BAGAIMANA MEMILIKI AKHLAK MULIA
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)
“Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.
Dalam ayat di atas Allah SWT. menjelaskan bahwa jiwa manusia telah dilengkapi dengan dua jenis potensi; yaitu potensi menjadi jahat dan potensi menjadi baik, berbahagialah orang yang menyucikan jiwanya dan merugi serta kecewa orang yang mengotori jiwanya.
Inilah hakikat jiwa manusia yang tidak dapat dipertikaikan oleh siapa pun memandangkan kenyataan ini datangnya daripada pencipta manusia itu sendiri yaitu Allah SWT.
Untuk memudahkan memiliki akhlak mulia, Maskawaih memperkenalkan beberapa istilah sebagai panduan untuk memiliki akhlak mulia.
Istilah-istilah yang digunakan oleh Maskawaih yang diambil daripada ahli falsafah Barat seperti Aristotle dan Aristo ialah
al-Quwwah al-Natiqah,
al-Quwwah al-Shahwiyyah dan
al-Quwwah al-Ghadabiyyah atau al-Sabuiyyah.
Semua manusia memiliki tiga jenis kekuatan ini, untuk memiliki akhlak mulia seseorang itu mestilah tahu (hikmah, falsafah) kekuatan yang mana perlu diberi keutamaan untuk mengendalikan diri dan jiwa agar akhlak mulia mudah diwujudkan.
Tanpa ilmu (hikmah, falsafah) adalah puncak utama sukarnya muncul akhlak mulia atau seringnya timbul akhlak buruk dari seorang individu.
Oleh yang demikian, imam Ghazali mengatakan ilmu dan hikmah adalah ciri-ciri utama manusia.
Dan ilmu yang paling mulia ialah ilmu mengenal Allah SWT, sifat-sifat dan perbuatan Nya, disitu wujudnya kesempurnaan manusia, dalam kesempurnaannya wujud kebahagiannya dan kesesuaiannya serta kelayakannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Persoalannya, sejauh mana manusia sanggup mengembangkan ilmu yang dimiliki setelah mengetahui bahwa langkah awal untuk memiliki akhlak mulia ialah ilmu (hikmah, falsafah).
Ditulis oleh Prof. Dr. H. Muh. Yusuf Khalid















