Al-‘Ujub Menurut Imam Abul Qosim Al-Qusyairi

0
14

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc , MA.

Dalam Kitab Risalah Qusyairiyah karya Imam Abul Qasim al-Qusyairi,

Dinyatakan sifat ‘ujub (bangga diri) dan ghurur (tertipu oleh diri sendiri/keadaan) dibahas sebagai penyakit hati (amradhul qulub) yang sangat berbahaya bagi seorang penempuh jalan spiritual (salik).

Sebagai kitab induk tasawuf, Risalah Qusyairiyah menekankan pentingnya membersihkan batin agar amal ibadah tidak sirna akibat kedua sifat destruktif ini.

Berikut adalah penjelasan konsep ‘ujub dan ghurur dalam perspektif kitab tersebut:

1. Konsep ‘Ujub (Bangga Diri)

Dalam tradisi tasawuf yang dinukil oleh Imam al-Qusyairi, ‘ujub terjadi ketika seseorang melihat amal saleh, ilmu, atau kedudukan spiritualnya berasal dari kehebatan dirinya sendiri, serta melupakan bahwa semua itu murni taufik dan karunia dari Allah SWT.

Inti Bahaya ‘Ujub:
Sifat ini memicu hilangnya rasa butuh (iftiqar) kepada Allah.

Penyakit ini sering kali menyerang para ahli ibadah (‘abid) yang merasa amalnya sudah banyak, sehingga memandang rendah orang lain yang dianggap kurang bertakwa.

Penawar ‘Ujub: Imam al-Qusyairi menekankan pentingnya kesadaran akan tauhid. Seorang hamba harus menyadari bahwa dirinya tidak memiliki daya apa-apa (la hawla wala quwwata illa billah).

Segala kepatuhan, kebaikan, dan pencapaian spiritual adalah ciptaan Allah dan pemberian-Nya semata, bukan karena keistimewaan pribadi hamba tersebut.

2. Konsep Ghurur (Tertipu)

Ghurur adalah kondisi mental di mana seseorang merasa aman atau merasa dirinya berada di jalan yang benar, padahal ia sedang tertipu oleh kesenangan semu atau angan-angan kosong.

a) Bentuk-Bentuk Ghurur:

1) Tertipu oleh dunia:

Menganggap kenikmatan duniawi sebagai bukti kecintaan Allah kepadanya.

2) Tertipu oleh amal:

Merasa pasti masuk surga atau terjamin keselamatannya hanya karena rajin beribadah, tanpa memikirkan apakah amalnya diterima atau justru dinodai riya.Tertipu oleh ampunan Allah: Sengaja terus-menerus berbuat maksiat sambil berkata, “Allah Maha Pengampun,” tanpa mau bertobat dengan sungguh-sungguh.

b) Pandangan Sufi:
Sifat ghurur membuat seorang salik berhenti berproses atau merasa puas dengan maqam (tingkatan spiritual) yang rendah, sehingga menghalangi mereka untuk mencapai kedekatan yang sejati dengan Allah.

Untuk mengobati penyakit ‘ujub dan ghurur, Imam al-Qusyairi mengarahkan pembaca pada beberapa prinsip dasar tasawuf, di antaranya:

1) Ikhlas dan Khauf (Takut):

Selalu mengoreksi niat ibadah dan memelihara rasa takut kalau-kalau amalnya ditolak karena cacat yang tersembunyi.

2) Muhasabah (Introspeksi):

Meneliti setiap lintasan hati agar tidak ada rasa bangga yang menyelinap saat dipuji orang lain atau saat berhasil melakukan ketaatan.

3) Fana’ dari Amal:

Memandang amal bukan sebagai kartu pas ke surga, melainkan sebagai bentuk pelayanan dan syukur seorang hamba kepada Tuhannya.

Penawar penyakit ‘ujub dan ghurur dalam Kitab Risalah Qusyairiyah,

lengkap dengan maqam-maqam spiritual dan petuah dari para tokoh sufi klasik yang dinukil oleh Imam al-Qusyairi:

Maqam Khauf (Rasa Takut) sebagai Obat Ghurur

Ghurur membuat seseorang merasa aman dari murka atau ujian Allah karena merasa amalnya sudah cukup.

Menurut ajaran tasawuf dalam kitab ini, penawarnya adalah mendaki maqam khauf.

Imam al-Qusyairi menukil kisah berharga untuk menggambarkan bagaimana rasa takut harus dipelihara agar tidak tertipu oleh status kesalehan:

Dikatakan bahwa Nabi Isa AS sedang bepergian dan bersamanya ada seorang saleh dari Bani Israel. Seorang pendosa yang terkenal karena kejelekan akhlaknya mengikuti mereka.

Duduk agak jauh dari mereka berdua, si pendosa berseru kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati:

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku! ”

Di saat yang sama, si orang saleh merasa terganggu dan berdoa:

“Ya Allah, bebaskan aku dari orang berdosa yang mengikutiku ini, mulai besok pagi.

“Kisah di atas menjadi peringatan keras bagi para salik agar tidak tertipu oleh pakaian kesalehan lahiriah yang justru memicu kesombongan batin.

Konsep Fana’ dan Menyaksikan Ketauhidan (Penawar ‘Ujub)

‘Ujub muncul karena seorang hamba merasa bahwa kebaikan dan ketaatan tegak karena andil kekuatan dirinya.

Dalam Risalah Qusyairiyah, penawar ‘ujub diuraikan melalui konsep tauhid yang murni dan kesadaran batin.

Pernyataan Al-Junaid al-Baghdadi:

Tokoh sufi agung, Imam al-Junaid, dalam bab ma’rifat menyatakan bahwa hajat hikmah pertama yang dibutuhkan oleh seorang hamba adalah menyadari batas pemisah yang tegas antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk.

Ketika makhluk menyadari sifat kebaharuannya yang lemah, ia akan “merasa hina ketika dipanggil oleh-Nya dan mengakui kewajiban taat kepada-Nya” tanpa menyisakan ruang bagi rasa bangga diri (‘ujub).

Keseimbangan Khauf dan Raja’: Al-Junaid juga menjelaskan bagaimana ia mengelola gejolak rasa di dalam hatinya agar terhindar dari penyakit batin:

Dengan konsep ini, ketika seorang hamba merasakan qabdh (ketegangan spiritual), ia diselamatkan dari ghurur.

Sebaliknya, ketika ia merasakan basth (kelapangan), ia diarahkan untuk bersyukur, bukan untuk ‘ujub.

Billahi Taufiq wa Da’wah wal-Irsyad

ddi abrad 1