Kok Mati Lampu di Musim Kemarau

0
7

PLN, Apa Kabar? Kok, Mati Lampu di Musim Kemarau

Oleh: Suf Kasman

MAKASSAR sedang dijemur hidup-hidup.

Siang hari panasnya bukan main. Aspal seperti wajan penggorengan tanpa minyak. Keringat mengucur ‘maccolo’-colo’ tanpa henti.

Matahari bekerja lembur, AC meraung kerja keras, dan kipas angin yang dulu cuma aksesori kini naik kasta jadi anggota keluarga paling berjasa, paling diperebutkan, bahkan lebih disayang dari menantu Keddo!

Di tengah sauna gratis se-Kota Daeng itu, tiba-tiba: JEPRET! Gelap. Warga kompak nyeletuk, Astaga! Matahari sudah bikin panas, PLN tambah bikin hangus!”

Harapan masyarakat cuma dua: air jangan macet dan listrik jangan ikut menghilang.
Kalau air mati, kita masih bisa beli galon.

Kalau listrik mati, kipas langsung pensiun mendadak, AC mogok total, kulkas linglung kehilangan jati diri, dan seisi rumah berubah jadi peserta mandi uap gratis.

Anehnya, hobi lampu padam ini muncul di musim kemarau. Sekali padam, durasinya tidak sopan — 4 jam! Dampaknya: aktivitas lumpuh, elektronik bisa mati kena lonjakan arus pas listrik balik, dan makanan di kulkas terancam mabbau tai manu’ (bau bangkai) — padahal baru kemarin diisi 2 ekor ikan Bolu (bandeng) dan kambu paria.

Kalau musim hujan lampu padam, kita masih maklum. Petir lagi mengamuk membelah langit, angin lagi kesurupan, kabel lagi peluk-pelukan mesra sama pohon tumbang sampai tidak mau lepas, lengket kayak perangko. Itu masuk akal, logis, rasional — ada sebab, ada akibat.

Lah sekarang? Langit cerah tanpa cela, matahari terang benderang, petir sudah cuti tahunan, hujan mogok kerja. Tapi listrik tetap padam. Banyak orang menggaruk kepala kendati tidak gatal. Itulah yang disebut Makêrêng-kêrêng!

Kalau musim hujan alasannya cuaca ekstrim, kalau musim kemarau alasannya apa? Halo PLN, apa kabar? Kami di sini sudah matang hampir jadi ikan bakar!

Baru sadar kalau ketakutan terbesar bukan hantu dan setan sumiati, tapi baterai HP yang sisa 2%.

Makan Malam Rasa Interogasi

Paling tragis, beberapa malam lalu. Saya makan di Warung Pangkep Sop Saudara. Makanan sudah terhidang paripurna, selera di puncak Himalaya, ikan Bolu sudah siap dieksekusi dengan posisi duduk andalan: angkat kaki sebelah.

Tiba-tiba: JEPRET! Gelap gulita. Lampu padam, iman diuji.
Oh malê!

Suasana yang tadinya romantis berubah jadi film horor. Sendok masih di tangan, mata lembur mencari di mana kepala ikan, di mana ekornya. Yang saya takutkan, ikan Bolu yang saya pesan di dekatku ada yang tukar anculung alias ikan Mero. Kalau tertukar, rogi bandara’e!

Dalam kondisi begini, kalau ada yang kehilangan potongan balê loppo, jangan buru-buru menuduh teman semeja. Dalam gelap, semua terlihat sama, semua terasa halal. Memang perlu waspada! Karena dalam gelap, ikan Bolu dan sandal swallow (jepit) bisa mirip kalau lapar.

Pemilik restoran sigap, kreatif, dan sedikit panik. Ia lari keluar, menghidupkan Avanzanya, lalu sorot lampu mobilnya langsung ditembak ke meja kami.

Alhamdulillah, meja kembali terang-benderang seperti Stadion Mattoanging mau final PSM vs Persebaya. Terang sekali, sampai noda melekat di baju kelihatan!

