Sumpah Pemuda: Dulu Angkat Senjata, Sekarang Angkat Handphone
Oleh: Suf Kasman
PADA 28 Oktober 1928, para pendahulu kita berikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Tanpa kuota data, tanpa Wi-Fi gratisan di warkop, tanpa tutorial YouTube. Yang mereka cari bukan sinyal 4G, tapi sinyal persatuan bangsa.
Kini, 28 Oktober 2026, medannya sudah berganti. Kalau dulu mereka berteriak “Merdeka!” di ujung bayonet, sekarang banyak yang berteriak, “Jangan berisik, lagi main game!”
Dulu mengangkat bambu runcing melawan penjajah, sekarang mengangkat tripod HP mengejar konten. Sama-sama mengangkat, beda tujuan.
Jangan buru-buru mengecap generasi hari ini sebagai kaum rebahan manja. Dalam urusan teknologi, kemampuan mereka sudah naik kelas. Dari kamar kos berukuran 3 x 4 meter, mereka bisa mengedit video, membuat desain menggunakan Canva, mengoperasikan aplikasi, memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), hingga merintis bisnis tanpa menyewa toko.
Karyanya bisa mendunia tanpa membeli tiket pesawat. Kalau pemuda 1928 menggerakkan rapat rahasia, pemuda 2026 bisa memengaruhi pasar digital cuma dengan jempol.
Soal teknologi, jangan ditanya. Pemuda 1928, kalau membutuhkan informasi, harus mencari bahan bacaan hingga berdebu. Pemuda sekarang? Buka Mbah Google.
Pemuda dulu kalau bingung bertanya kepada tetangga, pemuda sekarang bertanya kepada AI. Bedanya, pemuda dulu bisa mendapat kopi maccandu dari tetangga. Kalau sekarang, bertanya kepada AI bisa menghasilkan jawaban panjang kali lebar, tetapi tetap harus membuat kopinya sendiri.
Kemampuan multitugas pemuda sekarang bahkan kadang terasa di luar nalar. Mereka bisa kuliah online sambil mendengarkan lagu galau, membalas chat grup WA, dan menonton siaran langsung pertandingan bola.
Bahkan, mereka tetap bisa manggut-manggut khidmat saat dinasihati orang tua. Aneka pelajaran masuk? Ah, itu misteri ilahi! Nasihat orang tua sering bernasib sama dengan story WA yang di-skip: lewat begitu saja tanpa bekas!
Nah, ini yang perlu direnungkan, terutama di kampus: budaya TITIP ABSEN.
Saat dosen memeriksa daftar hadir, yang hadir lebih dari setengah kelas. Hanya segelintir mahasiswa yang tidak tampak, tetapi tiba-tiba muncul secara gaib lewat WA: “Bro, titip absen, ya! Saya sakit!” Labellê-bellê!
Padahal, semalam statusnya masih online, bermain game sampai pukul tiga pagi. Matanya bengkak macella’ mabbara (merah), bukan karena menangis saat bertobat, tapi karena radiasi layar.
Begadangnya seperti jadwal dinas—tepat waktu. Disuruh tahajud berat, tapi nge-game sampai subuh baterainya full 100%, seperti baru dapat subsidi listrik dari pusat.
Soal fisik, para pemuda zaman perjuangan rela berjalan kaki menempuh perjalanan jauh demi menghadiri tudang sipulung penting. Pemuda sekarang? Jalan 400 meter ke minimarket untuk membeli es teh jumbo saja harus menyalakan motor matic-nya. Mapêlla!
Bangun tidur belum cuci muka, sudah cek story. Belum sarapan, sudah hitung like. Sekali HP hilang dari genggaman, paniknya seperti negara kehilangan cadangan devisa.
Seisi rumah dibongkar — kursi digeser, kasur dibongkang, laci ditarik paksa hingga keluar dari relnya. Status: darurat nasional. Tapi giliran disuruh ibu sapu halaman, jawabnya enteng, “Nanti, Ma!”
Soal idealisme, Sumpah Pemuda pun seolah mengalami revisi liar.
“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu” — darah tinggi karena cicilan motor. “Mengaku berbangsa satu” — bangsa yang mendadak amnesia kalau ditagih utang. “Menjunjung bahasa persatuan” —bahasa kode keras di media sosial yang sayangnya tidak pernah dipahami oleh si penerima pesan!
Ini bukan lagi Sumpah Pemuda, melainkan Wacana Pemuda. Janjinya setinggi langit, realisasinya masih menunggu sinyal.
Paling kocak kalau sudah tanggal tua. Mendadak semua jadi pakar ekonomi. Dengan sisa kuota 300 MB dan saldo e-wallet Rp12.000, mereka menyusun strategi bertahan hidup sampai tanggal satu.
Ditanya masa depan? Jawabnya filosofis: “Hidup itu kayak roda, Bro. Kadang di atas, kadang di bawah… kadang di bawah terus!”
Negara pusing mikir inflasi, mereka tetap bisa ketawa lihat dompet sendiri. Itulah Gen Z: mentalnya sekuat baja, dompetnya setipis tisu.
Namun, di balik semua guyonan itu, ada hal penting yang tidak boleh dilupakan. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar kita memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara, termasuk masa muda sebelum masa tua (HR. al-Hakim).
Al-Qur’an menggambarkan pemuda idaman dalam QS. Al-Kahfi ayat 13: “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”
Lihat kisah Mush’ab bin Umair r.a., pemuda tampan, harum, dan kaya yang rela meninggalkan kemewahan demi berdakwah ke Madinah. Kalau dahulu ada duta dakwah, sekarang ada Duta Shopee Affiliate yang rajin menyebarkan tautan keranjang kuning.
Sama-sama menyebarkan sesuatu: yang satu hidayah, yang lain diskon. Tinggal pilih, mau menjadi penyebar yang mana?
Pada Hari Sumpah Pemuda 2026 ini, jangan remehkan generasi muda. Jika pemuda 1928 berjuang dengan bambu runcing, pemuda 2026 berjuang dengan gagasan, karya, dan teknologi digital.
Namun, jangan sampai HP makin pintar, aplikasi makin canggih, tetapi akhlak belum di-update. Percuma punya ribuan pengikut jika tak memberi manfaat.
Selamat Hari Sumpah Pemuda! Gunakan teknologi untuk berkarya dan membangun negeri. Jangan hanya mengejar popularitas, tetapi carilah keberkahan.
Sebab, teknologi adalah alat, akhlak adalah penuntun, dan setiap amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Wallahu a’lam.
28 Oktober 2026 (SK)















