Al-Wala wal Bara

0
227

Al-wala wal bara, sebuah istilah yang sering kali kita dengar terutama dalam doktrin kelompok-kelompok ekstrim. sebenarnya istilah ini merupakan istilah yang sangat istimewa dalam Islam karena memang ini adalah sesuatu yang mutlak dalam agama kita tetapi yang bermasalah jika istilah ini didistorsi atau dipelintir sehingga memaknainya secara sempit padahal sejatinya istilah ini justru harus menjadi pemicu kekuatan untuk solidaritas kemanusiaan bukan saja terhadap orang-orang muslim tetapi juga sesama manusia secara umum.

Istilah al-wala wal bara tidak begitu popular dikalangan ulama-ulama klasik kecuali setelah penyerangan tentara Mongolia ke khalifaan Islam yang mengakibatkan runtuhnya khilafa Abbasiah. Situasi saat itu memang tidak menentu karena munculnya kesultanan-kesultanan kecil mengakibatkan masyarakat muslim bimbang loyal atau bagaimana terhadap kepemimpinan-kepemimpinan para sultan dimaksud terutama bagi mereka yang dianggap tidak islami lagi, karenanya istilah ini menjadi fokus pembahasan di kalangan para ulama, kemudian menguak kembali dikalangan kelompok-kelompok ekstrim saat ini.

Al-Wala berarti loyalitas dan al-bara artinya tidak loyal atau melepaskan diri dari sesuatu atau dari seseorang atau komunitas tertentu misalnya, dalam Alquran disebutkan bahwa nabi Ibrahim bukanlah dari kelompok mereka yang menyembah matahari. Banyak sekali ayat-ayat yang menyebutkan kata al-bara dalam Al-Qur’an terutama pembebasan dari sesuatu yang bathil artinya orang-orang muslim bukan bagian dari kelompok yang lain dalam hal kebatilan.

Dalam konteks ekstrimisme al-wala wal bara dimaknai sebagai sebuah sikap anti dan loyal artinya anti terhadap mereka yang bukan golongannya apakah dia itu muslim atau bukan muslim termasuk anti terhadap pemerintah yang bukan pilihannya dan sebaliknya loyal terhadap sesama anggota dan atau pemerintah yang dianggap sesuai dengan keyakinannya, misalnya mereka menilai pemerintah di negeri kita bukan pemerintah yang diinginkan karena itu mereka tidak akan loyal bahkan memusuhi. Sebaliknya mereka sangat loyal kepada ISIS karena menganggap pemerintahan ISIS saat itu seperti yang mereka ingikan karena itu mereka melakukan apa saja untuk mendukung ISIS mulai merekrut orang gabung ke ISIS hingga menghimpun dana untuk ISIS karena yang demikian itu bagian dari loyalitas yang harus dipegang erat oleh mereka.

Penafsiran al-wala wal bara seperti ini bukan saja mengakibatkan eksklusivisme dan ekstrimisme tetapi juga mengakibatkan fanatisme.

Dampaknya mereka harus membatasi pergaulan hanya di lingkungan mereka saja bahkan mereka tidak akan belanja di tempat yang bukan ikhwan mereka karena berbelanja di tempat yang bukan ikhwan mereka sama saja mendukung musuhnya karena itu mereka hanya ingin berbelanja di ikhwan-ikhwan mereka termasuk tidak akan tinggal dan bertetangga dengan mereka yang berbeda.

Dengan paham ini mereka mengasingkan diri dari komunitas yang bukan komunitasnya semuanya ini akibat daripada paham-paham tentang al-wala wal bara.

Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin karena itu umat Islam harus menjadi sumber kebaikan dimanapun mereka berada. Orang-orang Islam harus selalu menjadi contoh yang baik dalam segala hal agar Islam betul-betul menjadi rahmatan lil alamin, bukan saja sesama muslim tetapi juga dengan siapa saja sesama manusia kalau misalnya al-wala wal bara dimaknai seperti yang tadi yang saya jelaskan bagaimana mungkin Islam menjadi rahmatan lil alamin bahkan sebaliknya menjadi musibah bagi umat Islam dan umat lainnya.

Dalam Islam tidak ada larangan berinteraksi dengan siapa saja termasuk yang beda agama baik dalam urusan bisnis maupun dalam hal-hal yang sifatnya kepentingan bersama karena nabi juga demikian menjalin hubungan dengan siapa saja termasuk dalam urusan bisnis dengan orang yahudi nasrani dan berinteraksi dengan agama lain dalam urusan yang menyangkut kepentingan bersama.

Jadi al-wala sejatinya dimaknai loyalitas terhadap kebaikan dan al-bara adalah membebaskan diri dari kebatilan atau anti terhadap kebatilan bukan dipersempit seperti yang dipahami oleh kelompok-kelompok tertentu.