PENA ANRE GURUTTA KETUA UMUM PB DDI
Prof. Dr. AG. H. A. Syamsul Bahri Andi Galigo, Lc., M.A.
Editor : Muh. Aydi Syam
بِسْمِ اللّٰهِ الرٌَحْمٰنِ الرٌَحِيْمِ
ANALISIS KITAB USUL AL-‘AQIDAH DAN MANIFESTASI KURIKULUM TARBIYAH AG. H. A. SYAMSUL BAHRI ANDI GALIGO DI DARUD DA’WAH WAL-IRSYAD (DDI)*
Tulisan ini mengkaji corak pemikiran teologis Anregurutta Haji Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri Andi Galigo, Lc., MA., Ketua Umum Pengurus Besar Darud Da’wah wal-Irsyad (PB DDI), yang berfokus pada penguatan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah kontemporer.
Melalui analisis deskriptif-analitis terhadap karya utamanya, Usul al-‘Aqidah fi Daw’ Manhaj Ahli Sunnah (2000), penelitian ini membedah bagaimana prinsip teologi Asy’ariyah diharmoniskan dengan realitas modern demi menangani paham ekstremisme. Lebih lanjut, artikel ini mendiskusikan taktik implementasi pemikiran akidah tersebut ke dalam cetak biru kurikulum institusi pendidikan di bawah naungan DDI.
Hasil kajian ini menunjukkan bahwa gagasan AG. H. Syamsul Bahri Galigo berhasil mentransformasikan doktrin teologi yang abstrak menjadi nilai sosial yang moderat (wasathiyah), integratif dengan tasawuf syar’i, serta selaras dengan pilar kebangsaan Indonesia.
A. Pendahuluan
Eksistensi institusi Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI) di konstelasi Islam Nusantara tidak dapat dipisahkan dari konsistensinya dalam mengawal akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.
Sebagai organisasi sosial-keagamaan terbesar di Indonesia Timur yang didirikan oleh ulama kharismatik tanah Bugis, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle, DDI secara berkesinambungan melahirkan pemikir teologi ulung.
Salah satu tokoh sentral kontemporer yang mereformasi dan memperluas transmisi keilmuan DDI ke ranah internasional adalah Prof. Dr. AG. H. A. Syamsul Bahri Andi Galigo, Lc., MA. Sebagai ilmuwan berlatar belakang Al-Azhar, Cairo dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), AG. H Syamsul Bahri Galigo memadukan tradisi intelektual Timur Tengah dan dinamika sosiologis Asia Tenggara.
Kepemimpinannya sebagai Ketua Umum PB DDI menegaskan urgensi revitalisasi kurikulum berbasis teologi moderat (wasathiyah) di tengah ancaman radikalisme (ekstrem kanan) dan sekularisme (ekstrem kiri).
Meneliti pemikiran akidah beliau bukan hanya sekadar studi tokoh, melainkan upaya sistematis memahami bagaimana DDI menyusun epistemologi pendidikan Islam untuk mempertahankan orisinalitas iman.
B. Pembahasan
1. Konstruksi Teologi Kontemporer dalam Kitab Ushul al-’Aqidah (2000)
Karya monumental beliau yang ditulis di Bangi, Malaysia, berjudul Usul al-‘Aqidah fi Daw’ Manhaj Ahli Sunnah (2000), merupakan jangkar ilmiah teologi beliau.
Buku ini merekonstruksi pemikiran madrasah Asy’ariyah-Maturidiyah agar relevan dengan dinamika pemikiran modern. Berdasarkan telaah teks, terdapat tiga tesis utama yang dibangun oleh AG. H. Syamsul Bahri Galigo di dalam kitab tersebut.
2. Rekonsiliasi Epistemologis Antara Nalar (Aqli) dan Wahyu (Naqli)
AG. H. Syamsul Bahri Galigo menolak dikotomi ekstrem antara teks suci dan akal. Beliau mengajukan argumen bahwa akal adalah instrumen ciptaan Allah yang berfungsi untuk menyingkap kebenaran universal di dalam wahyu, bukan untuk mengadili wahyu.