Tapi suasananya berubah total. Kami yang tadinya pelanggan, mendadak merasa seperti tersangka. Wajah kami disorot lampu halogen super terang, pori-pori ikan kelihatan jelas, jerawat di jidat ikut tersorot.

Saya hampir bilang, “Pak, kami ini mau makan, bukan mau di-BAP! Jangan disorot begitu, kami bukan pelaku pemadaman! Kami bukan penyelundup 2 karung sabu-sabu, kami cuma penyelundup rasa lapar!”

Makan bagai lari maraton. Tak perlu lagi dikunyah lama, langsung saja ditelan saja.

Puncaknya di kasir. Kasir mau QRIS, listrik mati. Uang cash saya tidak cukup. Dengan wajah pasrah saya sodorkan yang ada. Kasir bilang, “Itu mi saja, Pak.”

Oh! Ternyata ada juga hikmahnya mati lampu! Kalau begini, besok-besok sebelum makan di tempat lain saya mau berdoa khusus lagi: “Ya Allah, matikanlah lampu restoran ini sebentar.” Lumayan, diskon lagi.

Usai makan, jalan keluar harus meraba-raba. Dari kegelapan, seorang laki-laki mendekat pelan. Tanpa baju, kulitnya hitam mengkilap oleh keringat, persis ikan Bolu habis digoreng.

Saya langsung genggam dompet erat-erat, pasang kuda-kuda Jepang, siap pukulan Ambo Jetta. Dalam hati: bos preman kah ini? Kukira bombo’ cilla’ mau menagih!

Ternyata, tukang parkir. Ia mengipas-ngipas tubuhnya yang mengkilap itu dengan potongan kardus, sambil menagih uang parkir dengan santai. Wuadduh! Jantung saya yang hampir copot, rupanya ia hanya meminta lima ribu rupiah.

Langsung saya beri dua puluh ribu. Ia menjawab dengan tenang, “Tidak ada uang kecil untuk kembaliannya, Pak. Lain kali pi.” Langsung semangat saya naik, “Iye!”

Dalam hati saya berteriak: “Menang dua kali saya malam ini! Makan didiskon, parkir disedekahkan!”
Dan dari dua kemenangan dalam gelap-gelapan itulah, saya jadi paham keresahan warga.

Masyarakat Makassar tidak menuntut listrik menyala seumur hidup tanpa pernah padam. Kami paham, mesin juga butuh istirahat, butuh pijatan.

Yang kami minta sebenarnya sederhana saja: Kalau memang mau padam terencana, tolong umumkan dulu. Kalau gangguan mendadak, tolong jelaskan cepat. Kasih tahu jam berapa padam, jam berapa nyala.

Pengumuman begitu sangat berarti. Warung bisa siapkan lilin, pedagang bisa atur jualan, warga bisa cas HP dulu. Jangan sampai kami baru tahu listrik padam setelah kipas sudah berhenti.

Saat itu semua orang langsung jadi ahli kipas: ada yang pakai kardus, ada yang pakai tutup panci, ada yang pakai tagihan listrik — yang pakai tagihan ini bukan tambah sejuk, malah tambah naik darah!

Kita paham, gangguan teknis bisa terjadi. Tapi ingat, komunikasi itu bagian dari pelayanan. Jangan biarkan warga menebak-nebak sendiri. Kalau lampu padam dan info juga ikut padam, prasangka warga nyalanya lebih cepat dari lampu darurat.

Renungan Barzakh

Kita panik saat lampu dunia padam 4 jam, padahal masih bisa dibantu sorot Avanza tetangga. Bagaimana dengan gelapnya alam Barzakh nanti?

Di kubur tidak ada PLN, tidak ada genset. Yang meneranginya bukan token listrik, tapi cahaya shalat dan amal shalih kita. Jangan sampai lampu dunia kita protes saat padam, tapi lampu kubur kita sendiri yang kita biarkan padam.

30 Oktober 2026 (SK)

ddi abrad 1