TUNTUNAN SHALAT ISTISQA’
[Dikutip dari Imam al-Nawawi al-Syafi’iy dalam al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab]
A. Sebelum Berangkat ke Lapangan
Imam mengingatkan masyarakat agar:
1. Bertaubat dari maksiat;
2. Mengembalikan hak-hak dan meninggalkan kezaliman;
3. Mendamaikan orang yang bermusuhan;
4. Memperbanyak sedekah dan ketaatan;
5. Berpuasa tiga hari sebelum pelaksanaan;
6. Kemudian keluar menuju tempat istisqa’ pada hari keempat dalam keadaan masih berpuasa.
B. Ketika Keluar Menuju Tempat Shalat
Hal-hal yang disunnahkan, di antaranya:
1. Mandi dan bersiwak;
2. Tidak memakai parfum;
3. Tidak berhias atau mengenakan pakaian mewah;
4. Memakai pakaian sederhana;
5. Keluar dengan tawadhu‘, khusyu‘, merendahkan diri dan penuh harap;
6. Berjalan kaki, kecuali ada uzur.
C. Tempat Pelaksanaan Shalat Istisqa’
Tempat yang lebih utama adalah lapangan, bukan masjid. Tidak ada azan dan tidak pula iqamah. Namun disunnahkan menyerukan:
الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ
Seruan tersebut adalah aba-aba pertanda akan dimulainya shalat sunnat secara berjamaah sebagai pengganti iqamah.
D. Shalat Dua Rakaat
Menurut al-Nawawi:
صِفَةُ هَذِهِ الصَّلَاةِ أَنْ يَنْوِيَ صَلَاةَ الِاسْتِسْقَاءِ وَيُكَبِّرَ رَكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَلَاةِ الْعِيدِ
Artinya:
Berniat shalat istisqa’ dan mengerjakan dua rakaat seperti shalat ‘Id.
1. Rakaat Pertama
Urutannya menurut mazhab Syafi‘i yang dijelaskan al-Nawawi adalah:
a. Takbiratul ihram,
b. Membaca doa’ iftitah,
c. Takbir zawa’id (7 kali takbir tambahan),
d. Membaca ta‘awwudz,
e. Membaca al-Fatihah,
f. Membaca surah Qaf
ق ۚ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ ،
g. Kemudian meneruskan shalat sebagaimana biasa.
catatan:
7 takbir tersebut adalah takbir tambahan (zawa’id), bukan termasuk takbiratul ihram.
2. Rakaat Kedua
Setelah berdiri dari rakaat pertama, berikutnya adalah:
a. Membaca 5 takbir zawa’id;
b. Membaca ta‘awwudz;
c. Membaca al-Fatihah;
d. Membaca surah QS al-Qamar
اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ …”
e. Meneruskan shalat sebagaimana biasa.
Catatan:
1. Al-Nawawi secara eksplisit menyebut:
ثُمَّ يُكَبِّرَ سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسَ تَكْبِيرَاتٍ زَائِدَةٍ
Kemudian beliau mengatakan membaca ق pada rakaat pertama dan اقتربت الساعة pada rakaat kedua.
2. Di antara takbir zawa’id, al-Nawawi mengatakan:
وَيَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى بَيْنَ كُلِّ تَكْبِيرَتَيْنِ مِنَ السَّبْعِ وَالْخَمْسِ الزَّوَائِدِ كَمَا سَبَقَ فِي صَلَاةِ الْعِيدِ
Artinya:
Yakni berzikir kepada Allah di antara setiap dua takbir, sebagaimana yang dijelaskan dalam pembahasan shalat ‘Id.
3. Membaca zikir:
سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ
adalah zikir yang dianjurkan dalam fiqih Syafi‘i, bukan berarti ada hadis sahih marfu‘ yang secara khusus menetapkan lafadz tersebut untuk shalat istisqa’.
Namun, dipahami dalam keterangan yang sahih dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi Saw. menunaikan shalat Istisqa’ seperti caranya menunaikan shalat ‘Id.
E. Setelah Shalat Disusul Dua Khutbah
Ini bagian yang tatkala pentingnya adalah berkhutbah dengan 2 khutbah yang dilakukan oleh khatib dengan syarat dan rukunnya yang sempurna. Menurut al-Nawawi:
السُّنَّةُ أَنْ يَخْطُبَ بَعْدَ صَلَاةِ الِاسْتِسْقَاءِ خُطْبَتَيْنِ
Artinya:
Sunnahnya adalah berkhutbah dua khutbah setelah shalat istisqa’.
Dalam khutbah, imam memperbanyak istighfar, do’a meminta hujan, merendahkan diri kepada Allah, memohon agar kesulitan diangkat. Al-Nawawi bahkan menukil do’a yang panjang, antara lain:
1. اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، هَنِيئًا مَرِيئًا، مَرِيعًا غَدَقًا، مُجَلِّلًا طَبَقًا
Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, yang menyegarkan dan menyehatkan yang menyuburkan yang lebat dan melimpah serta merata menutupi seluruh penjuru.”
2. اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ اللَّأْوَاءِ وَالْجَهْدِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya para hamba dan negeri-negeri telah ditimpa kesulitan, penderitaan, kesempitan, dan kesusahan yang tidak kami keluhkan kecuali kepada-Mu.”
Catatan:
Pada khutbah kedua, imam/khatib menghadap kiblat dan membalik rida’ (sorban) dari sisi kanan ke kiri dan sisi kiri ke kanan. Para makmum juga dianjurkan mengikutinya.
• Praktik tersebut merupakan simbol mengharapkan perubahan keadaan dari kekeringan menuju hujan dan dari kesulitan menuju kelapangan.
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
Mangkoso, 05 Rab. Akhir 1448 H
17 Sept. 2026 M
Penulis,
Muh. Aydi Syam