Konsep ini memoosisikan teologi Aswaja di antara rasionalisme absolut kaum Mu’tazilah dan tekstualisme kaku kaum Hasywiyah.
3. Dialektika Manhaj Tafwidh dan Ta’wil atas Ayat Mutasyabihat
Dalam memandang sifat-sifat Allah yang antropomorfis (ayat mutasyabihat), beliau menjembatani pendekatan ulama Salaf dan Khalaf. Beliau merumuskan:
a. Manhaj Salaf (Tafwidh): Menyerahkan hakikat makna, misalnya kata “Yadullah” sepenuhnya kepada Allah tanpa visualisasi fisik “bila kaifa”.
b. Manhaj Khalaf (Ta’wil): Mengontekstualisasikan makna sesuai dengan keagungan bahasa Arab (misal memaknai “Yad” sebagai simbol kekuasaan atau anugerah).
Beliau berargumen bahwa dalam konteks serangan pemikiran ateisme kontemporer, metode ta’wil yang disiplin diperlukan agar generasi muda Muslim tidak terjebak pada ambiguitas teologis yang menyesatkan.
4. Demarkasi Konsep Takfir (Kafir-Mengkafirkan)
Beliau meletakkan kaidah normatif yang sangat ketat mengenai pelabelan sesat atau kafir. Mengacu pada konsensus Aswaja, beliau menegaskan bahwa siapa pun yang masih mengakui pilar-pilar dasar keimanan (ushul al-iman) dan menghadap ke kiblat yang sama (ahlul qiblah), status keislamannya tetap sah secara hukum syariat.
Hal ini menjadi antitesis bagi gerakan radikal kontemporer yang mudah mengeksklusi kelompok lain dari lingkaran Islam.
5. Pembentengan Akidah terhadap Aliran Ekstrem
Aplikasi teologi dalam pandangan AG. H Syamsul Bahri Galigo bersifat defensif sekaligus ofensif terhadap deviasi ideologis. Hal ini tercermin dari dua karya ilmiah regionalnya yang lain, yakni:
a. Al-Harakah al-Batiniyyah fi Mizan al-Islam (2003): Analisis kritis beliau terhadap aliran kebatinan, mistisisme sinkretis, dan esoterisme ekstrem di Nusantara yang beresiko menggugurkan kewajiban syariat atas nama hakikat spiritual.
b. Anjakan Paradigma Dakwah dalam Menangani Pelampau (2016): Panduan dakwah teologis yang diterbitkan oleh Pusat Pengkajian ASWAJA KUPU SB, Brunei Darussalam.
Kitab ini merumuskan metodologi moderasi teologis untuk meredam infiltrasi gerakan transnasional yang memicu konflik horizontal di Asia Tenggara.
6. Integrasi Teologi Aswaja dan Tasawuf Syar’i
Ciri khas lain dari pemikiran akidah AG. H. Syamsul Bahri Galigo adalah keterikatannya yang kuat dengan pembersihan jiwa. Akidah tidak boleh menjadi perdebatan dialektis (ilmu kalam) yang gersang.
Melalui karyanya, Pemikiran Tasawuf Syaikh Abu Mahasin Yusuf al-Taj al-Makassariy (2011), beliau membuktikan bahwa ketauhidan yang murni dalam Aswaja harus bertumpu pada tasawuf amali (tasawuf yang terikat oleh syariat).
Akidah adalah pondasi, syariat adalah tiang bangunan, dan tasawuf/akhlak adalah atap yang menyempurnakannya.
7. Implementasi Taktis Teologi Aswaja dalam Kurikulum Pendidikan DDI
Sebagai nakhoda PB DDI, AG. H. Syamsul Bahri Galigo merumuskan transformasi teologi teoretis menjadi kurikulum taktis yang diajarkan pada ribuan madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi DDI.
