Isra’ Mi’raj: Boarding Pass Shalat Dari Arsy
(Bagian Terakhir Dari 2 Tulisan)
Oleh: Suf Kasman
Isra’ Mi’raj adalah touchdown keberkahan di pelataran iman. Nabi ﷺ melintasi terminal duniawi menuju departure langit tertinggi guna menerima hadiah Nobel ‘Shalat’ dari Sang Pencipta semesta alam.
Langit bukan lagi dongeng, melainkan apron pendidikan iman. Melalui garbarata ketaatan, setiap hamba kini bisa terhubung langsung dengan ‘Pusat Kontrol Jagat Raya’ lewat shalat.
Usai menuntaskan spiritual climbing menembus tujuh lapis langit dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Sang Pengelana Agung Nabi ﷺ melakukan descent menuju pendaratan sempurna di runway bumi.
Beliau “Pilot Risalah” pemegang kendali cockpit pesawat Islam, tidak kembali dengan tangan hampa. Beliau membawa “oleh-oleh” utama: shalat lima waktu.
Shalat inilah VIP Bags (bagasi VIP) istimewa sekaligus amanah abadi penjaga hubungan spiritual dengan-Nya. Bagi umatnya, bagasi langit hasil Isra’ Mi’raj ini adalah Boarding Pass mutlak menuju surga.
Saat kaum Quraisy menebar turbulensi dusta atas perjalanan Isra’ Mi’raj ini, Abu Bakar berdiri tegak laksana Menara ATC (Air Traffic Controller) kokoh. Beliau memberikan izin landas bagi kebenaran tanpa ragu hingga gelar Ash-Shiddiq bertahta.
Kini, saat dunia fana berteriak mayday akibat kehilangan kompas moral, Shalat hadir sebagai radar presisi penunjuk keselamatan. Shalat berfungsi sebagai penghubung, penenang jiwa, serta pembeda antara Muslim dan kafir.
Shalat adalah penghulu ibadah—penghalau segala Prohibited Items (Barang terlarang dilarang masuk kabin) berupa penyakit hati. Namun, mengapa ada orang rajin Shalat tapi gemar juga berdosa? Sebab, ia hanya asal melakukan check-in menutupi kewajiban belaka tanpa penghayatan jiwa.
Cabin jiwanya kosong dari khusyuk, panduan niatnya terdistorsi hawa nafsu. Baling-baling spiritualnya rapuh, gagal mendeteksi Contraband berupa godaan duniawi meski rutin mendirikan Shalat.
Misalnya, masuk Warkop Daeng Tola makan Sanggara Balanda lima ditambah Bolu Peca’ empat, namun lapor hanya tiga. Daftar manifest kejujurannya palsu di hadapan Sang Pengawas Semesta.
Kejujuran menguap di antara aroma kopi; seketika berubah menjadi bara api pemanggang kehormatan sesama lewat kepulan asap rokok. Inilah fenomena dangerous goods dalam ibadah.
Mereka sebagian umat Nabi ﷺ ingin landing di pelataran surga, sementara radar moralnya mati total walau tampak melakukan Shalat. Sungguh ironis, “bagasi” dosanya justru bertambah berat usai melakukan pendaratan di warung gosip.
Shalat itu sejatinya Mi’raj orang beriman; pengantar jiwa melakukan take off spiritual, bukan sekadar gerak fisik sunyi nan hampa.
Dalam shalat, lima rukun Islam melebur dalam satu waktu.
Syahadat terucap, puasa terjaga dalam senyap, sedekah mengalir lewat zikir, dan hakikat haji terlaksana saat wajah khusyuk menghadap Kiblat. Seluruh rukun itu serta-merta tertunaikan saat hamba bersujud dalam shalat.
Tanpa shalat, seluruh amal kehilangan kepala ‘kebaikan’—pusat kendali identitas diri. Sama kedudukannya lima panca indera—mata, telinga, hidung, lidah—semua berpusat di kepala.
Jika ada jasad hanyut di Sungai Je’neberang tanpa kepala, siapa sanggup mengenali identitasnya? Begitu pula di akhirat kelak; mereka dulunya enggan shalat tak memiliki “kepala” kebaikan sebagai penanda iman.
Sang Nabi ﷺ pun akan sulit mengenali wajah hamba tanpa pendar-pendar cahaya sujud memancar sebagai identitas shalat.
Ala Kulli hal, ada pula ber-KTP Muslim tanpa shalat; mereka musafir tanpa wajah di hadapan Sang Pencipta.
Itu terjadi di kutub nun jauh di sana, kalau di sini Insya Allah… ‘sama’.
Iman tak butuh izin logika manusia; ia hanya menuntut ketundukan di dermaga kepasrahan.
Sebab pada akhirnya, Isra’ Mi’raj bukan sekadar sejarah perjalanan Nabi ﷺ, melainkan sumber ‘Boarding Pass’ utama bagi setiap hamba.
Hikmahnya mengajarkan bahwa sejauh apa pun manusia merantau sebagai Musafir, landing di atas sajadah shalat adalah satu-satunya jalan ‘Pulang’ paling indah menuju Arsy-Nya.
Jumat, 27 Rajab 1447 H. (SK)














