ambo Dalle. Publikasi Sejarah Kebudayaan Islam, PB DDI.

Mustary, Mas’ud A. (2024-2026). Kumpulan Manuskrip Ta’lim Hadits: Diantara Karakter Mukmin, Lima Bagian Iman, & Fii Sabilillah. Dokumen Digital Keagamaan PB DDI Portal Resmi.

Penuturan yang bersangkutan.

A.G.H. Prof. Dr. H.A Syamsul Bahri, AG, Lc, MA.

Ketua Umum PB Darud Dawah Wal Irsyad

ddi abrad 1