Struktur kurikulum ke-DDI-an diklasifikasikan ke dalam matriks berjenjang untuk membentuk kompetensi santri sebagai berikut:
a. Pembagian Kurikulum Teologis Berdasarkan Jenjang Pendidikan
1) Pendidikan Dasar (MI/MTs): Fokus pada internalisasi tauhid dasar berdasar skema sifat dua puluh karangan ulama Asy’ariyah. Pembelajaran dilakukan secara dogmatis-efektif untuk membentuk karakter spiritual awal yang kokoh.
2) Pendidikan Menengah (Aliyah): Pengenalan terhadap sejarah pemikiran Islam dan ilmu Kalam secara komparatif dan analitis. Santri dilatih mendeteksi penyimpangan ideologis tanpa kehilangan sikap toleransi sosial.
3) Pendidikan Tinggi (Universitas, IAI/STAI DDI): Kajian filsafat Islam, epistemologi Aswaja, dan dekonstruksi pemikiran kontemporer (seperti sekularisme, pluralisme agama, dan radikalisme).
b. Internalisasi Empat Pilar Sikap Kemasyarakatan (Karakteristik Aswaja DDI)
Melalui koridor kurikulum DDI, pemikiran akidah AG. H. Syamsul Bahri Galigo diterjemahkan ke dalam empat karakter utama santri:
1) Tawassuth (Moderat): Mengambil jalan tengah dalam urusan keagamaan, menghindari sikap ekstremitas.
2) Tawazun (Seimbang): Keseimbangan kurikulum antara dimensi ukhrawi (kitab kuning tradisional) dengan dimensi duniawi (sains, teknologi, dan literasi modern).
3) Tasamuh (Toleran): Mengakomodasi dan menghormati tradisi kultural lokal Nusantara selama tidak merusak akidah fundamental.
4) I’tidal (Tegak Adil): Berperilaku proporsional dalam memimpin umat dan menjaga keadilan sosial.
c. Sinkretisme Teologi dan Komitmen Kebangsaan (Hubbul Wathan)
Satu capaian krusial dalam sistem tarbiyah DDI yang dikawal oleh beliau adalah penyatuan antara loyalitas teologis (iman) dan loyalitas kebangsaan (nasionalisme).
Dalam pandangan teologi politik DDI, membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila merupakan implikasi nyata dari keimanan (Hubbul Wathan minal Iman).
Negara yang stabil dan damai dipandang sebagai syarat primer (wasilah) demi terlaksananya syariat agama dengan aman.
C. Kesimpulan
Pemikiran akidah AG. H Syamsul Bahri Galigo mencerminkan kelanjutan mata rantai teologi Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah) yang kontekstual dan dinamis di Asia Tenggara.
Melalui karyanya seperti Usul al-‘Aqidah, beliau memberikan fondasi ilmiah yang kuat mengenai harmoni akal-wahyu serta batasan toleransi teologis.
Di tingkat praktis, pemikiran ketauhidan ini berhasil diterjemahkan secara sistematis ke dalam kurikulum pendidikan Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI), membentuk generasi santri yang berakidah kokoh, berwawasan moderat (wasathiyah), tasawuf berbasis syariat, serta berkomitmen penuh terhadap keutuhan bangsa.
Billahi al-Taufiq wa al-Da’wah wal-Irsyad
DAFTAR PUSTAKA
(Rujukan DDI)
• Usul al-‘Aqidah fi Daw’ Manhaj Ahli Sunnah (2000);
• Al-Harakah al-Batiniyyah fi Mizan al-Islam (2003);
• Pemikiran Tasawuf Syaikh Abu Mahasin Yusuf al-Taj al-Makassariy (2011), serta literatur pendukung pemikiran dakwah dan tarbiyah kontemporer.
_Catatan:_
• Rujukan utama mencakup karya-karya tulis AG. H. Syamsul Bahri Andi Galigo.
• Informasi lengkap mengenai corak pemikiran beliau serta kontribusi ulama Sulawesi Selatan dalam pemikiran kebangsaan dapat diakses melalui publikasi resmi Pengurus Besar Darud Da’wah wal-Irsyad.
وبالله التوفيق والدعوة والإرشاد
Makkah al-Mukarramah, 05 Jum. Ula 1448 H/16 Oktober 2026 M













