Corak Pemikiran AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

0
18

Studi Analisis Pemikiran Syamsul Bahri A. Galigo

Artikel ini mengkaji pemikiran Islam multidimensional AGH Prof. Dr. Syamsul Bahri A. Galigo, Lc., MA. sebagai salah satu tokoh ulama intelek kontemporer Nusantara.

Sebagai Ketua Umum PB Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI), corak pemikiran beliau merefleksikan moderasi Islam (wasathiyah) yang kokoh dalam benteng Ahlussunah wal Jamaah.

Menggunakan pendekatan studi pustaka dan analisis konten terhadap karya-karya utamanya, artikel ini membedah integrasi pemikiran beliau dalam aspek Aqidah, Fiqhi, Tasawuf, kiprah dakwah regional di Asia Tenggara, serta kontribusinya pada diskursus Pendidikan Islam.

Temuan studi menunjukkan bahwa artikulasi pemikiran beliau berhasil mempertemukan tradisi teks klasik (turats) dengan tuntutan rasionalitas modernitas global secara harmonis.

– Pendahuluan

Dinamika pemikiran Islam di Nusantara pada abad ke-20 dan ke-21 tidak dapat dilepaskan dari peran ulama-akademisi yang mampu menjembatani tradisi keilmuan pesantren tradisional dengan tuntutan metodologis dunia akademik modern.

Salah satu figur sentral yang memiliki reputasi regional di Asia Tenggara adalah Prof. Dr. Syamsul Bahri A. Galigo, Lc., MA. (dikenal secara kultural sebagai Anregurutta/AGH Syamsul Bahri).

Dilahirkan di Sulawesi Selatan dan tumbuh dalam ekosistem sosioreligius Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI) yang didirikan oleh AGH Abdurrahman Ambo Dalle, Syamsul Bahri Galigo berhasil memperluas lokus dakwah dan akademiknya hingga ke Malaysia dan Brunei Darussalam.

Melalui posisi-posisi strategis yang diembannya, seperti Guru Besar di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) dan Direktur Pengkajian Ahlu Sunnah wal Jamaah di KUPU SB Brunei Darussalam, ia merumuskan gagasan keislaman yang komprehensif.

Artikel ini bertujuan memetakan secara sitematis pemikiran beliau dalam ranah teologi (aqidah), hukum Islam (fiqhi), mistisisme (tasawuf), kiprah dakwah regional, serta epistemologi pendidikan Islam kontemporer.

A. Pemikiran Aqidah: Manhaj Wasathiyah dan Benteng Ahlu Sunnah wal Jamaah

Pemikiran teologis Syamsul Bahri Galigo berakar kuat pada tradisi teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah yang menjadi pilar fungsional manhaj Ahlussunah wal Jamaah.

Namun, karakteristik utama pemikirannya tidak bersifat rigid, melainkan akomodatif dan integratif antara pendekatan Salaf dan Khalaf.

Dalam karyanya *Usul al-‘Aqidah fi Daw’ Manhaj Ahli Sunnah*, ia menegaskan bahwa penegakan aqidah Islam harus mampu menjawab tantangan sekularisme, liberalisme, dan ateisme modern.

Teologi tidak boleh sekadar menjadi dialektika teoretis (*ilmu kalam*) yang steril dari realitas umat Islam.

Oleh karena itu, ia menawarkan rekonseptualisasi tauhid yang operasional untuk memperkuat basis mental spiritual umat di era globalisasi.

Di sisi lain, respons beliau terhadap distorsi aqidah sangat tegas. Melalui buku *Al-Harakah al-Batiniyyah fi Mizan al-Islam*, ia mengkritik tajam kelompok-kelompok esoteris-ekstrem (kebatinan) yang berupaya memisahkan aspek hakikat (batin) dari syariat lahiriah.

Baginya, orisinalitas aqidah Islam terikat mutlak pada keselarasan antara keyakinan hati dan kepatuhan syariat.

B. Pemikiran Fiqhi: Dinamika Ijtihad Kontemporer dan Adab al-Ikhtilaf

Dalam domain hukum Islam (fiqhi), Syamsul Bahri Galigo menolak pandangan tentang stagnasi hukum atau tertutupnya pintu ijtihad.

