Aku Gembira Menyambut Ramadhan: Catatan Seorang Hamba
Oleh: Suf Kasman
Aku tersentak membaca Sunnah mulia-Nya, gema titah Rasulullah ﷺ:
“Mudahkan, jangan menyiksa; beri kabar gembira, jangan membuat manusia lari.”
Sejak itu aku mengerti, utusan Tuhan hadir membawa aneka kegembiraan—bukan teror ketakutan, bukan ancaman batin menyesakkan dada.
Kukatakan pada jiwaku, atas karunia-Nya, kegembiraan menjelang Ramadhan pantas dirayakan, bahkan melampaui hitungan nalar dunia.
Getarnya kurasa lebih kuat dari syahwat sesaat, lebih dalam dari sorak kemenangan arena laga.
Baru kini kusadari, ulama salaf memanjatkan doa enam bulan demi satu detik perjumpaan dengan Syahrul Mubarak:
“Ya Allah, sampaikan Aku ke Ramadha.”
Kerinduan itu sendiri menjadi ibadah, tanda bahwa menyambut Ramadhan dengan gembira adalah kemuliaan ruhani.
Fajar Ramadhan mulai terasa mendekat.
Keyakinanku menguat: kegembiraan menyambutnya menjadi sebab perlindungan dari api neraka.
Janji langit itu telah lama kuterima, jauh sebelum dahi kembali menyentuh sajadah sunyi.
Aku ingin menyambut Ramadhan 1447 H sebagai Hadiah Agung—tanpa balutan gemerlap dunia.
Kuterima ia sebagai anugerah dari Arsy: pembebasan dari belenggu nafsu dan harapan menuju Jannatul Firdaus.
Pengalaman tahun-tahun lalu menjadi saksi: Ramadhan meruntuhkan sekat sosial.
Mukmin saling menyuapi sesama mukmin, pedagang non-Muslim pun tersenyum melihat rezeki mengalir.
Bagiku, ia bukan sekadar putaran waktu, melainkan penjaga suci dari jalan menuju azab.
Aku memilih menyongsong bulan suci Ramadhan dengan damai.
Keyakinanku sederhana: pikiran lurus, dakwah terus berjalan, ruang kuliah tetap hidup; selebihnya, hasil akan menemukan jalannya sendiri.
Kegembiraan melahirkan senyum, dan sering kali senyum itulah pintu pertama menuju kegembiraan sejati.
Saudaraku, semakin kita bergembira menyambut Ramadhan, semakin utuh rasa hidup ini.
Aku merasa kecil, seperti debu di tengah cahaya luas.
Saat mengucap “ya” pada undangan Tuhan, aku hanyalah cermin sederhana, mencoba memantulkan cahaya-Nya agar jiwa-jiwa letih menemukan tempat bernaung.
Kini aku memahami tingkat kegembiraan.
Ada gembira pribadi saat melewati ujian dunia.
Ada gembira bersama saat ibadah dirayakan ramai-ramai.
Namun di atas semuanya, ada kegembiraan tertinggi:
saat tabir dunia tersingkap,
saat pandangan bertemu wajah Allah tanpa penghalang.
“Wajah-wajah (orang mukmin), pada hari itu berseri
Kepada Rabnyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22–23)
Syahdan, dua keberuntungan kukunci dalam hidup ini: gembira kala Maghrib membasahi kerongkongan, dan kegembiraan agung saat ruh kembali kepada Sang Pencipta—dalam keabadian tanpa batas.
13 Februari 2026 (SK)















