Menyembuhkan Penyakit Cinta Dunia Harta Dan Kedudukan

0
50

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Riyadhatun Nafs: Metode Terapi Spiritual Imam Al-Ghazali Menyembuhkan Penyakit Cinta Dunia, harta dan kedudukan.

Dalam karyanya al- Arbain fi usuliddin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa hati manusia pada dasarnya diciptakan dalam keadaan suci dan bersih.

Namun, interaksi yang salah dengan kehidupan dunia dapat mengotori hati melalui penyakit-penyakit batin.

Penyakit utamanya adalah hubbud dunya (cinta dunia), yang kemudian melahirkan cabang-cabang destruktif seperti hubbul mal (cinta harta) dan hubbul jah (cinta kedudukan).

Untuk menyembuhkan penyakit-penyakit kronis tersebut, Imam Al-Ghazali menawarkan sebuah konsep terapi spiritual sistematis yang disebut Riyadhatun Nafs (latihan jiwa) atau Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa).

– Hakikat Penyakit Hati yang Harus Diobati
Sebelum masuk ke dalam metode pengobatan, penting untuk memahami tiga akar penyakit hati yang saling berkaitan ini:

1. Hubbud Dunya (Cinta Dunia): Menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup, bukan sekadar sarana menuju akhirat. Hati yang terpikat oleh dunia akan melupakan kematian dan mengabaikan persiapan bekal setelah mati.

2. Hubbul Mal (Cinta Harta): Keinginan tak berdasar untuk menimbun kekayaan materi. Sifat ini melahirkan ketamakan (thama’) dan kekikiran (bakhil).

3. Hubbul Jah (Cinta Kedudukan/Popularitas): Ambisi batin agar dihormati, dipuji, dan memiliki pengaruh atas orang lain.

Imam Al-Ghazali menyebut ini sebagai penyakit yang paling halus dan paling menghancurkan karena memicu kemunafikan (riya’).

– Prinsip Dasar Riyadhatun Nafs: Al-Ilaj bil-Dhid
Prinsip utama riyadhatun nafs yang dirumuskan Imam Al-Ghazali adalah Al-Ilaj bil-Dhid, yaitu mengobati penyakit dengan sesuatu yang berlawanan dari penyakit tersebut.

Konsep ini serupa dengan dunia medis, di mana penyakit akibat suhu dingin diobati dengan zat yang menghangatkan.

Dalam dimensi spiritual, jika jiwa cenderung pada satu maksiat, ia harus dipaksa secara konsisten untuk melakukan ketaatan yang menjadi lawan dari maksiat tersebut hingga menjadi sebuah kebiasaan baru (malakah).

Metode Praktis Pengobatan Berdasarkan Jenis Penyakit

– Terapi untuk Menyembuhkan Hubbud Dunya

* Dzikrul Maut (Mengingat Kematian): Melatih pikiran secara rutin untuk merenungkan kepastian mati. Mengingat bahwa seluruh kemewahan akan ditinggalkan dapat memutus rantai keterikatan hati pada dunia.

* Tafakur Hakikat Dunia: Menyadari secara logika dan iman bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara (jembatan menuju akhirat).

Dunia diibaratkan seperti air laut; semakin diminum, semakin membuat haus.

* Qashrul Amal (Memangkas Angan-angan): Membatasi khayalan masa depan yang terlalu jauh terkait kemewahan duniawi, sehingga fokus jiwa beralih pada pemanfaatan waktu hari ini untuk beribadah.

– Terapi untuk Menyembuhkan Hubbul Mal

* Sedekah Ekstrem (Memaksa Diri Berbagi): Cara menyembuhkan kikir adalah dengan memaksa tangan mengeluarkan harta.

Jika hati merasa berat untuk bersedekah, di situlah latihan harus ditingkatkan hingga memberi menjadi sebuah ketenangan.

* Gaya Hidup Qana’ah: Melatih diri untuk merasa cukup dengan apa yang ada dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

* Melihat ke Bawah: Dalam urusan materi, Al-Ghazali menekankan pentingnya melihat orang yang lebih miskin agar memicu rasa syukur dan mengikis sifat kufur nikmat.

– Terapi untuk Menyembuhkan Hubbul Jah:

* Khumul (Menyembunyikan Amal): Melatih diri melakukan kebaikan secara sembunyi-sembunyi yang hanya diketahui oleh Allah (seperti shalat malam atau sedekah rahasia) untuk mematikan keinginan dipuji makhluk.

* Menerima Celauan dan Kritik: Sengaja menempatkan diri dalam kondisi di mana ego kita diturunkan, contohnya bersedia melakukan pekerjaan-pekerjaan rendah atau menerima kritikan orang lain dengan lapang dada untuk menghancurkan kesombongan.

* Al-Uzlah (Isolasi Mandiri dari Popularitas): Menjauhkan diri sejenak dari panggung perhatian publik atau komunitas yang cenderung memberikan pujian berlebihan yang bisa meracuni keikhlasan hati.

– Empat Tahap Manajemen Pelaksanaan:

1. Musharahah (Menentukan Syarat/Komitmen)
Dilakukan pada pagi hari setelah shalat Shubuh. Seseorang membuat perjanjian dengan dirinya sendiri.

Katakan pada jiwa: “Hari ini adalah modal hidupku yang baru. Aku berjanji tidak akan menggunakan anggota tubuhku untuk maksiat dan tidak akan mencari pujian manusia.”

2. Muraqabah (Pengawasan Diri)
Sepanjang hari, seseorang harus bertindak sebagai pengawas bagi dirinya sendiri.

Setiap kali terdeteksi ada niat pamer (riya’) saat beramal atau muncul sifat kikir saat melihat orang kesusahan, hati harus segera diingatkan pada komitmen pagi.

3. Muhasabah (Evaluasi/Audit Diri)
Dilakukan pada malam hari sebelum tidur. Seseorang mengaudit seluruh perbuatan yang dilakukan sejak pagi.

Apakah ada hak Allah yang dilanggar? Apakah hati hari ini terjangkit cinta dunia? Tahap ini seperti seorang pedagang yang menghitung untung-rugi usahanya.

4. Mu’aqabah (Pemberian Sanksi)
Jika dalam tahap muhasabah ditemukan pelanggaran atau kelalaian, maka ia wajib memberikan sanksi yang mendidik kepada jiwanya sendiri.

Misalnya, jika hari ini melewatkan sedekah karena pelit, sanksinya adalah menghukum diri dengan menyedekahkan harta yang paling dicintai, atau menggantinya dengan puasa sunnah.

– Tanda-Tanda Keberhasilan Riyadhatun Nafs
Jiwa yang telah berhasil melalui proses riyadhatun nafs secara konsisten akan menunjukkan perubahan perilaku dan kondisi batin, antara lain:

* Zuhud yang Proporsional: Harta dan dunia berada di genggaman tangan untuk dikelola, namun tidak masuk ke dalam hati hingga mengendalikan emosi.

* Ketenangan Jiwa (Thumaninah): Tidak lagi cemas kehilangan dunia dan tidak lagi gila terhadap pujian orang lain. Pujian dan cercaan manusia terasa sama saja baginya.

* Ikhlas: Seluruh orientasi hidup, ibadah, dan pekerjaan bergeser sepenuhnya demi mencari keridaan Allah (lillahi ta’ala).

Riyadhatun nafs bukanlah proses instan yang selesai dalam satu atau dua hari, melainkan perjuangan seumur hidup (jihadun nafs) yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan bimbingan ilmu yang benar.

– Wallahu Waliyu Da’wah wal-Irsyad

ddi abrad 1