Pemikirannya yang tertuang dalam *Al-Ijtihaad fi al-Fikr al-Islamiyy* berorientasi pada fiqih kontemporer yang dinamis dan solutif.

Beliau menekankan perlunya optimalisasi metode *ijtihad insya’i* (ijtihad baru terhadap persoalan kontemporer) dan *ijtihad intika’i* (memilih pendapat terkuat dari khazanah mazhab klasik) dalam merespons isu-isu mendesak seperti ekonomi syariah, bioetika medis, dan tata kelola sosial-politik modern.

Meskipun mendorong adanya pembaruan hukum, pemikiran fiqhi beliau tetap terikat secara metodologis pada metodologi ushul fiqih yang muktabar (diakui).

Beliau mengedepankan prinsip kemaslahatan umum (*maslahah mursalah*) dan tujuan universal syariat (*maqasid al-syariah*).

Lebih lanjut, menyikapi polarisasi dan fragmentasi umat akibat perbedaan pandangan hukum, ia mengintrodusir konsep kode etik perbedaan pendapat melalui buku *Muhadarat fi Adab al-Ikhtilaf*.

Beliau menyatakan bahwa perbedaan dalam aspek *furu’iyah* (cabang hukum) adalah keniscayaan sejarah dan rahmat bagi umat manusia.

Sikap ekstrem yang berujung pada klaim bid’ah atau kafir (*takfir*) antar-sesama Muslim dinilai sebagai indikasi kedangkalan pemahaman ushul fiqih dan hilangnya adab islami.

C. Pemikiran Tasawuf: Rekonsiliasi Sufisme dan Syariat (Tasawuf Akhlaqi)

Kecenderungan mistisisme Syamsul Bahri Galigo beraliran Tasawuf Sunni (Tasawuf Akhlaqi) yang dipelopori oleh Imam Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi.

Pemikirannya termaktub dalam buku *Kunci Memahami Ilmu Tasawuf* dan *Pengenalan Ilmu Tasawuf*, yang secara eksplisit memosisikan tasawuf sebagai instrumen pembersihan jiwa (*tazkiyatun nafs*) demi pencapaian akhlak mulia, bukan media eskapisme (pelarian) dari realitas duniawi.

Salah satu kontribusi akademis terbesarnya dalam kajian tasawuf Nusantara adalah penelitian mendalam terhadap manuskrip dan ajaran Syekh Yusuf Al-Makassari.

Melalui karya *Pemikiran Tasawuf Syaikh Abu Mahasin Yusuf al-Taj* dan *Jalan Menuju Allah: Bingkisan Syaikh Yusuf al-Taj al-Khalwatiy di Ceylon*, Syamsul Bahri mengontekstualisasikan ajaran tarekat Khalwatiyah.

Ia membuktikan bahwa konsep *suluk* (perjalanan spiritual) Syekh Yusuf tidak melahirkan kepasifan, melainkan menjadi basis teologis-ideologis bagi gerakan perlawanan bersenjata melawan kolonialisme dan penegakan keadilan sosial.

Tasawuf, dalam perspektif Andi Galigo, harus berimplikasi pada kesalehan sosial.

D. Kiprah Dakwah Regional: Harmonisasi Regulasi dan Fatwa di Asia Tenggara

Kiprah dakwah lintas batas (transnasional) Syamsul Bahri Galigo di Malaysia dan Brunei Darussalam memosisikannya sebagai tokoh perekat intelektual serumpun Melayu-Nusantara.

a) Fase Malaysia (1992–2011):

Selama mengabdi di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), beliau terlibat aktif sebagai tim pakar orisinalitas aqidah bentukan Pemerintah Kerajaan Malaysia.

Peran strategisnya mencakup perumusan standardisasi penanganan ajaran sesat (*deviationist movements*) dan penguatan institusi fatwa negeri.

b) Fase Brunei Darussalam:

Sebagai Direktur Pengkajian Ahlu Sunnah wal Jamaah di KUPU SB, beliau merancang cetak biru pertahanan ideologis masyarakat Brunei dari pengaruh pemikiran ekstrem kanan (radikalisme/terorisme) dan ekstrem kiri (liberalisme).

Gagasan ini dirangkum secara taktis dalam buku *Anjakan Paradigma Dakwah Dalam Menangani Pelampau*, yang menawarkan transformasi metodologi dakwah dari pendekatan konfrontatif menjadi pendekatan persuasif, edukatif, dan integratif.

E. Kontribusi Pemikiran Pendidikan Islam: Epistemologi Integrasi DDI

Sebagai nakhoda utama PB Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI), Syamsul Bahri Galigo memformulasikan arah baru bagi institusi pendidikan Islam (madrasah, sekolah dan pondok pesantren) di bawah naungan DDI.

Epistemologi pendidikan beliau bersandar pada tesis pentingnya integrasi ilmu (*wahdatul ulum*).

Dalam studinya *Pemikiran Tarbiyah Menurut Imam Ghazali* dan aplikasinya dalam *Integrasi Agama & Kaunseling*, ia mengkritik tajam dikotomi sekuler yang memisahkan ilmu agama (*ilmu fardhu ain*) dan ilmu umum (*ilmu fardhu kifayah*).

Pesantren DDI didorong untuk tidak sekadar memproduksi santri yang fasih membaca kitab kuning (*turats*), melainkan juga melahirkan generasi yang menguasai sains dan teknologi serta tanggap terhadap krisis sosial (seperti degradasi moral dan penyalahgunaan narkotika).

Konsep pendidikan anak yang digagasnya dalam *Pendidikan Kanak-kanak dalam Islam* menekankan bahwa internalisasi karakter (akhlak) harus mendahului transfer pengetahuan kognitif.

– Kesimpulan

Prof. Dr. Andi Syamsul Bahri A. Galigo, Lc., MA. berhasil menampilkan wajah Islam Nusantara yang moderat, saintifik, namun tetap ortodoks dalam koridor Ahlussunah wal Jamaah.

Pemikiran aqidahnya menjadi benteng ideologis, pemikiran fiqhi-nya menawarkan keluwesan hukum yang dinamis, dan pemikiran tasawufnya merekatkan dimensi spiritualitas dengan aktivitas sosial-politik.

Ditopang oleh rekam jejak dakwah regional dan reformasi sistem pendidikan di DDI, kontribusi intelektual beliau menjadi rujukan krusial bagi pemetaan masa depan peradaban Islam di kawasan Asia Tenggara.

– Billahi Taufiq wa Da’wah wal-Irsyad

Bibliografi Ilmiah:

* Galigo, A. S. B. A. (2000). *Usul al-‘Aqidah fi Daw’ Manhaj Ahli Sunnah*. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.

* Galigo, A. S. B. A. (2003). *Al-Harakah al-Batiniyyah fi Mizan al-Islam*. Nilai: Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) Press.

* Galigo, A. S. B. A. (2005). *Al-Ijtihaad fi al-Fikr al-Islamiyy: Al-Waqi’ wa al-Afaq*. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

* Galigo, A. S. B. A. (2008). *Muhadarat fi Adab al-Ikhtilaf*. Selangor: Penerbit UKM.

* Galigo, A. S. B. A. (2011). *Pemikiran Tasawuf Syaikh Abu Mahasin Yusuf al-Taj al-Makassariy*. Makassar: ddi Press.

* Galigo, A. S. B. A. (2014). *Jalan Menuju Allah: Bingkisan Syaikh Yusuf al-Taj al-Khalwatiy di Ceylon*. Bandar Seri Begawan: KUPU SB Press.

* Galigo, A. S. B. A. (2016). *Anjakan Paradigma Dakwah Dalam Menangani Pelampau*. Bandar Seri Begawan: Pusat Pengkajian ASWAJA KUPU SB.

* Galigo, A. S. B. A. (2018). *Pemikiran Tarbiyah Menurut Imam Ghazali dan Aplikasinya dalam Institusi Pendidikan Modern*. Makassar: Darud Da’wah wal-Irsyad Publications.

 

ddi abrad 1